BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Tujuan utama pendidikan prasekolah
adalah membantu anak didik mengembangkan berbagai potensi baik psikis dan fisik
yang meliputi moral dan nilai-nilai agama, sosial emosional, kognitif, bahasa,
fisik/motorik, kemandirian dan seni untuk siap memasuki pendidikan dasar
(Puskur, 2003). Berkaitan dengan hal tersebut, ada beberapa fungsi pendidikan
pra sekolah, yang mana salah satu diantaranya adalah untuk menyiapkan anak
didik memasuki pendidikan dasar. Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa selain
bertujuan dan berfungsi untuk menstimulasi tumbuh kembang anak, pendidikan
pra-sekolah sesungguhnya juga berperan penting untuk mengembangkan kesiapan
anak didik dalam memasuki pendidikan sekolah dasar.Hasil penelitian yang
dikemukakan oleh Wylie (1998) menunjukkan bahwa anak-anak yang mengikuti
pendidikan pra-sekolah memperlihatkan prestasi belajar yang lebih baik di
sekolah dasar dibandingkan dengan murid-murid yang tidak mengikuti pendidikan
pra-sekolah. Menurut Wylie (1998), beberapa penelitian bahkan menunjukkan bahwa
murid-murid mendapatkan manfaat yang lebih besar bila pendidikan pra-sekolah
itu sudah dimulai sebelum umur tiga tahun (umur dimulainya pendidikan
pra-sekolah di kebanyakan negara). Sebagaimana juga ditunjukkan oleh hasil
penelitian mutakhir di Selandia Baru, bahwa anak-anak yang mengalami paling
tidak tiga tahun pendidikan pra-sekolah memperlihatkan skor yang lebih tinggi
pada tes kompetensi dibanding sebayanya pada usia 10 tahun (Wylie dan Thompson,
2003). Secara umum, menurut Stipek dan Ogawa (Kagan dan Hallmark, 2001),
program-program pra-sekolah ditemukan memberikan manfaat jangka pendek maupun
jangka panjang, seperti prestasi akademik yang lebih tinggi, angka tinggal
kelas yang lebih rendah, angka kelulusan yang lebih tinggi, dan angka kenakalan
yang lebih rendah dikelak kemudian hari. Berdasarkan beberapa hasil penelitian
sebagaimana dikemukakan di atas, dapat disimpulkan bahwa, sesungguhnya selain
berfungsi untuk menstimulasi dan mengoptimalkan tumbuh kembang anak, pendidikan
pra-sekolah juga memiliki pengaruh yang cukup besar terhadap kesiapan anak
dalam memasuki jenjang pendidikan sekolah dasa
B. Rumusan Masalah
1.
Bagaimana perkembangan jasmani dan psiko-motorik anak
usia pra sekolah dan anak sekolah ?
2.
Bagaimana emansipasi anak usia pra
sekolah dan anak sekolah karena pendidikan formal ?
3.
Bagaimana perkembangan sosial dan
kepribadian anak usia pra sekolah dan anak sekolah ?
4.
Bagaimana perkembangan kognitif pada anak usia pra sekolah dan anak sekolah ?
5.
Bagaimana intelligensi serta
keberhasilan anak usia pra sekolah dan anak sekolah di sekolah ?
6.
Bagaimana Permasalahan stimulasi
Perkembangan Kompensatoris anak usia pra sekolah dan anak sekolah ?
7.
Bagaimana Anak-anak dengan kecerdasan
tinggi?
C. Tujuan
Berdasarkan
rumusan masalah diatas, maka tujuan pembahasan yang ingin dicapai adalah
sebagai berikut:
·
Mengetahui perkembangan jasmani dan
psiko-motorik anak usia pra sekolah dan sekolah.
·
Mengetahui emansipasi anak usia pra
sekolah dan sekolah karena pendidikan formal
·
Mengetahui perkembangan sosial dan
kepribadian anak usia pra sekolah dan sekolah
·
Mengetahui perkembangan kognitif pada
anak usia pra sekolah dan sekolah
·
Mengetahui intelligensi serta
keberhasilan anak usia pra sekolah dan sekolah di sekolah
·
Mengetahui Permasalahan stimulasi
Perkembangan Kompensatoris anak usia pra sekolah dan sekolah
BAB II
PEMBAHASAN
ANAK PRA-SEKOLAH DAN ANAK SEKOLAH
A.
Perkembangan
Jasmani dan Psiko-Motorik
Sampai dengan Gestaltwandel
pertama(zaller, 1952: Hetzer, 1961) sekitar umur 6 tahun terlihat bahwa badan
anak bagian atas lebih lamban berkembangnya daripada badan bagian bawah.
Anggota-anggota badan masih relatif pendek, kepala relative besar dan ada gigi
susu. Sesudah Gestaltwandel pertama bila anak sudah mencapai bentuk orang
dewasa daripada misalnya anak umur 2 tahun. Bertambahnya berat badan sebagian
besar merupakan akibat bertambahnya jaringan urat daging. Dalam keseluruhannya
maka keadaan jasmani anak menjadi lebih stabil dan lebih kuat.
Sebagai akibat
bertambahnya diferensiasi myelinisasi (myeline= suatu zat seperti lemak dalam
sungsum tulang belakang dan urat syaraf)dalam susunan urat syaraf maka
kecakapan-kecakapan motorik bertambah banyak. Pada umur 5 tahun keseimbangan
badan anak sudah berkembang cukup baik, anak sudah pandai berjalan, dapat naik
tangga, melompat dari tanah dengan kedua kakainya bersam-sama dan sering juga
sudah dapat bersepeda.
Sesudah
Gestaltwandel pertama, jadi sesudah usia
6 tahun, pertumbuhan badan agak lambat daripada waktu-waktu sebelumnya. Sampai
umur 12 tahun anak bertambah panjang 5 sampai 6 cm tiap tahunnya. Sampai umur
10 tahun dapat dilihat bahwa anak laki-laki agak lebih besar sedikit daripada
anak perempuan, sesudah itu maka wanita lebih unggul dalam panjang badan,
tetapi sesudah kurang lebih 15 tahun anak laki-laki mengejarnya dan tetap
unggul daripada anak wanita.
Berat
badan anak bertambah lebih banyak daripada panjang badannya. Pada akhir periode
ini diketemukan lebih banyak perbedaan individual di antara anak-anak, sekarang
Nampak lebih banyak perbedaan-perbedaan fisik yang khas daripada dulu.
Seperti
telah diketemukan di muka maka pada permulaan masa sekolah, jadi sekitar 6
tahun kaki dan tangan menjadi lebih panjang, dada dan panggul lebih besar.
Dalam hal ini hamper tidak ada perbedaan-perbedaan karena jenis seks. Pada
umumnya ada ralasi yang tepat dalam perkembangan tulang-tulang dan
jaringan-jaringan. Dengan terus bertambahnya berat dan kekuatan badan dapat
diharapkan kemampuan-kemampuan seperti lari, meloncat dan melempar akan
bertambah dalam masa ini. Dari itu juga Nampak anak-anak makin bertambah cepat
larinya. Dalam hal ini sekali lagi adap perbedaan-perbedaan disetiap anak.
Pada
usia 6 tahun keseimbangan badannya relative berkembang baik. Penguasaan badan seperti
membongkok, melakukan berbagai macam latihan senam dan aktivitas olahraga
berkembang pada masa sekolah. Juga berkembang kordinasi mata-tangan
(visio-motorik) yang dibutuhkan untuk membidik, menyepak, melempar dan
menangkap.
Kekuatan
badan dan kekuatan tangan pada anak laki-laki sangat bertambah antara usia 6
sampai 12 tahun. Dalam masa ini juga ada
perubahan-perubahan dalam sifat dan frekuensi motorik kasar dan halus. Ternyata
bahwa kecakapan-kecakapan motorik ini makin
disesuaikan dengan “keleluasaan” lingkungan. Gerakan-gerakan motorik sekarang
makin tergantung daripada aturan-aturan formal dan aturan-aturan yang telah
ditentukan dan bersifat kurang sepontan. Gerakan-gerakan yang sangat banyak
dilakukan oleh anak makin berkurang pada masa ini.
Hal
yang perlu selalu dibicarakan adalah gejala bentuk badan yang dianggap
mempunyai hubungan yang langsung dengan beberapa sifat kepribadian tertentu.
Sheldom membuat pembagian ke dalam 3 macam tipe, yaitu
1. Endomorph(pendek
dan gemuk)
2. Ektomorf(panjang
dan kurus)
3. Mesomorf(urat-urat
daging kuat dengan proporsi yang baik)
Verdonk(1972) berusah
untuk membenarkan typology konstitusi tubuh shaldom tersebut dengan penelitian
yang mendalam terhadap anak-anak yang ada dalam yayasan-yayasan. Verdonck
menemukan adanya hubungan antara tipe konstitusi tubuh tadi dengan tingkah laku
– tingkah laku tertentu. Ia menunjukkan adanya hubungan sebab akibat langsung
antara bentuk tubuh dan tingkah laku tangan. Dia dapat menunjukkan bahwa
type-type tersebut mempunyai pre-disposisi untuk belajar tingkah laku –tingkah
laku tertentu. Jadi dapat disimpulkan di sini bahwa suatu type tertentu tadi
tidak langsung berhubungan dengan suatu tingkah, melainkan mempunyai lebih
banyak kemungkinan untuk mengembangkan beberapa bentuk tingkah laku tertentu.
Hal tersebut dianggap tidak hanya dapat terjadi pada orang dewasa, melainkan
sudah memegang peran penting dala masa kanak-kanak dalam anak belajar tingkah
laku.
B.
Emansipasi
Karena Pendidikan Formal
Sejak lama kriteria
bagi anak untuk dapat diterima di sekolah adalah “kemasakan” dahulu sebelum ia
diterima di sekolah dasar. Bagi Indonesia kriteria umur memegang peranan
penting. Anak baru bisa diterima bila ia sudah mencapai umur 7 tahun. Kriteria
umur ini sebetulnya mencakup kriteria lain yang juga berhubungan dengan
kemasakan, yaitu:
1. Anak
harus dapat bekerjasama dalam kelompok dengan anak lain, yaitu anak tidak boleh
masih tergantung pada ibunya, melainkan harus dapat menyesuaikan dirinya dengan
kelompok teman-teman sebayanya.
2. Anak
harus dapat mengamati secara analitik. Ia harus sudah dapat mengenal bagian-bagian
dari keseluruhannya dan dapat menyatukan kembali bagian-bagian tersebut.
3. Anak
secara jasmaniah harus sudah mencapai bentuk anak sekolah. Petunjuk untuk ini
adalah kalau sudah dapat memegang telinga kirinya dengan tangan kanan melalui
atas kepalanya.
Kriteria
apapun yang akan dipilih namun selalu ada yang bersifat “sekehendak”. Kalau dilihat kepandaian saja,
sebetuknya sangat mungkin kalau anak-anak umur 3 atau 4 tahun sudah masuk
sekolah asal kriterianya diubah dan dikdaktiknya disesuaikan. Misalnya tekhnik
membaca sudah dapat diajarkan pada anak-anak umur 3 tahun, asal dipakai
cara-cara yang tepat. Namu mengajari anak membaca sebelum waktunya juga
mempunyai segi-segi negatif, misalnya:
1. Seringkali
anak diberi pelajaran membaca pada waktu sangat muda untuk memuaskan kebanggaan
orang tuanya.
2. Kalau
anak mengerti bahwa ia sudah mengerti apa yang akan dipelajarkan di kelas satu
hal itu akan menurunkan motivasi belajarnya dan menyebabkan sikap yang negatif
terhadap tugas-tugas yang harus diakukannya.
Suatu
masalah yang khusus dalam hubungan ini
adalah mengenai anak-anak yang sangat pandai. Keinginan belajar mereka pada
usia yang sangat muda menyebabkan mereka “secara main-main” sudah balajar
membaca sebelum mereka pergi ke sekolah. Sangat disayangkkan bahwa penampungan
yang sesuai bagi mereka baik di Indonesia maupun negara-negara Eropa masih
belum ada. Mengenai anak-anak yang sangat pandai ini akan dibicarakan lebih
lanjut pada pasal 4.7
Dalam memberikan bimbingan yang lebih baik
pada anak maka dapat dianjurkan untuk memilih istilah “kemampuan sekolah”
daripada “kemasakan sekolah”.
Kriteria
“kemasakan sekolah” tersebut ternyata belum dapat menjamin keberhasilan anak di
kelas, karena “masak sekolah” belum tentu mampu bersekolah.
Test yang dikembangkan di Nijmegen (NST)
yang merupakan pengolahan test Gopinger dari Jerman mengungkap kemampun sekolah
anak. Test ini dilengkapi dengan sebuah daftar pertanyaan untuk orang tua dan
daftar pertanyaan untuk guru TK. Daftar pertanyaan berhubungan dengan 3 aspek
tingkah laku, yaitu penyesuaian sosial(S), kemapuan kerja (W), dan sikap
mandiri (Z).
Di
Indonesia telah ada laporan mengenai penggunaan NST di Bandung dan
menghasilkan data sebagai berikut :
bahwa pada tiga kriteria yang pokok,
yaitu penyesuaian anak, kemampuan kerja, dan sikap mandiri anak-anak yang
dikenakan test, diketemukan sikap mandiri
memperolah sekor yang sangat rendah.
Akhirnya hal yang perlu diperhatikan di
sini ialah bahwa pendidikan harus berusaha untuk berusaha menolong anak sesuai
dengan kemampuan masing-masing supaya akhirnya ia berhasil dalam plajarannya.
Bila ini dipakai sebagai patokan, maka sekaligus ada jaminan bahwa tiap anak
dapat melanjutkan emansipasinya. Emansipasi sebagai penemuan identitas
membutuhkan sistem pelajaran yang memperhatikan anak-anak secara individual,
yang berusaha untuk tidak merugikan perkembangan anak masing-masing. Bila
“individualisai” ini tidak ada, maka akan sukar bagi anak untuk menemukan
identitas dirinya, untuk mendapatkan konsep dirinya. Hal ini dibutuhkan untuk
mengembangkan kemungkinan-kemungkinannya dalam hubungan dengan lingkungannya.
C.
Perkembangan
Sosial dan Kepribadian
Perkembangan
sosial dan kepribadian dimulai dari usia pra sekolah sampai akhir masa sekolah
ditandai oleh meluasnya lingkungan sosial. Meluasnya lingkungan sosial bagi
anak menyebabkan anak menjumpai pengaruh-pengaruh yang ada di luar pengawasan
orang tuanya. Mereka mempunyai teman untuk bergaul,mempunyai guru-guru yang
mempunyai pengaruh yang sangat besar dalam proses emansipasinya.
1. Interaksi dengan Anak-Anak Sebaya
Dalam
T.K dan S.D anak mempunyai kontak yang intensif dengan teman-teman sebayanya.
Di sini anak-anak biasanya berusaha untuk menjadi anggota suatu
kelompok,kelompok-kelompok seperti ini terdapat dalam Taman Kanak-kanak dan
Sekolah Dasar.
Pada mulanya anak tidak mengerti
tingkah laku apa yang dipuji atau dihargai dan tingkah laku apa yang tidak
dipuji dan dihargai. Sering dapat diihat anak bahwa anak menirukan anggota
kelompok yang paling aktifdan paling berkuasa. Dan barulah pada usia 10 dan 14
tahun timbullah suatu kelompok yang ada organisasinya,dengan aturan-aturan dan
perjanjian-perjanjian. Hartup (1970) menemukan bahwa kebanyakan penelitian
mengenal pengaruh timbal balik dilakukan
pada anak-anak sekolah. Anak laki-laki lebih mempengaruhi anak laki-laki yang
lain daripada abak wanita dan sebaliknya. Juga dapat dilihat bahwa anak-anak
yang lebih tua lebih cepat dipengaruhi oleh teman-teman mereka sebaya daripada
oleh anak-anak yang lebih muda. Diteukan juga anakyang tertua lebh udah
berpengaruh oleh norma-norma kelompok dan oleh rang-orang lain disbanding
dengan adik-adiknya. Hal ini dapat diterangkan sebagai berikut :
1. Anak-anak
sulung diduga menerima pendidikan yang lebih berobah-obah dibandingkan dengan
adik-adiknya.
2. Anak-anak
sulung lebih menerima perlindungan, di samping itu maka tingkah laku yang
konformistis dan tergantung mendapat pujian.
Dapat
dikemukakan bahwa konformisme tadi lebih ditentukanoleh factor-faktor
situasional
Daripada
oleh sifat-sifat kepribadian anak. Pertama kali yang dicari anak adalah kontak
yang menyenangkan. Bila konformisme merupakan syarat untuk memperoleh kontak,
maka anak akan mudah untuk menyesuaikan dirinya. Pada uraian-uraian berikutnya
akan nampak bahwa sifat-sifat peranan
yang penting dalam persoalan tingkah laku konformistis ini. Sejumlah besar
tingkah laku timbul dengan cara menirukan ,belajar-model,dan oleh reinforsemen
dari pihak teman-teman sebaya. Di sini sudah awal dapat nampak pemilihan
(preferences) yang khas menurut jenis
kelamin serta cara-cara member pengaruh.
Spontanitas versus sikap terkontrol
Sikap spontan atau tidak spontan
anak-anak pra sekolah mungkin dipengaruhi oleh sifat suatu kebudayaan tertentu.
Sikap yang tidak wajar pada anak-anak pra-sekolah tersebut adalah adanya
hambatan-hambatan psikis yang mengganggu penyesuaian anak-anak tersebut. Di
sini sebetulnya persepsi anak terhadap perintah dan larangan itu yang mungkin
lebih penting daripada perintah atau larangannya sendiri.
2. Perkembangan Motivasi Prestasi
Setiap
tingkah laku pasti mempunyai motif. Setiap perbuatan dan tindakan mempunyai
dasar,mempunyai motif. Salah satu aspek
kepribadian seseorang yang paling banyak diteliti adalah mengenai motivasi
prestasi. Harus juga dibedakan mengenai kebutuhan dan motif. Karena kebutuhan
adalah merupakan dasar timbulnya motif. Memang ada kebutuhan-kebutuhan
dasar,tetapi motif-motif yang timbul selama hidup ada sangat banyak. Pada
umumnya dibedakan antara motivasi yang intrinsik dan yang ekstrinsik. Motivasi
yang intrinsic berarti bahwa suatu perbuatan memang diinginkan karena seseorang
senang melakukannya. Sebaliknya, motivasi ekstrinsik berarti bahwa sesuatu
perbuatan yang dilakukan atas dasar dorongan atau paksaan dari luar.
Suatu motif mempunyai 3 macam unsure :
1. Motif
mendorong terus, memberikan energi pada suatu tingkah laku (merupakan dasar
energetic)
2. Motif
menseleksi tingkah laku, menentukan arah apa yang akan dan tidak akan
dilakukan.
3. Motif
mengatur tingkah laku artinya bila sudah memilih salah satu arah perbuatan maka
arah itu akan tetap dipertahankan.
Dalam
setiap motif dapat diketemukan kembali dua struktur dasar. Yaitu Pengharapan
akan sukses dan Ketakutan akan gagal.
Di
antara usia 3 dan 4 tahun nampak jelas adanya tingkah laku yang mengarah
prestasi. Penelitian Heckhausen dan Roelofsen (1962) menemukan bahwa anak-anak
yang sehat pada usia 3½ tahun menunjukan semua ciri-ciri tingkah laku
kompetisi. Di sini dijelaskan bahwa anak-anak mulai 3½ tahun sudah mampu untuk
membandingkan prestasi-prestasi mereka dengan prestasi penelitiannya.
Ini
adalah ciri-ciri motivasi prestasi,yaitu untuk melakukan sesuatu yang lebih
baik, dibanding dengan suatu standar keunggulan. Standar keunggulan tadi dapat
berhubungan dengan (a) prestasi orang lain, (b) prestasi diri sendiri yang
lampau dan dengan (c) tugas yang harus dilakukannya. Anak-anak sekarang dari usia 3½ tahun juga
lebih mampu untuk menghubungkan berhasil atau tidaknya sesuatu perbuatan dengan
dirinya sendiri.
Dipandang dari segi psikolog
perkembangan dapat ditemukan bahwa kecenderungan berprestasi ini harus diberi
stimulasi bila kita akan menyambut dorongan manipulasi dan eksplorasi
anak.
3. Perkembangan Identitas Jenis
Kelamin atau Tingkah Laku Sesuai dengan Jenis Kelamin
Mengenai perkembangan tingkah laku
sesuai dengan jenis kelamin. Faktor-fakto biologis merupakan dasar bagi
perkembangan tingkah laku spesifik jenis kelamin proses-proses belajar sosial
sejak awal telah menyumbang pada kenyataan bahwa identitas kelamin terjadi
melalui norma-norma sosial yaitu melalui penilaian apa yang baik atau tidak
baik bagi anak laki-laki atau anak wanita.
Meskipun
adanya keterbatasan dalam mengadakan
generalisasi, tidak dapatnya mengintrpretasi secara meraata mengenai
hasil-hasil yang didapat serta adanya faktor situasi yang menentukan tingkah
laku spesifik jenis kelamin, namun dapat ditentukan atas dasar
penelitian-penelitian pada tahun terakhir , bahwa:
·
Agresi (mulai tahun ke 2) lebih banyak
terdapat pada anak laki-laki
·
Aktivitas (mulai tahun ke 3) lebih
banyak terdapat pada anak laki-laki
·
Dominasi (mulai tahun ke 4) lebih banyak
di jumpai padaanaak laki-laki
·
Impulsivitas (mulai usia prasekolah)
lebih banyak dijumpai pada anak laki-laki
·
Kecemasan (mulai 8 atau 9tahun) lebih
bannnyak pada anak wanita
·
Kecakapan-kecakapan verbal (pada suatu
kelompok kecil anak wanita mlai 4 tahun, tetapi pada umumnya 11 atau 12 tahun)
terdapat pada anak wanita lebih banyak dari anak laki-laki
·
Kecakapan pengamatan ruang (mulai 11
atau 2 tahun) lebih kuat pada anak laki-laki
·
Pengertian kuantitatif (mulai 10 tahun)
lebih baik pada anak laki-laki.
4. Perkembangan Pengertian Norma
Pengertian norma atau moralitas
merupakan hal yang sangat penting bagi perkembangan kepribadian dan sosial
anak, moralitas termasuk bidang etika. Beberapa teori mengenai moralitas,yaitu
teori psikoanalisa,teori kognitif dan teori belajar. Di sini psikoanalisa ada 3
bagian dalam diri seseorang yang akan berkembang menurut urutan sebagai berikut
: das Es, das Ich dan das Ueber Ich. Das Es yaitu impuls-impuls nafsu. Das Ich
lalu menjaga supaya hubungan dengan realitas dapat dikoordinasi dan akhirnya
das Ueber Ich merupakan bagiannya yang membawakan norma-normanya,
perintah-perintah dan larangan-larangannya yang diberikannya oleh dunia
keliling.
Ueber Ich maka situasi Oedipus
mempunyai arti yang pokok, anak antara 3 dan 4 tahun. Ueber Ich harus dipandang
sebagai suatu instansi dengan norma-norma yang telah di internalisasi atau di
troyeksi. Kesediaan anak untuk merasa berdosa sebagai factor pokok bagi
tumbuhnya kata hati. Laki-laki pada umumnya mempunyai moralitas lebih keras
daripada anak wanita. Masalah besar yang timbul oleh dugaan ini ialah adanya
kesukaran untuk membuktikannya secara empiric. Setelah umur 8 tahun anak
menjadi lebih fleksibel dalam penilaian-penilaiannya dan lebih mampu untuk
memperhatikan factor-faktor situasional dalam menilai sesuatu. Apa yang disebut
tanggung jawab obyektif dan tanggung jawab subyektif dapat diterangkan dengan
contoh berikut : selalu nampak suatu akibat sesuatu maksud yang baik dan maksud yang tidak baik.
Ternyata bahwa anak-anak sampai umur
± 8 tahun terutama melihat akibat-akibat materilnya. Sesudah usia ini nampak
bahwa motif-motif dan maksud-maksud orang ikut diperhitungkan.Menurut Kohlberg
perkembangan insan kamil melalui 6 stadium (tingkatan).
Stadium
1. Menurut untuk menghindari
hukuman.
Stadium
2. Anak bersikap konformistis untuk
memperoleh hadiah,untuk dipandang baik.
Stadium
3. Anak bersikap konformistis untuk menghindari celaan dan untuk disenangi
orang lain.
Stadium
4. Anak bersikap konformistis untuk
menghindari hukuman yang diberikan bagi beberapa tingkah laku tertentu dalam
kehidupan bersama.
Stadium
5. Konformistis sekarang dilakukan
karena menginginkan kehidupan bersama yang diatur.
Stadium
6. Melakukan konformitas tidak
karena perintah atau norma dari luar,
melainkan karena keyakinan sendiri ingin
melakukannya.
Kohlberg menemukan suatu penemuan
yang tak terduga,yaitu para mahasiswa yang sebelum memasuki Perguruan Tinggi
telah memasuki stadium ke 4 dan ke 5, segera kembali lagi pada stadium 2. Hal
ini diterangkannya sebagai berikut : Karena para mahasiswa ini ada dalam
situasi-situasi baru,maka secara fungsional mereka jatuh kembali pada tingkat
yang lebih rendah,meskipun secara struktual tingkat yang lebih tinggi tetap
ada. Hal ini diterangkan dari kenyataan bahwa sesudah para mahasiswa tadi
meninggalkan (lulus) dari Perguruan Tinggi atau juga sudah sebelumnya,kembali
lagi dapat berfungsi dengan baik padatingkat stadium yang telah dicapainya dulu.
Masih ada satufaktor lagi yangditunjukkannya, yaitu mengenai hubungannya antara
perkembangan tingkah laku moral dan peranan yang diharapkan kepada sesorang.
Kohlberg menemukan bahwa para
ibu-ibu rumah tangga pada umumnya aada pada stadium 3; menurut Kohlberg hal itu
disebabkan karena mereka tidak banyak dituntut untuk mengambil
keputusan-keputusan yang berhubungan dengan moral dan insane kamil. Mereka
ditempatkan pada peranan yang membutuhkan berfungsi pada stadium 3 atau 4 saja.
Teori belajar mengemukakan bahwa
semua tingkah laku adalah tingkah laku yang dipelajari , teori ini menolak
dengan tegas bahwa manusia mempunyai suatu sifat bawaan , baik itu sifat yang
baik maupun yang tidak baik. Menurut pendapat ini kata hati merupakan suatu
sisstem norma-norma yang telah diinternalisasi (merasuk menjadi milik pribadi
seseorang). Hal ini berarti bahwa seseorang akan tetap melakukan norma-norma
tadi meskipun tidak ada control dari luar.
Peneliti-peneliti
yang menganut pendapat ini berusaha untuk menyelidiki fenomena kata hati
melalui pernyataan-pernyataan mengenai:
a. Reaksi-reaksi
terhadap pelanggaran
b. Pertahanan
terhadap godaan
Dalam
hal ini ternyata bahwa cara orang tua mengasuh anak merupakan hal yang pokok.
Mempunyai orang tua yang penuh dengan perhatian dan menerima anak dalam keadaan
apapun merupakan syarat yang paling utama untuk perkembangan hati-hati yang
baik.
Sebagai
kesimpulan dapat dikatakan bahwa proses-proses belajar dalam tingkah laku moral
memegang peranan yang penting; tetapi juga proses-prose perkembangan kognitif
memberikan pengaruh yang besar akan sikap perkembangan tingkah laku moral.
D.
Perkembangan
Kognitif
Dalam
prinsipnya hal ini berhubungan dengan alat-alat
pengenalan dan bentuk bentuk
pengenalan. Kognisi adalah pengertian yang luas mengenai berpikir dan
mengamati, jadi tingkah laku-tingkah laku yang mengakibatkan orang memperoleh
pengetahuan atau yang dibutuhkan untuk menggunakan pengetahuan.Psikolog Swis
yang sering disebut dalam buku ini yaitu Piaget telah banyak mempengaruhi
psikologi perkembangan dalam hal perkembangan kognisi.
1. Pengertian-Pengertian Pokok dalam
Teori Perkembangan Piaget
Teori
Piaget banyak dipengaruhi oleh biologi dan
epistemologi (ajaran mengenal
pengenalan).Biologi: banyak
menggunakan pengertian-pengertian yang langsung diambil dari biologi. Epistemologi: perhatian terhadap cabang
ilmu pengetahuan ini antara lain nampak dalam penelitian empirik terhadap
timbulnya pengertian-pengertian atau konsep-konsep waktu, ruang, kausalitas,
dan kesadaran akan aturan.
Piaget
beranggapan bahwa setiap organisme hidup dilahirkan dengan dua kecenderungan
fundamental, yaitu kecenderungan untuk adaptasi dan tendensi untuk organisasi.
a.
Adaptasi
adaptasi dapat
dilukiskan sebagai kecenderungan bawaan setiap organisme untuk menyesuaikan
diri dengan lingkungannya. Kecenderungan ini mempunyai dua komponen atau dua
proses yang komplementer yaitu,
1) Asimilasi,
yaitu kecenderungan organisme untuk mengubah lingkungannya guna menyesuaikannya
dengan dirinya sendiri. Suatu contoh yang sederhana dalam lapangan biologik
adalah makan.
2) Akomodasi, yaitu
kecenderungan organisme untuk merubah dirinya sendiri guna menyesuaikan diri
dengan kelilingnya.Suatu contoh dalam lapangan biologi dapat dikemukakan lagi
mengenai makanan.
b.
Kecenderungan
organisasi
Hal ini dapat dilukiskan sebagai
kecenderungan bawaan setiap organisme untuk mengintegrasi proses-prosesnya
sendiri menjadi sistem-sistem yang koheren.
Pengertian
“ekuilibrium” atau “keseimbangan” juga menduduki tempat yang penting dalam
teori Piaget. Prinsip ekuilibrium yang bersifat biologik ini menjaga agar
perkembangan tidak merupakan hal yang tidak karuan,
melainkan suatu proses yang teratur, proses-proses asimilasi dan akomodasi yang
komplementer menyebabkan seseorang selalu berusaha mencapai keadaan yang
seimbang lagi.
Pengertian
“keseimbangan” menunjuk pada relasi antara individu dan kelilingnya dan
terutama sekali pada relasi antara struktur kognitif individu dan struktur
kelilingnya. Di sini ada keadaan seimbang bila individu tidak lagi perlu
mengubah hal-hal dalam kelilingnya untuk mengadakan asimilasi dan juga tidak
lagi harus mengubah dirinya sendiri untuk mengadakan akomodasi dengan hal-hal
yang baru.Piaget memang hanya ingin menunjukkan bahwa menurut pendapatnya dalam
perkembangan berfikir manusia ada suatu arah menuju ke harmoni dan keteraturan.
Piaget
mencoba untuk menemukan suatu analogi dalam nivo tingkah laku. Analogi ini
ditunjukkannya dengan pengertian “struktur psikologis” atau “skema”. Ia
membedakan antara skema-skema sensori motorik atau juga skema-skema tingkah
laku dan skema-skema operasional atau juga skema-skema kognitif.
Skema
adalah suatu abstraksi dari aktivitas manusia, bukan sesuatu yang dapat
ditunjukkan secara konkrit dengan salah satu cara pada salah satu tempat
tertentu. Menurut Piaget skema-skema ini pada mulanya bersifat senson motoris
dan merupakan struktur psikologik anak umur sampai ± 2 tahun belum nampak
adanya mediasi dalam arti “aktivitas pikir yang intern”. Mulai umur ± 2 tahun
di samping skema-skema sensori motorik anak juga memiliki skema-skema kognitif
atau operasional.
Suatu
skema memungkinkan anak untuk mempelajari respons-respons baru. Hal ini
disebabkan oleh proses akomodasi.
Skema-skema
tertentu yang ada serta bergaul dengan lingkungan memberikan sumbangan yang
besar dalam menambah luasnya pengertian anak. Di sini menjadi jelaslah bahwa
anak lebih banyak mengerti daripada yang dapat dinyatakan dan dikatakan. Di
sini juga letaknya salah satu titik tolak Furth yang pokok, yaitu bahwa jelas
sampai usia 7 atau 8 tahun berpikir anak harus dipandang lepas dari bahasanya
(Furth, 1996).
2.
Representasi Dunia dan Stadium-Stadium dalam Perkembangan
Kognitif
Dunia
orang dewasa adalah teratur. Hal-hal yang ada dalam diri manusia seperti
perasaan, pikiran, impian, keinginan, dan hal-hal yang ada di luar diri manusia
seperti rumah, pohon, obyek-obyek tertentu, sertadunia sosial manusia dapat
diatur. Hal-hal itu dapat diperlakukan oleh orang dewasa secara obyektif karena
mereka dapat dipandang sebagai semestinya dan tidak merupakan hal wajar bagi
anak. Anak belum mengalami distansi yang jelas dengan dunia luar. Permanensi
obyek atauformasi obyek merupakan suatu langkah yang penting dalam penyusunan
gambaran dunia. Hal ini juga menjadi persyaratan yang mutlak untuk dapat
memperlakukan obyek-obyek dari keliling secara simbolis.
Schenk
– Danziger (1972) dalam hubungan ini mengemukakan bahwa pengertian akan
simbol-simbol serta memiliki tanggapan-tanggapan terjadi bersama-sama dengan perkembangan
bahasa serta permainan peranan. Ia juga mengemukakan bahwa permainan peranan
mempunyai cirri-ciri yang juga merupakan persyaratan bagi pemakaian bahasan dan
bekerja dengan simbol-simbol, yaitu:
·
Sikap memperlakukan hal-hal dengan
pura-pura
·
Adanya formasi simbol atau pembentukan
pengertian semaunya (metamorfosabenda-benda)
·
Mengenakan sifat-sifat manusia pada
benda atau hewan (antropomorfisme)
·
Merubah peranan manusia secara fiktif
·
Imitasi tingkah laku atau rangkaian
tingkah laku
Representasi
dunia luar ke dalam diri sendiri dan dengan begitu cara berpikir mengenai dunia
luar berjalan sebagai berikut:
1. Bayangan
(image), merupakan representasi pertama suatu kejadian dan tidak merupakan
pencerminan fotografis yang eksak. Misalnya setiap orang mempunya ingatan akan
pengalaman tertentu waktu masih kecil.
2. Simbol,
merupakan suatu bentuk representasi lain. Simbol justru melebihi kejadian yang
khas danmenunjuk pada sesuatu yang lain daripada hal yang sesungguhnya.
3. Konsep
(pengertian), mulai umur anak pra-sekolah timbullah pada anak kebutuhan untuk
mengatur kesan-kesan dan kejadian-kejadian, menemukan hubungan-hubungan dan
relasi-relasi kausal.
4. Aturan,
merupakan suatu hubngan antara dimensi
dua pengertian atau lebih.
a.
Stadium
Sensori-Motorik (0-18 atau 24 bulan)
Intelegensi
anak baru akan nampak dalam bentuk aktivitas motorik sebagai reaksi stimulasi
sensorik. Dalam stadium ini yang penting adalah tindakan-tindakan konkrit dan
bukan tindakan-tindakan yang imaginer atau hanya dibayangkan saja.
Table
gambaran mengenai enam sub stadium sensorimotorik dalam hubungan dengan
perkembangan permanensi obyek dan unsure-unsur penting dalam stadium yang
berlainan.
|
Perkembangan
kognitif
|
Permanensi
obyek
|
|
Stadium
1 (0-1 bulan)
Skema-skema
refleks bawaan
Stadium
2 (1-4 bulan)
Skema-skema
karena pengaruh pengalaman mengakibatkan koordinasi, antara lain koordinasi
mata-tangan. Tertuju pada badan sendiri. Missal mulai 3 bulan monolog
meraban, bermain-main dengan jari kakinya sendiri.
|
Stadium
1 dan 2 (0-4 bulan)
Bayi
mengikuti obyek yang bergerak dengan matanya sampai obyek menghilang,
perhatiannya segera hilang dan memandang sebentar ke tempat obyek menghilang
tadi.
|
|
Stadium
3 (4-8 bulan)
Perkembangan
skema-skema yang menyebabkan akibat-akibat yang menarik dalam orientasi ekstern.
Misalnya membuka pintu atau tas.
|
Stadium
3 (4-8 bulan)
Mengikuti
obyek dengan matanya atau secara visual sampai melampaui tempat menghilangnya
obyek, misal membungkuk dari kursi untuk melihat obyek yang jatuh. Dapat
mengenal obyek hanya Nampak sebagian.
|
|
Stadium
4 (8-12 bulan)
Koordinasi
respon-respon stadium 3 mengakibatkan tingkah laku intensional, Nampak
seperti inteligen.
|
Stadium
4 (8-12 bulan)
Mencoba
memegang dengan obyek yang menghilang dari pandangan mata. Mencari terusdi
tempat menemukan sebelumnya meskipun telah dipindahkan.
|
|
Stadium
5 (12-18 bulan)
Trial
and error yang aktif, dorongan untuk eksplorasi dan manipulasi dengan
obyek-obyek baru.
|
Stadium
5 (12-18 bulan)
Mencari
obyek untuk terakhir kali dilihat yang menghilang
|
|
Stadium
6 (18-24 bulan)
Perpindahan
dari fungsi sensorok motorik ke fungsi simbolik kognitif (permulaan,
berpikir).
|
Stadium
6 (18-24 bulan)
Anak
menggunakan kecakapan simbolik yang baru berkembang untuk membayangkan
kemungkinan perpindahan-perpindahan yang tidak Nampak dari obyek tersembunyi.
|
b.
Stedium
Pra-Operasional (18 bulan- 7 tahun)
Stadium
pra-operasional dimilai dengan penguasaan bahasa yang sistematis, permainan
simbolis, imitasi serta bayangan dalam mental. Anak mampu berbuat pura-pura,
artinya dapat menimbulkan situasi-situasi yang tidak langsung ada. Berpikir
pra-operasinal masih sangat egosentrik. Anak belum mampu mengambil perspektif
orang lain.
Cara
berpikir pra-operasional sangat memusat. Berpikir pra-operasional adalah tidak
dapat dibalik (irreversible). Berpikir pra-operasional adalah terarah stasis.
c.
Stadium
Operasional Konkrit (7-11 tahun)
Cara
berpikir anak yang operasional konkrit kurang ogosentrik. Ditandai dengan
desentrasi yang besar, artinya anak sekarang misalnya sudah mampu memperhatikan
lebih dari satu dimensi sekaligus dan juga untuk menghubungkan dimensi-dimensi
ini satu sama lain. Anak sekarang juga memperhatikan aspek dinamisnya dalam
perubahan situasi. Akhirnya ia juga sudah mampu untuk mengerti operasi logisnya
reversibilitas.
Kekurangan
dalam cara berpikir operasional konkrit yaitu bila anak dihadapkan dengan suatu
masalah secara verbal tanpa adanya bahan yang konkrit, maka ia belum mampu
menyelesaikan masalah ini dengan baik.
d.
Stadium
Operasional Formal (mulai 11 tahun)
Berpikir
operasional formal mempunyai dua sifat penting:
1. Sifat
deduktif-hipotesis, bila anak yang berpikir operasional konkrit harus
menyelesaikan masalah maka ia langsung memasuki masalahnya.
2. Barpikir
operasional formal juga berpikir kombinatoris, anak yang berpikir operasional
konkrit mencoba unruk mencari kemungkinan kombinasi secara tidak sistematik,
secara trial and error sampai secara kebetulan ia menemukan kombinasinya.
Dari
contoh ini Nampak bahwa berpikir operasional formal memungkinkan orang untuk
mempunyai tingkah laku “problem solving” yang betul-betul ilmiah, serta
memungkinkan untuk mengadakan pengujian hipotesa dengan varisbel tergantung.
e.
Perpindahan
dari Berpikir Pra-Operasional ke Operasional Konkrit
Beberapa tugas kriterium:
1) Mengatur
secara serial, bila anak dalam stadium pra-operasional diberi tugas untuk
mengatur beberapa tongkat-tongkat kecil yng berlainan panjangnya, maka ia tidak
mampu untuk mengaturnya menurut panjang pendeknya tongkat-tongkat tadi.
2) Klasifikasi,
operasi mengenai inklusi-kelas terletak padapengertian yang benar mengenai
hubungan antara bagian-bagian daripada keseluruhan, antara keseluruhan dan
bagian-bagian, dan antara bagian dan bagian.
3) Konservasi,
hal ini berhubungandengan pernyataan bagaimana anak memperoleh pengertian bahwa
sifat-sifat tertentu sesuatu obyek akan tetap sama meskipun ada
transformasi-transformasi pada obyek tadi,
Penelitian
Piaget dan orang-orang lain lagi menjelaskan bahwa anak mula-mula (4 tahun)
tidak mampu menyelesaikan masalah konservasi. Usia 5 tahun harus dianggap
sebaga situasi peralihan, artinya anak kadang-kadang bissa dan kadang-kadang
idak bisa menyelesaikan masalahnya. Mulai 3 tahun pertanaan konservasi tidak
merupakan masalah lagi bagi anak.
3. Kekuatan (motor) Perkembangan
Menurut
Piaget pertumbuhan mental mengandung 2 macam proses: perkembangan dan belajar.
Perkembangan adalah perubahan struktural dan belajar adalah perubahan isi.
Proses
perkembangan dipengaruhi oleh 4 macam factor:
a. Pemasakan
Tumbuhnya struktur-struktur fisik secara
berangsur-angsur mempunyai akibat pada
perkembangan kognitif anak.
b. Pengalaman atau Kontak dengan Lingkungan
Menurut Piaget kontak dengan lingkungan
mengakibatkan 2 macam tipe pengalaman mental.
1) Pengalaman fisik:
Yaitu aktifitas – aktifitas yang dapat mengabstraksi sifat – sifat fisik obyek
tertentu.Pengalaman fisik ini memberikan pengertian mengenal sifat-sifat yang
langsung berhubungan dengan obyeknya sendiri.
2) Pengalaman logiko-matematik:
pengalaman yang tidak datang dari pengalaman fisik, melainkan dari koordinasi
internal perbuatan –perbuatan individu.
c. Penyerahan social
Anak hidup dalam dunia social , dan
melalui sekolah , media massa dan lain-lain yang semacam anak memperoleh
informasi yang berpengaruh terhadap perkembangan kognitifnya.
d. Ekwilibrasi
menunjuk pada proses yang mengatur dirinya sendiri
dalam diri anak.
Piaget beranggapan bahwa semua orang dalam konteks
kebudayaan apapun akan menjalani keempat macam stadium tadi dengan urutan
seperti yang dikemukakannya, hanya kecepatannya dapat berbeda-beda. Seperti
seorang anak yang dapat mendengar normal lebih cepat mencapainya dari pada anak
yang setengah tuli.
4. Kritik-Kritik terhadap Teori Piaget
Banyak
Kritik-Kritik Terhadap toeri Piaget,
ditujukan pada pendapatnya yang organismik. Menurut pendapat ini maka
perkembangan kognitif berjalan melalui stadium- stadium yang mempunyai sifat
universal. Perkembangan berjalan spontan dan lingkungan hanya mempunyai
pengaruh menghambat atau mempengaruhi sedikit.
Pendapat
semacam itu mempunyai konsekuensi yang sungguh-sungguh dalam pendidikan di
sekolah. Misalnya cara mengajar klasikal verbal yang konvensional menurut
pendapat ini akan mempunyai sedikit pengaruh terhadap perkembangan kognitif
anak. Tugas seorang guru di sini adalah menciptakan situasi tertentu supaya apa
yang sebetulnya akan di berikan secara verbal pada anak dapat dilakukan sendiri
oleh anak dengan berbuat aktif debgan benda-benda.
Tidak
mengherankan bahwa teori Piaget ini banyak dipandang sebagai teori yang
berdasarkan pessimisme pedagogis. Dari sini sebabnya bahwa orang mengusulkan
untuk mengganti system pelajaran yang bersifat anak mendengarkan menjadi system
pelajaran yang bersifat anak berbuat aktif.
Tanpa
meninjau data yang lebih terperinci, dapat dikemukakan di sini bahwa tidak
perlu untuk berpegang teguh pada keterangan-keterangan Piaget; juga dapat
disimpulkan bahwa anak mampu untuk melakukan tugas-tugas pada tingkat
operasional konkrit pada usia yang lebih muda dari pada yang dikemukakan oleh
Piaget.
E.
Intelligensi
Serta Keberhasilan di Sekolah
Sejak
beberapa lama “undeachiver” lazim dibicarakan dalam bidang psikologi.
Underachiver menunjuk pada seseorang yang memperoleh prestasi-prestasi dibawah
kemampuan intelektual yang dimiliki. Di Negeri Belanda kurang lebih 30% dari
anak sekolah dasar maupun menengah adalah underachiever. Penyebabnya masalah
sosial dan emosional.
Menurut Hermans (1971), bahwa ketakutan
akan gagal murid zaman sekarang mungkin berhubungan dengan situasi pengajaran,
tetapi juga dengan situasi hidup keseluruhan. Hal ini disebabkan karena murid
semakin dihadapakan dengan kemungkinan pilihan yang lebih banyak di dalam
maupun diluar situasi pengajaran. Ketakutan untuk gagal disebabkan oleh
keraguan total, yang menyebabkan kapasitas intelektual tidak sepenuhnya dapat
bekerja.
Menurut observasi Haditono masalah
underachiever di Indonesia disebabkan suatu kombinasi dari berbagai faktor,
diantaranya yaitu:
·
Faktor pertama: kurangnya fasilitas
belajar dalam arti luas di sekolah,di pelosok-pelosok, maupun dirumah.
·
Faktor kedua: kurangnya stimulus mental
oleh orang tua dirumah. Terutama bagi para orang tua yang tidak berpendidikan.
·
Faktor ketiga: keadaan gizi yang
bilamana dapat dicapai tingkat yang lebih tinggi maka secara fisik anak lebih
mampu untuk menggunakan kapasitas otaknya lebih banyak.
Kombinasi
faktor-faktor ini ditambah dengan keadaan yang kurang menguntungkan seperti:
perubahan sistem pelajaran yang berkali-kali dalam menemukan sistem mana yang
paling baik. Hingga para pengajar tersebut belum merasa mantap dalam menerapkan
sistem yang baru tersebut. Semuanya ini memberikan dampaknya pada prestasi
murid dan ikut menyebabkan terjadinya underachiver / prestasi dibawah normal.
Intelligensi dianggap sebagai suatu norma yang ditentukan secara statistik.
Dalam kenyataanya suatu best intelligensi mengukur status (ukuran) orang dalam
kelompok dibanding dengan teman sebayanya.
Semua
best intelligensi mendasarkan diri pada suatu teori WISC (Wechlser intelligence
Scale for Children) atau dalam versi jerman adalah HAWK (Hamburg Wechsler Intelligenztest
fur Kinder) mendasarkan diri pada teori dua faktor Spearman. Menurut Wechsler
intelligensi keseluruhan orang tidak dapat diukur. IQ adalah suatu nilai yang hanya dapat
ditentukan secara kira-kira karena selalu dapat terjadi perubahan. Perubahan
berdasarkan faktor-faktor individual dan situasional.
Wechsler memberikan definisi intelligensi
sebagai berikut: “intelegensi adalah suatu kecakapan global atau rangkuman
kecakapan seseorang untuk dapat bertindak secara terarah, berfikir secara
baik,dan bergaul dengan lingkungan secara efisien”(1965, hal.13).
Wechsler mengartikan global sebagai
gambaran tingkah laku individu sebagai keseluruhan, sedangkan rangkuman
mengandung arti adanya faktor-faktor spesifik yang berbeda satu sama lain.
Dari hasil penelitian yang bermacam, bahwa
intelligensi itu sama sekali tidak sekonstan yang diduga. Menurut penelitian
longitudinal selama 40 tahun, dan dalam
Institut Fels yang mengungkapkan pendapat dari Mc call dkk (1973). Menunjukkan
adanya pertambahan rata-rata IQ sebanyak 28 sekor antara usia 5 dan 17 tahun yang berarti sama dengan usia
pendidikan disekolah atau pekerjaan.
Intelligensi dan kreativitas tidak saling
berhubungan. Kreativitas didefinisikan sebagai berfikir divergen, sedangkan
intelligensi dianggap sebagai konvergen. Divergen berarti orang tersebut
memberikan jawaban yang asli/original, tidak seperti apa yang dijawabkkan oleh
semua orang. Dan konvergen yaitu cara berfikir normal yang dipakai kebanyakan
orang. Menurut (wolters 1986) kreatifitas dan intellegensi tidak harus
bersama-sama.
Disinilah letak salah satu dilema yang
besar disekolah. Pada umumnya disekolah diminta intelligensi konvergen,
sedangkan kreatifitas justru bukan cara berfikir dan berkata yang sesuai bila
sistem pengajaran memperhatikan masing-masing individual, maka individu
tersebut akan mendapatkan kesempatan mengembangkan emansipasi dirinya.
F.
Permasalahan Stimulasi
Perkembangan Kompensatoris
Sejak
1964 ada aktivitas yang tinggi dan berbagai macam diskusi mengenai stimulasi perkembangan
pada masa sebelum umur ± 6 tahun (masa sebelum masuk sekolah dasar).
John
Kennedy membuat program penanggulangan kemiskinan, miskin dalam arti materil
maupun mental. Pada tahun 1965 diumumkan program ‘’Head Start’’, karena dua
alasan yaitu :
1. Ternyata
anak kulit hitam dan anak minoritas lain seperti anak-anak Puerturiko tidak
dapat mengunjungi Sekolah Taman Kanak-kanak karena alasan keuangan.Sekolah
Taman Kanak-kanak di Amerika sangat mahal karena diselenggarakan swasta.
2. Dalam
waktu yang bersamaan juga terbukti bahwa inteligensi tidak dalam semua aspek
ditentukan oleh keturunan, lingkungan dapat mengadakan banyak stimulasi dalam
hal prestasi inteligensi.
Menurut
Betty Caldwell ( direktris Centre for Early Education and Development di
Arkansas) Nampak 4 fase permulaan tahun 1970, yaitu :
1. Optimisme
dan kegairahan pada saat permulaan, ada pengharapan akan perubahan-perubahan
esensial.
2. Tahun
1966 orang menjadi skeptic : data pertama jelas menunjukkan kemajuan ,tetapi
efeknya segera hilang (tidak bertahan lama) menyebabkan adanya perubahan
programnya.
3. Tahun
1969 menimbulkan suatu desilusi yang berat.dari 900 proyek,hanya 50 yang
berhasil. Tahun itu juga dating tulisan Jensen yang cukup membuat keonaran,
timbullah diskusi penuh emosi.
4. Konsolidasi
permulaan 70-an orang menemukan suatu dasar teori dan empiri yang baru, orang
mencapai penanganan masalah yang lebih baik dalam hubungan stimulasi
perkembangan kompensatorik.
Tulisan
Jensen yang cukup membuat keonaran, timbullah diskusi hebat, Jesnsen dalam
tulisannya yang tebal mengatakan bahwa apa yang disebut pendidikan
kompensatorik sampai sekarang belum membuktikan adanya kemungkinan perbaikan
intelegensi dan prestasi sekolah tetap. Dia ingin menunjukkan bahwa faktor
keturunan memegang peran lebih besar daripada yang di terima sekarang. Kemudian
Jensen berusaha membuktikan bahwa betul-betul ada factor-faktor keturunan yang
mempengaruhi timbulnya tingkah laku tertentu.
Contoh :
Ada
sejumlah orang mempunyai apa yang disebut sindrom Turner, hal ini merupakan
suatu penyimpangan chromoson. Orang normal mempunyai 46 chromoson sedang orang
dengan sindrom turner hanya mempunyai 45 chromoson. Mereka tidak punya
chromosom kelamin. Orang tersebut mempunyai IQ normal selama testnya berkisar
pada test verbal. Menurut Jensen suatu kelainan genetis mempunyai akibat nyata
pada proses-proses kognitif.
Penelitian
Geber dan Dean (1964) tentang dua
kelompok bayi berkulit hitam, salah stu kelompoknya diasuh dengan cara barat.
Akan tetapi kedua kelompok mencapai sekor-sekor yang tinggi pada test Gesell
dibandinka dengan norma-norma Eropa. Hasil yang mencolok adalah perkembangan
motorik merupakan hal yang umum pada mereka yaitu :
a. Lima
jam sesudah dilahirkan anak sudah melihat sekeliling
b. Sesudah
22 jam dapat duduk dengan tegak
c. Umur
7 minggu dapat mengangkat berat badannya sendiri dan melihat sekeliling dengan
penuh perhatian
d. Umur
9 bulan sudah dapat berdiri tegak dan berjalan
Menurut
Jensen dikemukakan bahwa IQ orang berkulit putih lebih uggul daripada orang
kulit hitam disebabkan oleh cara berfikir. Dia membedakan antar berfikir atau
belajar asosiatif (nivo I) dan berfikir atau belajar secara pengertian (nivo
II) .
1. Nivo
I ditandai pencatatan atau registrasi secara netral mengenai stimulus-stimulus
yang diamati, ditandai pembentukan asosiasi-asosiasi. Dan diukur dengan
deret-deret angka, gambar, dan simbol. Nivo I berkembang cepat di tahun-tahun
pertama.
2. Nivo
II ditandai transformasi bahan yang telah dipelajari dan bukan merupakan
ulangan-ulangan mentah belaka.menyelesaikan suatu masalah, memperlakukan
denggan aktif, menambah aspek baru pada hal yang sudah dipelajari ini merupakan
cirri nivo II. Dan diukur oleh berbagai test inteligensi yang ada. Nivo II ini
berkembang lambat, mencapai puncaknya antara umur 4 dan 6 tahun, kemudian
dengan bertambahnya umur menunjukkan kelas-kelas social.
Bagaimanapun
luas argumentasi Jensen, namun dia tidak dapat menjelaskan seluruhnya bahwa
belajar tidak memberikan pengaruh terhadap perkembangan inteligensi.
Dapat
disimpulkan bahwa stimulasi perkembangan kompensatoris tidak akan berhasil bila
hanya khusus ditunjukan pada aspek-aspek tingkah laku yang terpisah saja, misal
pada bahasa saja. Selanjutnya dapat dikatakan bahwa keturunan tidak sepenuhnya
menentukan tingkah laku seseorang, melainkan masih ada kemungkinan untuk
dipengaruhi. Hanya satu pengananan yang menyeluruh yaitu terhadap anak,
keluarga, lingkungan (mayarakat) dapat memberikan hasil-hasil tetap. Sebelum
mengadakan program-program untuk perkembangan anak, harus jelas apakah dapat
dipertanggungjawabkan secara etik, dan dari sudut tujuan pendidikan apa usaha
tadi akan dilakukan.
G. Anak-Anak dengan Kecerdasan Tinggi
Psikologi
perkembangan memiliki tujuan untuk memberikan kesempatan berkembang yang
optimal pada semua anak. Anak-anak yang memiliki kecerdasan sangat tinggi
kurang mendapat perhatian, sebaliknya anak-anak yang kurang pandai mendapat
banyak perhatian. Nilai IQ yang tinggi tidak bisa menjadi tolak ukur
keberhasilan dalam sekolah dan pekerjaan seseorang. Kecerdasan tidak hanya
diukur oleh dari intelegensinya saja tetapi juga dilihat dari interaksi
sosialnya.
1.
Berbagai
Pandangan Mengenai Kecerdasan yang Tinggi
Pandangan terhadap
kecerdasan yang tinggi dibedakan kedalam empat kelompok yaitu :
·
Determinan sosio-kultural : Aselerasi fisik (percepatan pertumbuhan) yang
positif disebabkan karena berjalan bersama-sama dengan peningkatan intelegensi.
Aselerasi sebagai penunjang meningkatnya syarat-syarat hidup sekaligus
menghambat faktor perkembangan. Namun hal yang sebaliknya bisa terjadi bila
kemajuan sosial dan masyarakat mengakibatkan kemunduran, misalnya sistem
pendidikan kurang baik, kurang memacu sikap mandiri dan kurang memberikan
kesempatan untuk mengembangkan daya pikir anak.
·
Peertimbangan dari segi teori keturunan
: akan terjadi proses habis mati pada orang-orang dengan kecerdasan tinggi
karena terlihat dari semakin menurunnya angka kelahiran dalam keluarga dengan
kecerdasan tinggi.
·
Pandangan klinis atau hipotesa mengenai
disharmoni : menurut ahli psikiatri Lange-Eichbaum (1875-1950) maka semua
genius ada dalam kategori gila. Dalam tinjauan klinis hubungan antara
kecerdasan yang tinggi dengan beberapa sifat tertentu, misalnya pengertian yang
cepat, ekstrim peka dalam lapangan emosional dan sosial,mereka selalu dapat
melihat aspek-aspek baru disekeliling mereka,dsb, hal inilah yang membuat
mereka menjadi terasing dan menjadi “aneh”.
·
Menurut hipotesa mengenal hormon :
anak-anak dengan kecerdasan tinggi juga memiliki fisik dan psikis yang sehat.
2.
Penelitian
Mengenal Anak-Anak dengan Kecerdasan Tinggi
Penelitian
yang dilakukan oleh Terman di California (1922/1923) kesimpulannya ada hubungan
antara kelas sosial yang tinggi dengan IQ yang tinggi. Melanjutkan penelitian
Terman seorang peneliti lain, Oden (1968) berpendapat yang intinya adalah
lingkungan yang baik dan penuh stimulasi, terutama jauga sikap ingin
berprestasi baik dan menyelesaikan sesuatu, merupakan persyaratan untuk
mencapai prestasi-prestasi yang tinggi. peneliti lain juga menyatakan bahwa
lingkungan sosial sangat penting, dalam arti positif dan negatif bagi
perkembangan anak-anak dengan kecerdasan tinggi. ada program-program intervensi
yang dapat diterapkan pada anak berkecerdasan tinggi ini, yaitu dikimpulkan
untuk diberikan kursus-kursus tambahan, pengenalan keadaannya seawal
mungkin,dll. Hal ini penting untuk memberikan bimbingan sebaik-baiknya pada
anak dengan kecerdasan tinggi.
BAB
III
PENUTUP
Kesimpulan
·
Pada akhir periode ini diketemukan lebih
banyak perbedaan individual di antara anak-anak, sekarang nampak lebih banyak
perbedaan-perbedaan fisik yang khas daripada dulu.
·
Emansipasi sebagai penemuan identitas
membutuhkan sistem pelajaran yang memperhatikan anak-anak secara individual,
yang berusaha untuk tidak merugikan perkembangan anak masing-masing.
·
Proses-proses belajar dalam tingkah laku
moral memegang peranan yang penting; tetapi juga proses-prose perkembangan
kognitif memberikan pengaruh yang besar akan sikap perkembangan tingkah laku
moral.
·
Piaget beranggapan bahwa setiap
organisme hidup dilahirkan dengan dua kecenderungan fundamental, yaitu
kecenderungan untuk (a) adaptasi dan tendensi (b) organisasi.
·
Intelligensi dan kreativitas tidak
saling berhubungan. Kreativitas didefinisikan sebagai berfikir divergen,
sedangkan intelligensi dianggap sebagai konvergen. Divergen berarti orang
tersebut memberikan jawaban yang asli/original, tidak seperti apa yang
dijawabkkan oleh semua orang. Dan konvergen yaitu cara berfikir normal yang
dipakai kebanyakan orang.
·
Stimulasi perkembangan kompensatoris
tidak akan berhasil bila hanya khusus ditunjukan pada aspek-aspek tingkah laku
yang terpisah saja, misal pada bahasa saja. Selanjutnya dapat dikatakan bahwa
keturunan tidak sepenuhnya menentukan tingkah laku seseorang, melainkan masih
ada kemungkinan untuk dipengaruhi. Hanya satu pengananan yang menyeluruh yaitu
terhadap anak, keluarga, lingkungan (mayarakat) dapat memberikan hasil-hasil
tetap.
·
Anak dengan kecerdasan tinggi diperoleh
dari factor keturunan dan factor pendidikan.
DAFTAR
PUSTAKA
http://bknpsikologi.blogspot.com/2010/11/pengertian-intelegensi.html