PENDAHULUAN
PERKEMBANGAN
PSIKOANALITIK
FREUD DAN ERICSON
A.
Latar
Belakang
Erikson dalam membentuk
teorinya berkaitan erat dengan kehidupan
pribadinya, dalam hal ini mengenai pertumbuhan
egonya. Erikson berpendapat bahwa pandangannya sesuai dengan ajaran dasar
psikoanalisis yang diletakkan oleh Freud. Jadi dapat dikatakan bahwa Erikson
adalah seorang post-freudian atau neofreudian.
Akan tetapi, teori Erikson
lebih tertuju pada masyarakat dan kebudayaan. Hal ini terjadi karena dia adalah
seorang ilmuwan yang punya ketertarikan terhadap antropologis yang sangat
besar, bahkan dia sering meminggirkan masalah insting dan alam bawah sadar.
Disatu pihak ia menerima konsep struktur mental
Freud, dan di lain pihak menambahkan dimensi sosial-psikologis pada konsep
dinamika dan perkembangan kepribadian yang diajukan oleh Freud. Bagi Erikson,
dinamika kepribadian selalu diwujudkan sebagai hasil interaksi antara kebutuhan
dasar biologis dan pengungkapannya sebagai tindakan-tindakan sosial. Tampak
dengan jelas yang dimaksudkan dengan psikososial apabila istilah ini dipakai
dalam kaitannya dengan perkembangan. Secara khusus hal ini berarti bahwa
tahap-tahap kehidupan seseorang dari lahir sampai dibentuk oleh
pengaruh-pengaruh sosial yang berinteraksi dengan suatu organisme yang menjadi
matang secara fisik dan psikologis.
Sedangkan konsep perkembangan
yang diajukan dalam teori psikoseksual yang menyangkut tiga tahap yaitu oral,
anal, dan genital, diperluasnya menjadi delapan tahap sedemikian rupa. Sehingga dimasukkannya cara-cara dalam mana
hubungan sosial individu terbentuk dan dibentuk oleh perjuangan-perjuangan
insting pada setiap tahapnya.
Teori Erik Erikson dipilih dan disajikan dalam buku yang berjudul “Personality
Theory Researche” oleh Pervin dan Jhon, sebab dianggap sebagai teori yang mendukung perkembangan dalam
ilmu psikologi. Dengan kata lain teori Erikson dikatakan sebagai salah satu
teori yang sangat selektif karena didasarkan pada tiga alasan. Alasan pertama,
teorinya sangat representatif dikarenakan memiliki kaitan atau hubungan dengan
ego, yang merupakan salah
satu aspek kepribadian manusia. Kedua, menekankan pada pentingnya perubahan
yang terjadi pada setiap tahap perkembangan. Dan
yang ketiga adalah menggambarkan secara eksplisit mengenai usahanya dalam
mengabungkan pengertian klinik dengan sosial dan latar belakang yang dapat
memberikan kemajuan dalam perkembangan kepribadian didalam sebuah lingkungan.
Melalui teorinya Erikson memberikan sesuatu yang baru dalam mempelajari
perilaku manusia dan merupakan suatu pemikiran yang sangat maju guna memahami
persoalan psikologi yang dihadapi oleh manusia pada jaman modern seperti ini.
B.
Rumusan
Masalah
1. Apakah
teori psikoanalitik Sigmund
Frued?
2. Apakah
teori psikoanalitik Frued dan Ericson?
3. Apa
saja tahap-tahap perkembangan
menurut Freud dan Ericson?
4. Apa
perbedaan psikoanalitik Frued dan Ericsomn?
C.
Tujuan
1. Menjelaskan
teori psikoanalitik Sigmund
Frued.
2. Menjelaskan
teori psikoanalitik Frued
dan Ericson.
3. Menjelaskan
tahap-tahap perkembangan
menurut Frued dan Ericson.
4. Menjelaskan
perbedaan psikoanalitik Freud dan Ericson.
PEMBAHASAN
A.
Teori
Psikoanalitik Sigmund Freud
Sigmund Freud, Bapak psikoanalsis ini dilahirkan di Moravia
tanggal 6 Mei 1856 dan meninggal tanggal 23 September 1939. Pada tahun 1873, ia
masuk fakultas kedokteran Universitas Wina, dan tamat pada tahun1881.
Pada tahun 1902, Freud mengundang segelintir dokter-dokter
muda dari Universitas Wina untuk mendiskusikan isu-isu psikologis. Kelima pria itu Freud,
Alfred Adler, Wilhelm Stekel, Max Kahane, dan Rudolf Reitler membentuk
Wednesday Psychological Society, dengan Freud sebagai pemimpin diskusi. Tahun
1908, organisasi ini mengambil nama yang lebih formal yaitu Vienna Psychoanalityc Society. Kemudian
tahun 1910, Freud dan para pengikutnya membentuk Asosiasi Psikoanalisis Internasional (International
Psychoanalitic Association) yang diketuai oleh Carl Jung yang berasal dari
Zurich.
B.
Teori
Psikoanalitik Freud dan Ericson
1.
Psikoanalitik Freud
Psikoanalitik Freud mempelajari perkembangan
kepribadian dan ia berpendapat bahwa tujuan dari perkembangan adalah terbentuknya
kepribadian dewasa yang matang, bebas dari anxiety (kecemasan) yang tidak sadar
dan mampu mengadakan hubungan yang sehat dengan manusia lain. Menurut Freud,
struktur kepribadian terdiri dari id, ego dan super ego.
Taraf kepribadian yang terendah adalah id, merupakan kumpulan dorongan yang bersifat
biologis, instingtif dan primitif. Id bekerja berdasarkan prinsip kenikmatan
(pleasure principle) yang menuntut pemuasan segera. Dengan semakin bertambahnya ego, maka anak dapat membedakan antara dorongan di dalam dirinya
dengan kenyataan. Ia mulai dapat menyesuaikan diri pada tuntutan kenyataan.
Realitas menuntut adanya peraturan dan peraturan menuntut adanya pengendalian
terhadap rangsangan-rangsangan dan keinginan-keinginan.
Pada taraf ego ini, yang bekerja adalah
reality principle. Dengan prinsip ini anak dapat menyesuaikan diri dengan
tuntutan sosial dan kebudayaan. Super Ego mulai berkembang pada umur 4-6 tahun,
karena pada usia ini anak sudah bisa menyesuaikan diri dengan lingkungan
(bersosialisasi). Bila ego merupakan aspek eksekutif dari kepribadian, maka
super ego merupakan aspek legislatif dan yudikatif. Super ego/kata hati merupakan
larangan dan sangsi terhadap pemuasan langsung dari dorongan-dorongan. Super
ego terbentuk secara tidak sadar melalui pengalaman masa kecil terutama dari
hasil pendidikan orang tua. Super ego memberi kritik terhadap pikiran dan
tindakan ego dan akan menimbulkan perasaan guilty dan anxiety (takut dan cemas)
bila super ego dilanggar.
2. Teori Psikoanalitik Ericson
Erik Erikson lahir di Franfrurt Jerman,
pada tanggal 15 Juni 1902. Dia ahli analisa jiwa dari Amerika, yang membuat
kontribusi-kontribusi utama dalam pekerjaannya di bidang psikologi pada
pengembangan anak dan pada krisis identitas. Ayahnya (Danish) telah meninggal
dunia sebelum ia lahir. Hingga akhirnya saat remaja, ibunya (yang seorang
Yahudi) menikah lagi dengan psikiater yang bernama Dr. Theodor Homberger.
Psikoanalisa Erikson
Erikson dalam membentuk teorinya secara baik, sangat berkaitan erat
dengan kehidupan pribadinya. Dalam hal ini mengenai pertumbuhan egonya.Erikson berpendapat bahwa
pandangannya sesuai dengan ajaran dasar psikoanalisis yang diletakkan oleh
Freud. Jadi dapat dikatakan bahwa Erikson adalah seorang post-freudian atau
neofreudian. Akan tetapi, teori Erikson lebih tertuju pada masyarakat dan kebudayaan.
Hal ini terjadi karena dia adalah seorang ilmuwan yang punya ketertarikan
terhadap antropologis yang sangat besar, bahkan dia sering meminggirkan masalah
insting dan alam bawah sadar. Oleh sebab itu, maka di satu pihak ia menerima
konsep struktur mental Freud, dan di lain pihak menambahkan dimensi
sosial-psikologis pada konsep dinamika dan perkembangan kepribadian yang
diajukan oleh Freud.
C. Tahap-tahap Freud dan Ericson
1. Menurut
Frued
a.
Tahap Oral (lahir
sampai sekitar usia 1 tahun)
Tahap ini
dimulai ketika bayi lahir. Pada tahap ini, kepuasaan oral menjadi pusat dari
kehidupan individu. Pada tahap ini, sesuai dengan kebutuhan dasarnya untuk
bertahan hidup, bayi menikmati kepuasaan dengan menghisap dan menerima
rangsangan melalui mulutnya.
b. Tahap
Anal (1-3 tahun)
Pada tahap
anal, anak-anak memasuki masa toilet training (masa yang tepat untuk melatih
buang air kecil dan buang air besar pada tempatnya.
c. Tahap
Phalik (3-5 tahun)
Pada tahap ini,
daerah erogen (daerah yang sensitif terhadap rangsangan) adalah wilayah
kemaluan. Anak-anak mulai tertarik mengamati alat kelaminnya dan alat kelamin
orang lain. Biasanya
pada tahap ini anak-anak suka memegang-memegang alat kelaminnya dan seolah-olah
mendapatkan kepuasaan dari perilaku tersebut.
d. Tahap
Laten (5 tahun sampai awal masa puber)
Pada tahap ini
dorongan seksual tidak menonjol dan cenderung ditekan. Anak –anak akan
memunculkan energi libido dalam bentuk-bentuk
yang lebih diterima secara sosial.
e. Tahap
Genital (masa remaja)
Pada tahap ini
fokus energi kembali ke area alat kelamin dan individu mulai tertarik untuk
menjalin hubungan dengan teman yang berbeda jenis kelaminya.
2. Menurut Ericson
a. Trust
vs. Mistrust (kepercayaan vs. ketidak
percayaan)
Secara kronologis,
tahap ini adalah periode dari bayi lahir sampai usia 1 atau 2 tahun. Bayi yang
mendapatkan perawatan penuh kasih sayang dan cinta dari orang-orang
disekitarnya, akan
mengembangkan rasa percaya,
rasa aman dan harapan dalam kehidupannya. Sedangkan bayi
yang kurang mendapatkan kasih sayang, kurang terpenuhi kebutuhannya, dan kurang
dicintai akan mengembangkan perasaan tidak aman dan kurang dapat mempercayai lingkungannya.
b. Tahap
autonomy vs. Shame, doubt (otonomi vs. rasa malu dan keragu-raguan)
Menurut
Ericson, tahap kedua ini terjadi selama masa kanak-kanak awal, sekitar usia 2
samapai 4 tahun. Usia
ini bukan berarti bahwa mereka dapat mengambil inisiatif sendiri dan mampu
melakukan semuanya sendiri, namun lebih pada kemampuan menunjukkan keinginannya
sendiri, menolak sesuatu yang tidak dikehendaki, dan mencoba sesuatu yang
diinginkan.
c. Initiative
vs. Guilt (prakarsa vs. rasa bersalah)
Tahap ini
dilalui selama ‘usia bermain’ atau tahun-tahun terakhir masa pra-sekolah
(sekitar usia 3 sampai 5 tahun).
Anak-anak yang dapat berkembang secara sehat akan mengalami:
1)
Belajar berimajinasi untuk memperluas
keterampilannya termasuk dalam bermain.
2) Bekerja
sama dengan orang lain;
3) Memimpin
dan dipmpin
Anak-anak yang
kurang dapat berkembang secara sehat akan mengalami:
1) Ketakutan;
2) Kurang
dapat bergabung dalam kelompok;
3) Lebih
tergantung pada orang dewasa;
4) Terhambat
perkembangan imajinasi dan perilaku bermainnya.
d. Tahap
ini anak-anak melalui usia sekolah atau
sekitar usia 5 atau 6 sampai usia 12 tahun.
Tahap ini
anak-anak harus mempelajari keterampilan yang lebih formal, seperti:
1) Berhubungan
dengan teman sebaya berdasar pada atauran-aturan tertentu;
2) Berkembang
dari pola bermain yang bebas menuju permainan yang menggunakan aturan dan
memerlukan kerja sama kelompok; dan
3) Menguasai
materi pelajaran sosial, membaca, dan metematika.
Anak-anak yang
berhasil melalui tahap sebelumnya akan menjadi anak yang memiliki rasa percaya
dan rasa aman yang tinggi dan memiliki inisiatif yang tinngi. Sedangkan bagi
anak-anak yang pemalu dan penuh rasa bersalah akan mengembangkan perasaan
inferior atau kurang berharga dibandingkan dengan orang lain.
e. Identity
and Repudiation vs. identity Diffusion (identitas vs. kekaburan identitas)
Tahap ini
remaja (sekitar usia 13 atau 14 sampai usia sekitar 20 tahun). Ericson percaya bahwa
ketika individu berhasil melalui masa remaja awal, kematangan diri tercapai.
Pada kondisi ini, individu mencapai keyakinan dirinya. Remaja mencoba mencari
model (seseorang yang dapat dijadikan contoh dan secara bertahan mengembangkan
nilai-nilaiidealbagi kehidupannya.
f. Intimacy
and Solidarty vs. Isolation (keintiman dan solidaritas vs. isolasi)
Pada tahap dewasa awal, individu mulai
mengembangkan hubungan sosial yang mengarah kepada ikatan perkawinan atau hubungan
persahabatan yang erat dan bertahan dalam waktu yang panjang.
g. Generativity
vs. Self –absorption (kebangkitan vs. kemandegan)
Pada tahap
dewasa, individu dituntut mampu menempatkan peran dirinya secara tepat, baik
dalam kerangka
perkawinan dan pengasuhan
anak, maupun dalam dunia kerja agar lebih kreatif dan produktif, dan juga dalam
peran dilingkungan sosial sebagai bagian dari lingkungan kemasyarakatan.
h. Integrity
vs. Despair (integritas vs. kekecewaan)
Apabila tujuh
tahap sebelumnya dapat dilalui dengan berhasil oleh individu maka individu akan
mencapai penilaian tertinggi: integritas. Individu akan memiliki rasa percaya
pada dirinya dan tidak tergantung pada orang lain, mengembangkan konsep yang
positif , dapat menjalin hubungan yang kuat dan realistis tanpa rasa bersalah
dan penyesalan, dan dia bangga atas apa yang dia dikerjakan dan dicapai:
keluarganya,pekerjaannya, dan kegemarannya.
Jika ada yang krisis
pada tahap-tahap sebelumnya yang individu belum dapat menyelesaikannya maka
akan memunculkan rasa bersalah, penyelesalan, dan rasa putus asa.
D.
Perbedaan
Psikoanalitik Freud dan Ericson
Freud
|
Erikson
|
Peranan/fungsi id dan ketidaksadaran sangat penting
|
Peran/fungsi
ego lebih ditonjolkan, yang berhubungan dengan tingkah laku yang nyata.
|
Hubungan
segitiga antara anak, ibu dan ayah menjadi landasan yang terpenting dalam
perkembangan kepribadian.
|
Hubungan-hubungan
yang penting lebih luas, karena mengikutsertakan pribadi-pribadi lain yang
ada dalam lingkungan hidup yang langsung pada anak. Hubungan antara anak dan orang tua melalui pola pengaturan bersama (mutual
regulation).
|
Orientasi
patologik, mistik karena berhubungan dengan berbagai hambatan pada struktur
kepribadian dalam perkembangan kepribadian.
|
Orientasinya
optimistik, kerena kondisi-kondisi dari pengaruh lingkungan sosial yang ikut
mempengaruhi perkembang kepribadian anak bisa diatur.
|
Timbulnya berbagai hambatan dalam
kehidupan psikisnya karena konflik internal, antara id dan super ego.
|
Konflik timbul antara ego dengan
lingkungan sosial yang disebut: konflik sosial.
|
PENUTUP
KESIMPULAN
Psikoanalitik Freud mempelajari perkembangan kepribadian dan berpendapat
bahwa tujuan dari perkembangan adalah terbentuknya kepribadian dewasa yang
matang, bebas dari anxiety (kecemasan) yang tidak sadar dan mampu mengadakan
hubungan yang sehat dengan manusia lain.
Psikoanalisa Erikson
Erikson dalam membentuk teorinya secara baik,
sangat berkaitan erat dengan kehidupan pribadinya dalam hal ini mengenai
pertumbuhan egonya. Erikson berpendapat bahwa pandangan-pandangannya sesuai
dengan ajaran dasar psikoanalisis yang diletakkan oleh Freud. Jadi dapat
dikatakan bahwa Erikson adalah seorang post-freudian atau neofreudian. Akan
tetapi, teori Erikson lebih tertuju pada masyarakat dan kebudayaan.
DAFTAR PUSTAKA
lusi Nuryanti,
2008, Psikologi Anak, Jakarta.PT Indenks
Suryabrata Sumadi.
Psikologi Kepribadian. PT. Raja Grafindo Persada. Jakarta. 2003.
Calvin S.H. and
Gardner. L.,1978, Theory of Personality, Santa Barbara: New York.
Djiwandono, S. E.,
2003, Psikologi Pendidikan, PT Grasindo: Jakarta.
Fred Weinstein,
1931, Freud Psychoanalysis Social Theory, New York Press: Albany.
Greenberg, J. R.,
1942, Object Relations in Psychoanalysis Theory, Library of Congress
Cataloging in Publication Data: USA.
Routledge, 2005, Psychoanalytic
Theory fo Social Work Practice, Oxford.
Soeryobroto,Soemadi.1980.Pskologi
Kepribadian.Teruna:Yogyakarta.
