Kumpulan Puisi Karya Chairil Anwar
Jumat, 10 Januari 2014 by Unknown in



Kumpulan Puisi Karya Chairil Anwar
DIPONEGORO
Di masa pembangunan ini
tuan hidup kembali
Dan bara kagum menjadi api

Di depan sekali tuan menanti
Tak gentar. Lawan banyaknya seratus kali.
Pedang di kanan, keris di kiri
Berselempang semangat yang tak bisa mati.

MAJU
Ini barisan tak bergenderang-berpalu
Kepercayaan tanda menyerbu.

Sekali berarti
Sudah itu mati.

MAJU
Bagimu Negeri
Menyediakan api.

Punah di atas menghamba
Binasa di atas ditindas
Sesungguhnya jalan ajal baru tercapai
Jika hidup harus merasai

Maju
Serbu
Serang
Terjang

CINTAKU JAUH DI PULAU
Cintaku jauh di pulau,
gadis manis, sekarang iseng sendiri

Perahu melancar, bulan memancar,
di leher kukalungkan ole-ole buat si pacar.
angin membantu, laut terang, tapi terasa
aku tidak ‘kan sampai padanya.

Di air yang tenang, di angin mendayu,
di perasaan penghabisan segala melaju
Ajal bertakhta, sambil berkata:
“Tujukan perahu ke pangkuanku saja,”

Amboi! Jalan sudah bertahun ku tempuh!
Perahu yang bersama ‘kan merapuh!
Mengapa Ajal memanggil dulu
Sebelum sempat berpeluk dengan cintaku?!

Manisku jauh di pulau,
kalau ‘ku mati, dia mati iseng sendiri.

YANG TERAMPAS DAN YANG PUTUS
kelam dan angin lalu mempesiang diriku,
menggigir juga ruang di mana dia yang kuingin,
malam tambah merasuk, rimba jadi semati tugu
di Karet, di Karet (daerahku y.a.d) sampai juga deru dingin
aku berbenah dalam kamar, dalam diriku jika kau datang
dan aku bisa lagi lepaskan kisah baru padamu;
tapi kini hanya tangan yang bergerak lantang
tubuhku diam dan sendiri, cerita dan peristiwa berlalu beku

PERSETUJUAN DENGAN BUNG KARNO
Ayo ! Bung Karno kasi tangan mari kita bikin janji
Aku sudah cukup lama dengan bicaramu
dipanggang diatas apimu, digarami lautmu
Dari mulai tgl. 17 Agustus 1945
Aku melangkah ke depan berada rapat di sisimu
Aku sekarang api aku sekarang laut

Bung Karno ! Kau dan aku satu zat satu urat
Di zatmu di zatku kapal-kapal kita berlayar
Di uratmu di uratku kapal-kapal kita bertolak & berlabuh

DERAI DERAI CEMARA
cemara menderai sampai jauh
terasa hari akan jadi malam
ada beberapa dahan di tingkap merapuh
dipukul angin yang terpendam

aku sekarang orangnya bisa tahan
sudah berapa waktu bukan kanak lagi
tapi dulu memang ada suatu bahan
yang bukan dasar perhitungan kini

hidup hanya menunda kekalahan
tambah terasing dari cinta sekolah rendah
dan tahu, ada yang tetap tidak terucapkan
sebelum pada akhirnya kita menyerah

SENJA DI PELABUHAN KECIL 
buat: Sri Ajati 
Ini kali tidak ada yang mencari cinta
di antara gudang, rumah tua, pada cerita
tiang serta temali. Kapal, perahu tiada berlaut
menghembus diri dalam mempercaya mau berpaut

Gerimis mempercepat kelam. Ada juga kelepak elang
menyinggung muram, desir hari lari berenang
menemu bujuk pangkal akanan. Tidak bergerak

AKU
Kalau sampai waktuku
‘Ku mau tak seorang kan merayu
Tidak juga kau
Tak perlu sedu sedan itu
Aku ini binatang jalang
Dari kumpulannya terbuang
Biar peluru menembus kulitku
Aku tetap meradang menerjang
Luka dan bisa kubawa berlari
Berlari
Hingga hilang pedih peri
Dan aku akan lebih tidak perduli
Aku mau hidup seribu tahun lagi

Model Pembelajaran Contextual Teaching and Learning (CTL)
by Unknown in

Model Pembelajaran Contextual Teaching and Learning (CTL)
 
Permasalah terbesar yang dihadapi para peserta didik sekarang (siswa) adalah mereka belum bisa menghubungkan antara apa yang mereka pelajari dan bagaimana pengetahuan itu akan digunakan. Hal ini dikarenakan cara mereka memperolah informasi dan motivasi diri belum tersentuh oleh metode yang betul-betul bisa membantu mereka. Para siswa kesulitan untuk memahami konsep-konsep akademis (seperti konsep-konsep matematika, fisika, atau biologi), karena metode mengajar yang selama ini digunakan oleh pendidik (guru) hanya terbatas pada metode ceramah. Di sini lain tentunya siswa tahu apa yang mereka pelajari saat ini akan sangat berguna bagi kehidupan mereka di masa datang, yaitu saat mereka bermasyarakat ataupun saat di tempat kerja kelak. Oleh karena itu diperlukan suatu metode yang benar-benar bisa memberi jawaban dari masalah ini. Salah satu metode yang bisa lebih memberdayakan siswa dalah pendekatan kontekstual (Contextual Teaching and Learning / CTL)

Contextual Teaching and Learning (CTL) adalah sistem pembelajaran yang cocok dengan kinerja otak, untuk menyusun pola-pola yang mewujudkan makna, dengan cara menghubungkan muatan akademis dengan konteks kehidupan sehari-hari peserta didik. Hal ini penting diterapkan agar informasi yang diterima tidak hanya disimpan dalam memori jangka pendek, yang mudah dilupakan, tetapi dapat disimpan dalam memori jangka panjang sehingga akan dihayati dan diterapkan dalam tugas pekerjaan.

CTL disebut pendekatan kontektual karena konsep belajar yang membantu guru mengaitkan antara materi yang diajarkannya dengan situasi dunia nyata siswa dan mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupan mereka sebagai anggota masyarakat.

Menurut teori pembelajran kontekstual, pembelajaran terjadi hanya ketika siswa (peserta didik) memproses informasi atau pengetahuan baru sedemikian rupa sehingga dapat terserap kedalam benak mereka dan mereka mampu menghubungannya dengan kehidupan nyata yang ada di sekitar mereka. Pendekatan ini mengasumsikan bahwa pikiran secara alami akan mencari makna dari hubungan individu dengan linkungan sekitarnya.

Berdasarkan pemahaman di atas, menurut metode pembelajaran kontekstual kegiatan pembelajaran tidak harus dilakukan di dalam ruang kelas, tapi bisa di laboratorium, tempat kerja, sawah, atau tempat-tempat lainnya. Mengharuskan pendidik (guru) untuk pintar-pintar memilih serta mendesain linkungan belajar yang betul-betul berhubungan dengan kehidupan nyata, baik konteks pribadi, sosial, budaya, ekonomi, kesehatan, serta lainnya, sehingga siswa memiliki pengetahuan/ ketrampilan yang dinamis dan fleksibel untuk mengkonstruksi sendiri secara aktif pemahamannya.

Dalam linkungan seperti itu, para siswa dapat menemukan hubungan bermakna antara ide-ide abstrak dengan aplikasi praktis dalam konteks dunia nyata; konsep diinternalisasi melalui menemukan, memperkuat, serta menghubungkan. Sebagai contoh, kelas fisika yang mempelajari tentang konduktivitas termal dapat mengukur bagaimana kualitas dan jumlah bahan bangunan mempengaruhi jumlah energi yang dibutuhkan untuk menjaga gedung saat terkena panas atau terkena dingin. Atau kelas biologi atau kelas kimia bisa belajar konsep dasar ilmu alam dengan mempelajari penyebaran AIDS atau cara-cara petani bercocok tanam dan pengaruhnya terhadap lingkungan.

Dengan menerapkan CTL tanpa disadari pendidik telah mengikuti tiga prinsip ilmiah modern yang menunjang dan mengatur segala sesuatu di alam semesta, yaitu: 1) Prinsip Kesaling-bergantungan, 2) Prinsip Diferensiasi, dan 3) Prinsip Pengaturan Diri.

Prinsip kesaling-bergantungan mengajarkan bahwa segala sesuatu di alam semesta saling bergantung dan saling berhubungan. Dalam CTL prinsip kesaling-bergantungan mengajak para pendidik untuk mengenali keterkaitan mereka dengan pendidik lainnya, dengan siswa-siswa, dengan masyarakat dan dengan lingkungan. Prinsip kesaling-bergantungan mengajak siswa untuk saling bekerjasama, saling mengutarakan pendapat, saling mendengarkan untuk menemukan persoalan, merancang rencana, dan mencari pemecahan masalah. Prinsipnya adalah menyatukan pengalaman-pengalaman dari masing-masing individu untuk mencapai standar akademik yang tinggi.

Prinsip diferensiasi merujuk pada dorongan terus menerus dari alam semesta untuk menghasilkan keragaman, perbedaan dan keunikan. Dalam CTL prinsip diferensiasi membebaskan para siswa untuk menjelajahi bakat pribadi, memunculkan cara belajar masing-masing individu, berkembang dengan langkah mereka sendiri. Disini para siswa diajak untuk selalu kreatif, berpikir kritis guna menghasilkan sesuatu yang bermanfaat.

Prinsip pengaturan diri menyatakan bahwa segala sesuatu diatur, dipertahankan dan disadari oleh diri sendiri. Prinsip ini mengajak para siswa untuk mengeluarkan seluruh potensinya. Mereka menerima tanggung jawab atas keputusan dan perilaku sendiri, menilai alternatif, membuat pilihan, mengembangkan rencana, menganalisis informasi, menciptakan solusi dan dengan kritis menilai bukti. Selanjutnya dengan interaksi antar siswa akan diperoleh pengertian baru, pandangan baru sekaligus menemukan minat pribadi, kekuatan imajinasi, kemampuan mereka dalam bertahan dan keterbatasan kemampuan.

Kembali ke konsep tentang CTL. Dalam pembelajaran kontekstual guru dituntut membantu siswa dalam mencapai tujuannya. Maksudnya adalah guru lebih berurusan dengan strategi dari pada memberi informasi. Di sini guru hanya mengelola kelas sebagai sebuah tim yang bekerja sama untuk menemukan sesuatu yang baru bagi siswa. Kegiatan belajar mengajar (KBM) lebih menekankan Student Centered daripada Teacher Centered. Menurut Depdiknas guru harus melaksanakan beberapa hal sebagai berikut: 1) Mengkaji konsep atau teori yang akan dipelajari oleh siswa. 2) Memahami latar belakang dan pengalaman hidup siswa melalui proses pengkajian secara seksama. 3) Mempelajari lingkungan sekolah dan tempat tinggal siswa yang selanjutnya memilih dan mengkaiykan dengan konsep atau teori yang akan dibahas dalam pembelajaran kontekstual. 4) Merancang pengajaran dengan mengkaitkan konsep atau teori yang dipelajari dengan mempertimbangkan pengalaman yang dimiliki siswa dan lingkungan hidup mereka. 5) Melaksanakan penilaian terhadap pemahaman siswa, dimana hasilnya nanti dijadikan bahan refeksi terhadap rencana pemebelajaran dan pelaksanaannya.

Kurikulum dan pengajaran yang didasarkan pada strategi pembelajaran kontekstual harus disusun untuk mendorong lima bentuk pembelajaran penting: Mengaitkan, Mengalami, Menerapkan, Kerjasama, dan Mentransfer.

MENGAITKAN: Belajar dalam konteks pengalaman hidup, atau mengaitkan. Guru menggunakan strategi ini ketia ia mengkaitkan konsep baru dengan sesuatu yang sudah dikenal siswa. Jadi dengan demikian, mengaitkan apa yang sudah diketahui siswa dengan informasi baru. Kurikulum yang berupaya untuk menempatkan pembelajaran dalam konteks pengalaman hidup harus bisa membuat siswa memperhatian kejadian sehari-hari yang mereka lihat, peristiwa yang terjadi di sekitar, atau kondisi-kondisi tertentu, lalu mengubungan informasi yang telah mereka peroleh dengan pelajaran kemudian berusaha untuk menemukan pemecahan masalah terhadap permasalahan tersebut.

MENGALAMI: Belajar dalam konteks eksplorasi, mengalami. Mengalami merupakan inti belajar kontekstual dimana mengaitkan berarti menghubungkan informasi baru dengan pengelaman maupun pengetahui sebelumnya. Belajar dapat terjadi lebih cepat ketika siswa dapat memanipulasi peralatan dan bahan-bahan dan untuk melakukan bentuk-bentuk penelitian aktif.

MENERAPKAN: Menerapkan konsep-konsep dan informasi dalam konteks yang bermanfaat bagi diri siswa. Siswa menerapkan suatu konsep ketika ia malakukan kegiatan pemecahan masalah. Guru dapat memotivasi siswa dengan memberikam latihan yang realistik dan relevan.

KERJASAMA: Belajar dalam konteks berbagi, merespons, dan berkomunikasi dengan siswa lain adalah strategi pengajaran utama dalam pengajaran kontekstual. Siswa yang bekerja secara individu sering tidak membantu kemajuan yang signifikan. Sebaliknya, siswa yang bekerja secara kelompok sering dapat mengatasi masalah yang komplek dengan sedikit bantuan. Pengalaman bekerja sama tidak hanya membantu siswa mempelajari materi, juga konsisten dengan dunia nyata. Seorang karyawan yang dapat berkomunikasi secara efektif, yang dapat berbagi informasi dengan baik, dan yang dapat bekerja dengan nyaman dalam sebuah tim tentunya sangat dihargai di tempat kerja. Oleh karena itu, sanat penting untuk mendorong siswa mengembangkan keterampilan bekerja sama ini.

MENTRASFER: Belajar dalam konteks pengetahuan yang ada, atau mentransfer, menggunakan dan membangun atas apa yang telah dipelajari siswa. Peran guru membuat bermacam-macam pengelaman belajar dengan focus pada pemahaman bukan hapalan.

Menurut Depdiknas untuk penerapannya, pendekatan kontektual (CTL) memiliki tujuah komponen utama, yaitu konstruktivisme (constructivism), menemukan (Inquiry), bertanya (Questioning), masyarakat-belajar (Learning Community), pemodelan (modeling), refleksi (reflection), dan penilaian yang sebenarnya (Authentic). Adapaun penjelasannya sebagai berikut:

1. Konstruktivisme (constructivism). Kontruktivisme merupakan landasan berpikir CTL, yang menekankan bahwa belajar tidak hanya sekedar menghafal, mengingat pengetahuan tetapi merupakan suatu proses belajar mengajar dimana siswa sendiri aktif secara mental mebangun pengetahuannya, yang dilandasi oleh struktur pengetahuanyang dimilikinya.

2. Menemukan (Inquiry). Menemukan merupakan bagaian inti dari kegiatan pembelajaran berbasis kontekstual Karen pengetahuan dan keterampilan yang diperoleh siswa diharapkan bukan hasil mengingat seperangkat fakta-fakta tetapi hasil dari menemukan sendiri. Kegiatan menemukan (inquiry) merupakan sebuah siklus yang terdiri dari observasi (observation), bertanya (questioning), mengajukan dugaan (hiphotesis), pengumpulan data (data gathering), penyimpulan (conclusion).

3. Bertanya (Questioning). Pengetahuan yang dimiliki seseorang selalu dimulai dari bertanya. Bertanya merupakan strategi utama pembelajaan berbasis kontekstual. Kegiatan bertanya berguna untuk : 1) menggali informasi, 2) menggali pemahaman siswa, 3) membangkitkan respon kepada siswa, 4) mengetahui sejauh mana keingintahuan siswa, 5) mengetahui hal-hal yang sudah diketahui siswa, 6) memfokuskan perhatian pada sesuatu yang dikehendaki guru, 7) membangkitkan lebih banyak lagi pertanyaan dari siswa, untuk menyegarkan kembali pengetahuan siswa.

4. Masyarakat Belajar (Learning Community). Konsep masyarakat belajar menyarankan hasil pembelajaran diperoleh dari hasil kerjasama dari orang lain. Hasil belajar diperolah dari ‘sharing’ antar teman, antar kelompok, dan antar yang tau ke yang belum tau. Masyarakat belajar tejadi apabila ada komunikasi dua arah, dua kelompok atau lebih yang terlibat dalam komunikasi pembelajaran saling belajar.

5. Pemodelan (Modeling). Pemodelan pada dasarnya membahasakan yang dipikirkan, mendemonstrasi bagaimana guru menginginkan siswanya untuk belajar dan malakukan apa yang guru inginkan agar siswanya melakukan. Dalam pembelajaran kontekstual, guru bukan satu-satunya model. Model dapat dirancang dengan ,elibatkan siswa dan juga mendatangkan dari luar.

6. Refleksi (Reflection). Refleksi merupakan cara berpikir atau respon tentang apa yang baru dipelajari aau berpikir kebelakang tentang apa yang sudah dilakukan dimasa lalu. Realisasinya dalam pembelajaran, guru menyisakan waktu sejenak agar siswa melakukan refleksi yang berupa pernyataan langsung tentang apa yang diperoleh hari itu.

7. Penilaian yang sebenarnya ( Authentic Assessment). Penialaian adalah proses pengumpulan berbagai data yang bisa memberi gambaran mengenai perkembangan belajar siswa. Dalam pembelajaran berbasis CTL, gambaran perkembangan belajar siswa perlu diketahui guru agar bisa memastikan bahwa siswa mengalami pembelajaran yang benar. Fokus penilaian adalah pada penyelesaian tugas yang relevan dan kontekstual serta penilaian dilakukan terhadap proses maupun hasil.

Kelebihan & Kekurangan Contextual Teaching and Learning

Kelebihan
1. Pembelajaran menjadi lebih bermakna dan riil. Artinya siswa dituntut untuk dapat menagkap hubungan antara pengalaman belajar di sekolah dengan kehidupan nyata. Hal ini sangat penting, sebab dengan dapat mengorelasikan materi yang ditemukan dengan kehidupan nyata, bukan saja bagi siswa materi itu akan berfungsi secara fungsional, akan tetapi materi yang dipelajarinya akan tertanam erat dalam memori siswa, sihingga tidak akan mudah dilupakan.
2. Pembelajaran lebih produktif dan mampu menumbuhkan penguatan konsep kepada siswa karena metode pembelajaran CTL menganut aliran konstruktivisme, dimana seorang siswa dituntun untuk menemukan pengetahuannya sendiri. Melalui landasan filosofis konstruktivisme siswa diharapkan belajar melalui ”mengalami” bukan ”menghafal”.

Kelemahan

1. Guru lebih intensif dalam membimbing. Karena dalam metode CTL. Guru tidak lagi berperan sebagai pusat informasi. Tugas guru adalah mengelola kelas sebagai sebuah tim yang bekerja bersama untuk menemukan pengetahuan dan ketrampilan yang baru bagi siswa. Siswa dipandang sebagai individu yang sedang berkembang. Kemampuan belajar seseorang akan dipengaruhi oleh tingkat perkembangan dan keluasan pengalaman yang dimilikinya. Dengan demikian, peran guru bukanlah sebagai instruktur atau ” penguasa ” yang memaksa kehendak melainkan guru adalah pembimbing siswa agar mereka dapat belajar sesuai dengan tahap perkembangannya.
2. Guru memberikan kesempatan kepada siswa untuk menemukan atau menerapkan sendiri ide–ide dan mengajak siswa agar dengan menyadari dan dengan sadar menggunakan strategi–strategi mereka sendiri untuk belajar. Namun dalam konteks ini tentunya guru memerlukan perhatian dan bimbingan yang ekstra terhadap siswa agar tujuan pembelajaran sesuai dengan apa yang diterapkan semula.


Diringkas Dari Berbagai Sumber:
What is Contextual Teaching and Learning
The REACT Strategy
Menyusun Model Pembelajaran Contextual Teaching and Learning (CTL)
Pendekatan Kontekstual atau Contextual Teaching and Learning (CTL)


Sumber: http://nadhirin.blogspot.com/2010/03/model-pembelajaran-contextual-teaching.html

ANAK PRA-SEKOLAH DAN ANAK SEKOLAH
by Unknown in

BAB I
PENDAHULUAN
A.  Latar Belakang
         Tujuan utama pendidikan prasekolah adalah membantu anak didik mengembangkan berbagai potensi baik psikis dan fisik yang meliputi moral dan nilai-nilai agama, sosial emosional, kognitif, bahasa, fisik/motorik, kemandirian dan seni untuk siap memasuki pendidikan dasar (Puskur, 2003). Berkaitan dengan hal tersebut, ada beberapa fungsi pendidikan pra sekolah, yang mana salah satu diantaranya adalah untuk menyiapkan anak didik memasuki pendidikan dasar. Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa selain bertujuan dan berfungsi untuk menstimulasi tumbuh kembang anak, pendidikan pra-sekolah sesungguhnya juga berperan penting untuk mengembangkan kesiapan anak didik dalam memasuki pendidikan sekolah dasar.Hasil penelitian yang dikemukakan oleh Wylie (1998) menunjukkan bahwa anak-anak yang mengikuti pendidikan pra-sekolah memperlihatkan prestasi belajar yang lebih baik di sekolah dasar dibandingkan dengan murid-murid yang tidak mengikuti pendidikan pra-sekolah. Menurut Wylie (1998), beberapa penelitian bahkan menunjukkan bahwa murid-murid mendapatkan manfaat yang lebih besar bila pendidikan pra-sekolah itu sudah dimulai sebelum umur tiga tahun (umur dimulainya pendidikan pra-sekolah di kebanyakan negara). Sebagaimana juga ditunjukkan oleh hasil penelitian mutakhir di Selandia Baru, bahwa anak-anak yang mengalami paling tidak tiga tahun pendidikan pra-sekolah memperlihatkan skor yang lebih tinggi pada tes kompetensi dibanding sebayanya pada usia 10 tahun (Wylie dan Thompson, 2003). Secara umum, menurut Stipek dan Ogawa (Kagan dan Hallmark, 2001), program-program pra-sekolah ditemukan memberikan manfaat jangka pendek maupun jangka panjang, seperti prestasi akademik yang lebih tinggi, angka tinggal kelas yang lebih rendah, angka kelulusan yang lebih tinggi, dan angka kenakalan yang lebih rendah dikelak kemudian hari. Berdasarkan beberapa hasil penelitian sebagaimana dikemukakan di atas, dapat disimpulkan bahwa, sesungguhnya selain berfungsi untuk menstimulasi dan mengoptimalkan tumbuh kembang anak, pendidikan pra-sekolah juga memiliki pengaruh yang cukup besar terhadap kesiapan anak dalam memasuki jenjang pendidikan sekolah dasa

B.  Rumusan Masalah
1.      Bagaimana  perkembangan jasmani dan psiko-motorik anak usia pra sekolah dan anak sekolah ?
2.      Bagaimana emansipasi anak usia pra sekolah dan anak sekolah karena pendidikan formal ?
3.      Bagaimana perkembangan sosial dan kepribadian anak usia pra sekolah dan anak  sekolah ?
4.      Bagaimana perkembangan kognitif  pada anak usia pra sekolah dan anak sekolah ?
5.      Bagaimana intelligensi serta keberhasilan anak usia pra sekolah dan anak sekolah di sekolah ?
6.      Bagaimana Permasalahan stimulasi Perkembangan Kompensatoris anak usia pra sekolah dan anak sekolah ?
7.      Bagaimana Anak-anak dengan kecerdasan tinggi?

C.  Tujuan
Berdasarkan rumusan masalah diatas, maka tujuan pembahasan yang ingin dicapai adalah sebagai berikut:
·         Mengetahui perkembangan jasmani dan psiko-motorik anak usia pra sekolah dan sekolah.
·         Mengetahui emansipasi anak usia pra sekolah dan sekolah karena pendidikan formal
·         Mengetahui perkembangan sosial dan kepribadian anak usia pra sekolah dan sekolah
·         Mengetahui perkembangan kognitif pada anak usia pra sekolah dan sekolah
·         Mengetahui intelligensi serta keberhasilan anak usia pra sekolah dan sekolah di sekolah
·         Mengetahui Permasalahan stimulasi Perkembangan Kompensatoris anak usia pra sekolah dan sekolah























BAB II
PEMBAHASAN
ANAK PRA-SEKOLAH DAN ANAK SEKOLAH
A.   Perkembangan Jasmani dan Psiko-Motorik
Sampai dengan Gestaltwandel pertama(zaller, 1952: Hetzer, 1961) sekitar umur 6 tahun terlihat bahwa badan anak bagian atas lebih lamban berkembangnya daripada badan bagian bawah. Anggota-anggota badan masih relatif pendek, kepala relative besar dan ada gigi susu. Sesudah Gestaltwandel pertama bila anak sudah mencapai bentuk orang dewasa daripada misalnya anak umur 2 tahun. Bertambahnya berat badan sebagian besar merupakan akibat bertambahnya jaringan urat daging. Dalam keseluruhannya maka keadaan jasmani anak menjadi lebih stabil dan lebih kuat.
Sebagai akibat bertambahnya diferensiasi myelinisasi (myeline= suatu zat seperti lemak dalam sungsum tulang  belakang dan  urat syaraf)dalam susunan urat syaraf maka kecakapan-kecakapan motorik bertambah banyak. Pada umur 5 tahun keseimbangan badan anak sudah berkembang cukup baik, anak sudah pandai berjalan, dapat naik tangga, melompat dari tanah dengan kedua kakainya bersam-sama dan sering juga sudah dapat bersepeda.
      Sesudah  Gestaltwandel pertama, jadi sesudah usia 6 tahun, pertumbuhan badan agak lambat daripada waktu-waktu sebelumnya. Sampai umur 12 tahun anak bertambah panjang 5 sampai 6 cm tiap tahunnya. Sampai umur 10 tahun dapat dilihat bahwa anak laki-laki agak lebih besar sedikit daripada anak perempuan, sesudah itu maka wanita lebih unggul dalam panjang badan, tetapi sesudah kurang lebih 15 tahun anak laki-laki mengejarnya dan tetap unggul daripada anak wanita.
      Berat badan anak bertambah lebih banyak daripada panjang badannya. Pada akhir periode ini diketemukan lebih banyak perbedaan individual di antara anak-anak, sekarang Nampak lebih banyak perbedaan-perbedaan fisik yang khas daripada dulu.  
      Seperti telah diketemukan di muka maka pada permulaan masa sekolah, jadi sekitar 6 tahun kaki dan tangan menjadi lebih panjang, dada dan panggul lebih besar. Dalam hal ini hamper tidak ada perbedaan-perbedaan karena jenis seks. Pada umumnya ada ralasi yang tepat dalam perkembangan tulang-tulang dan jaringan-jaringan. Dengan terus bertambahnya berat dan kekuatan badan dapat diharapkan kemampuan-kemampuan seperti lari, meloncat dan melempar akan bertambah dalam masa ini. Dari itu juga Nampak anak-anak makin bertambah cepat larinya. Dalam hal ini sekali lagi adap perbedaan-perbedaan disetiap anak.
      Pada usia 6 tahun keseimbangan badannya relative berkembang baik. Penguasaan badan seperti membongkok, melakukan berbagai macam latihan senam dan aktivitas olahraga berkembang pada masa sekolah. Juga berkembang kordinasi mata-tangan (visio-motorik) yang dibutuhkan untuk membidik, menyepak, melempar dan menangkap.
      Kekuatan badan dan kekuatan tangan pada anak laki-laki sangat bertambah antara usia 6 sampai 12 tahun.  Dalam masa ini juga ada perubahan-perubahan dalam sifat dan frekuensi motorik kasar dan halus. Ternyata bahwa kecakapan-kecakapan motorik ini  makin disesuaikan dengan “keleluasaan” lingkungan. Gerakan-gerakan motorik sekarang makin tergantung daripada aturan-aturan formal dan aturan-aturan yang telah ditentukan dan bersifat kurang sepontan. Gerakan-gerakan yang sangat banyak dilakukan oleh anak makin berkurang pada masa ini.
      Hal yang perlu selalu dibicarakan adalah gejala bentuk badan yang dianggap mempunyai hubungan yang langsung dengan beberapa sifat kepribadian tertentu. Sheldom membuat pembagian ke dalam 3 macam tipe, yaitu
1.      Endomorph(pendek dan gemuk)
2.      Ektomorf(panjang dan kurus)
3.      Mesomorf(urat-urat daging kuat dengan proporsi yang baik)

Verdonk(1972) berusah untuk membenarkan typology konstitusi tubuh shaldom tersebut dengan penelitian yang mendalam terhadap anak-anak yang ada dalam yayasan-yayasan. Verdonck menemukan adanya hubungan antara tipe konstitusi tubuh tadi dengan tingkah laku – tingkah laku tertentu. Ia menunjukkan adanya hubungan sebab akibat langsung antara bentuk tubuh dan tingkah laku tangan. Dia dapat menunjukkan bahwa type-type tersebut mempunyai pre-disposisi untuk belajar tingkah laku –tingkah laku tertentu. Jadi dapat disimpulkan di sini bahwa suatu type tertentu tadi tidak langsung berhubungan dengan suatu tingkah, melainkan mempunyai lebih banyak kemungkinan untuk mengembangkan beberapa bentuk tingkah laku tertentu. Hal tersebut dianggap tidak hanya dapat terjadi pada orang dewasa, melainkan sudah memegang peran penting dala masa kanak-kanak dalam anak belajar tingkah laku. 

B.   Emansipasi Karena Pendidikan Formal
Sejak lama kriteria bagi anak untuk dapat diterima di sekolah adalah “kemasakan” dahulu sebelum ia diterima di sekolah dasar. Bagi Indonesia kriteria umur memegang peranan penting. Anak baru bisa diterima bila ia sudah mencapai umur 7 tahun. Kriteria umur ini sebetulnya mencakup kriteria lain yang juga berhubungan dengan kemasakan, yaitu:
1.      Anak harus dapat bekerjasama dalam kelompok dengan anak lain, yaitu anak tidak boleh masih tergantung pada ibunya, melainkan harus dapat menyesuaikan dirinya dengan kelompok teman-teman sebayanya.
2.      Anak harus dapat mengamati secara analitik. Ia harus sudah dapat mengenal bagian-bagian dari keseluruhannya dan dapat menyatukan kembali bagian-bagian tersebut.
3.      Anak secara jasmaniah harus sudah mencapai bentuk anak sekolah. Petunjuk untuk ini adalah kalau sudah dapat memegang telinga kirinya dengan tangan kanan melalui atas kepalanya.
Kriteria apapun yang akan dipilih namun selalu ada yang bersifat  “sekehendak”. Kalau dilihat kepandaian saja, sebetuknya sangat mungkin kalau anak-anak umur 3 atau 4 tahun sudah masuk sekolah asal kriterianya diubah dan dikdaktiknya disesuaikan. Misalnya tekhnik membaca sudah dapat diajarkan pada anak-anak umur 3 tahun, asal dipakai cara-cara yang tepat. Namu mengajari anak membaca sebelum waktunya juga mempunyai segi-segi negatif, misalnya:
1.      Seringkali anak diberi pelajaran membaca pada waktu sangat muda untuk memuaskan kebanggaan orang tuanya.
2.      Kalau anak mengerti bahwa ia sudah mengerti apa yang akan dipelajarkan di kelas satu hal itu akan menurunkan motivasi belajarnya dan menyebabkan sikap yang negatif terhadap tugas-tugas yang harus diakukannya.
Suatu masalah yang khusus dalam hubungan  ini adalah mengenai anak-anak yang sangat pandai. Keinginan belajar mereka pada usia yang sangat muda menyebabkan mereka “secara main-main” sudah balajar membaca sebelum mereka pergi ke sekolah. Sangat disayangkkan bahwa penampungan yang sesuai bagi mereka baik di Indonesia maupun negara-negara Eropa masih belum ada. Mengenai anak-anak yang sangat pandai ini akan dibicarakan lebih lanjut pada pasal 4.7
      Dalam memberikan bimbingan yang lebih baik pada anak maka dapat dianjurkan untuk memilih istilah “kemampuan sekolah” daripada “kemasakan sekolah”.
Kriteria “kemasakan sekolah” tersebut ternyata belum dapat menjamin keberhasilan anak di kelas, karena “masak sekolah” belum tentu mampu bersekolah.
      Test yang dikembangkan di Nijmegen (NST) yang merupakan pengolahan test Gopinger dari Jerman mengungkap kemampun sekolah anak. Test ini dilengkapi dengan sebuah daftar pertanyaan untuk orang tua dan daftar pertanyaan untuk guru TK. Daftar pertanyaan berhubungan dengan 3 aspek tingkah laku, yaitu penyesuaian sosial(S), kemapuan kerja (W), dan sikap mandiri (Z).
Di Indonesia telah ada laporan mengenai penggunaan NST di Bandung dan menghasilkan  data sebagai berikut : bahwa pada tiga kriteria yang  pokok, yaitu penyesuaian anak, kemampuan kerja, dan sikap mandiri anak-anak yang dikenakan test, diketemukan sikap mandiri  memperolah sekor yang sangat rendah.
      Akhirnya hal yang perlu diperhatikan di sini ialah bahwa pendidikan harus berusaha untuk berusaha menolong anak sesuai dengan kemampuan masing-masing supaya akhirnya ia berhasil dalam plajarannya. Bila ini dipakai sebagai patokan, maka sekaligus ada jaminan bahwa tiap anak dapat melanjutkan emansipasinya. Emansipasi sebagai penemuan identitas membutuhkan sistem pelajaran yang memperhatikan anak-anak secara individual, yang berusaha untuk tidak merugikan perkembangan anak masing-masing. Bila “individualisai” ini tidak ada, maka akan sukar bagi anak untuk menemukan identitas dirinya, untuk mendapatkan konsep dirinya. Hal ini dibutuhkan untuk mengembangkan kemungkinan-kemungkinannya dalam hubungan dengan lingkungannya.
C.   Perkembangan Sosial dan Kepribadian
      Perkembangan sosial dan kepribadian dimulai dari usia pra sekolah sampai akhir masa sekolah ditandai oleh meluasnya lingkungan sosial. Meluasnya lingkungan sosial bagi anak menyebabkan anak menjumpai pengaruh-pengaruh yang ada di luar pengawasan orang tuanya. Mereka mempunyai teman untuk bergaul,mempunyai guru-guru yang mempunyai pengaruh yang sangat besar dalam proses emansipasinya.


1.      Interaksi dengan Anak-Anak Sebaya
            Dalam T.K dan S.D anak mempunyai kontak yang intensif dengan teman-teman sebayanya. Di sini anak-anak biasanya berusaha untuk menjadi anggota suatu kelompok,kelompok-kelompok seperti ini terdapat dalam Taman Kanak-kanak dan Sekolah Dasar.
            Pada mulanya anak tidak mengerti tingkah laku apa yang dipuji atau dihargai dan tingkah laku apa yang tidak dipuji dan dihargai. Sering dapat diihat anak bahwa anak menirukan anggota kelompok yang paling aktifdan paling berkuasa. Dan barulah pada usia 10 dan 14 tahun timbullah suatu kelompok yang ada organisasinya,dengan aturan-aturan dan perjanjian-perjanjian. Hartup (1970) menemukan bahwa kebanyakan penelitian mengenal pengaruh timbal  balik dilakukan pada anak-anak sekolah. Anak laki-laki lebih mempengaruhi anak laki-laki yang lain daripada abak wanita dan sebaliknya. Juga dapat dilihat bahwa anak-anak yang lebih tua lebih cepat dipengaruhi oleh teman-teman mereka sebaya daripada oleh anak-anak yang lebih muda. Diteukan juga anakyang tertua lebh udah berpengaruh oleh norma-norma kelompok dan oleh rang-orang lain disbanding dengan adik-adiknya. Hal ini dapat diterangkan sebagai berikut :
1.      Anak-anak sulung diduga menerima pendidikan yang lebih berobah-obah dibandingkan dengan adik-adiknya.
2.      Anak-anak sulung lebih menerima perlindungan, di samping itu maka tingkah laku yang konformistis dan tergantung mendapat pujian.
Dapat dikemukakan bahwa konformisme tadi lebih ditentukanoleh factor-faktor situasional
Daripada oleh sifat-sifat kepribadian anak. Pertama kali yang dicari anak adalah kontak yang menyenangkan. Bila konformisme merupakan syarat untuk memperoleh kontak, maka anak akan mudah untuk menyesuaikan dirinya. Pada uraian-uraian berikutnya akan  nampak bahwa sifat-sifat peranan yang penting dalam persoalan tingkah laku konformistis ini. Sejumlah besar tingkah laku timbul dengan cara menirukan ,belajar-model,dan oleh reinforsemen dari pihak teman-teman sebaya. Di sini sudah awal dapat nampak pemilihan (preferences)  yang khas menurut jenis kelamin serta cara-cara member pengaruh.
Spontanitas versus sikap terkontrol
            Sikap spontan atau tidak spontan anak-anak pra sekolah mungkin dipengaruhi oleh sifat suatu kebudayaan tertentu. Sikap yang tidak wajar pada anak-anak pra-sekolah tersebut adalah adanya hambatan-hambatan psikis yang mengganggu penyesuaian anak-anak tersebut. Di sini sebetulnya persepsi anak terhadap perintah dan larangan itu yang mungkin lebih penting daripada perintah atau larangannya sendiri.
2.      Perkembangan Motivasi Prestasi
            Setiap tingkah laku pasti mempunyai motif. Setiap perbuatan dan tindakan mempunyai dasar,mempunyai motif.  Salah satu aspek kepribadian seseorang yang paling banyak diteliti adalah mengenai motivasi prestasi. Harus juga dibedakan mengenai kebutuhan dan motif. Karena kebutuhan adalah merupakan dasar timbulnya motif. Memang ada kebutuhan-kebutuhan dasar,tetapi motif-motif yang timbul selama hidup ada sangat banyak. Pada umumnya dibedakan antara motivasi yang intrinsik dan yang ekstrinsik. Motivasi yang intrinsic berarti bahwa suatu perbuatan memang diinginkan karena seseorang senang melakukannya. Sebaliknya, motivasi ekstrinsik berarti bahwa sesuatu perbuatan yang dilakukan atas dasar dorongan atau paksaan dari luar.
            Suatu motif mempunyai 3 macam unsure :
1.      Motif mendorong terus, memberikan energi pada suatu tingkah laku (merupakan dasar energetic)
2.      Motif menseleksi tingkah laku, menentukan arah apa yang akan dan tidak akan dilakukan.
3.      Motif mengatur tingkah laku artinya bila sudah memilih salah satu arah perbuatan maka arah itu akan tetap dipertahankan.
Dalam setiap motif dapat diketemukan kembali dua struktur dasar. Yaitu Pengharapan akan sukses dan Ketakutan akan gagal.
Di antara usia 3 dan 4 tahun nampak jelas adanya tingkah laku yang mengarah prestasi. Penelitian Heckhausen dan Roelofsen (1962) menemukan bahwa anak-anak yang sehat pada usia 3½ tahun menunjukan semua ciri-ciri tingkah laku kompetisi. Di sini dijelaskan bahwa anak-anak mulai 3½ tahun sudah mampu untuk membandingkan prestasi-prestasi mereka dengan prestasi penelitiannya.
Ini adalah ciri-ciri motivasi prestasi,yaitu untuk melakukan sesuatu yang lebih baik, dibanding dengan suatu standar keunggulan. Standar keunggulan tadi dapat berhubungan dengan (a) prestasi orang lain, (b) prestasi diri sendiri yang lampau dan dengan (c) tugas yang harus dilakukannya.  Anak-anak sekarang dari usia 3½ tahun juga lebih mampu untuk menghubungkan berhasil atau tidaknya sesuatu perbuatan dengan dirinya sendiri.
           Dipandang dari segi psikolog perkembangan dapat ditemukan bahwa kecenderungan berprestasi ini harus diberi stimulasi bila kita akan menyambut dorongan manipulasi dan eksplorasi anak. 
3.      Perkembangan Identitas Jenis Kelamin atau Tingkah Laku Sesuai dengan Jenis Kelamin
            Mengenai perkembangan tingkah laku sesuai dengan jenis kelamin. Faktor-fakto biologis merupakan dasar bagi perkembangan tingkah laku spesifik jenis kelamin proses-proses belajar sosial sejak awal telah menyumbang pada kenyataan bahwa identitas kelamin terjadi melalui norma-norma sosial yaitu melalui penilaian apa yang baik atau tidak baik bagi anak laki-laki atau anak wanita.
Meskipun adanya keterbatasan dalam mengadakan  generalisasi, tidak dapatnya mengintrpretasi secara meraata mengenai hasil-hasil yang didapat serta adanya faktor situasi yang menentukan tingkah laku spesifik jenis kelamin, namun dapat ditentukan atas dasar penelitian-penelitian pada tahun terakhir , bahwa:
·         Agresi (mulai tahun ke 2) lebih banyak terdapat pada anak laki-laki
·         Aktivitas (mulai tahun ke 3) lebih banyak terdapat pada anak laki-laki
·         Dominasi (mulai tahun ke 4) lebih banyak di jumpai padaanaak laki-laki
·         Impulsivitas (mulai usia prasekolah) lebih banyak dijumpai pada anak laki-laki
·         Kecemasan (mulai 8 atau 9tahun) lebih bannnyak pada anak wanita
·         Kecakapan-kecakapan verbal (pada suatu kelompok kecil anak wanita mlai 4 tahun, tetapi pada umumnya 11 atau 12 tahun) terdapat pada anak wanita lebih banyak dari anak laki-laki
·         Kecakapan pengamatan ruang (mulai 11 atau 2 tahun) lebih kuat pada anak laki-laki
·         Pengertian kuantitatif (mulai 10 tahun) lebih baik pada anak laki-laki.

4.      Perkembangan Pengertian Norma
            Pengertian norma atau moralitas merupakan hal yang sangat penting bagi perkembangan kepribadian dan sosial anak, moralitas termasuk bidang etika. Beberapa teori mengenai moralitas,yaitu teori psikoanalisa,teori kognitif dan teori belajar. Di sini psikoanalisa ada 3 bagian dalam diri seseorang yang akan berkembang menurut urutan sebagai berikut : das Es, das Ich dan das Ueber Ich. Das Es yaitu impuls-impuls nafsu. Das Ich lalu menjaga supaya hubungan dengan realitas dapat dikoordinasi dan akhirnya das Ueber Ich merupakan bagiannya yang membawakan norma-normanya, perintah-perintah dan larangan-larangannya yang diberikannya oleh dunia keliling.
            Ueber Ich maka situasi Oedipus mempunyai arti yang pokok, anak antara 3 dan 4 tahun. Ueber Ich harus dipandang sebagai suatu instansi dengan norma-norma yang telah di internalisasi atau di troyeksi. Kesediaan anak untuk merasa berdosa sebagai factor pokok bagi tumbuhnya kata hati. Laki-laki pada umumnya mempunyai moralitas lebih keras daripada anak wanita. Masalah besar yang timbul oleh dugaan ini ialah adanya kesukaran untuk membuktikannya secara empiric. Setelah umur 8 tahun anak menjadi lebih fleksibel dalam penilaian-penilaiannya dan lebih mampu untuk memperhatikan factor-faktor situasional dalam menilai sesuatu. Apa yang disebut tanggung jawab obyektif dan tanggung jawab subyektif dapat diterangkan dengan contoh berikut : selalu nampak suatu akibat sesuatu maksud yang baik  dan maksud yang tidak baik.
            Ternyata bahwa anak-anak sampai umur ± 8 tahun terutama melihat akibat-akibat materilnya. Sesudah usia ini nampak bahwa motif-motif dan maksud-maksud orang ikut diperhitungkan.Menurut Kohlberg perkembangan insan kamil melalui 6 stadium (tingkatan).
Stadium 1.       Menurut untuk menghindari hukuman.
Stadium 2.       Anak bersikap konformistis untuk memperoleh hadiah,untuk dipandang baik.
Stadium 3.       Anak bersikap konformistis  untuk menghindari celaan dan untuk disenangi orang lain.
Stadium 4.       Anak bersikap konformistis untuk menghindari hukuman yang diberikan bagi beberapa tingkah laku tertentu dalam kehidupan bersama.
Stadium 5.       Konformistis sekarang dilakukan karena menginginkan kehidupan bersama yang diatur.
Stadium 6.       Melakukan konformitas tidak karena perintah atau  norma dari luar, melainkan  karena keyakinan sendiri ingin melakukannya.
            Kohlberg menemukan suatu penemuan yang tak terduga,yaitu para mahasiswa yang sebelum memasuki Perguruan Tinggi telah memasuki stadium ke 4 dan ke 5, segera kembali lagi pada stadium 2. Hal ini diterangkannya sebagai berikut : Karena para mahasiswa ini ada dalam situasi-situasi baru,maka secara fungsional mereka jatuh kembali pada tingkat yang lebih rendah,meskipun secara struktual tingkat yang lebih tinggi tetap ada. Hal ini diterangkan dari kenyataan bahwa sesudah para mahasiswa tadi meninggalkan (lulus) dari Perguruan Tinggi atau juga sudah sebelumnya,kembali lagi dapat berfungsi dengan baik padatingkat stadium yang telah dicapainya dulu. Masih ada satufaktor lagi yangditunjukkannya, yaitu mengenai hubungannya antara perkembangan tingkah laku moral dan peranan yang diharapkan kepada sesorang.
            Kohlberg menemukan bahwa para ibu-ibu rumah tangga pada umumnya aada pada stadium 3; menurut Kohlberg hal itu disebabkan karena mereka tidak banyak dituntut untuk mengambil keputusan-keputusan yang berhubungan dengan moral dan insane kamil. Mereka ditempatkan pada peranan yang membutuhkan berfungsi pada stadium 3 atau 4 saja.
            Teori belajar mengemukakan bahwa semua tingkah laku adalah tingkah laku yang dipelajari , teori ini menolak dengan tegas bahwa manusia mempunyai suatu sifat bawaan , baik itu sifat yang baik maupun yang tidak baik. Menurut pendapat ini kata hati merupakan suatu sisstem norma-norma yang telah diinternalisasi (merasuk menjadi milik pribadi seseorang). Hal ini berarti bahwa seseorang akan tetap melakukan norma-norma tadi meskipun tidak ada control dari luar.
Peneliti-peneliti yang menganut pendapat ini berusaha untuk menyelidiki fenomena kata hati melalui pernyataan-pernyataan mengenai:
a.       Reaksi-reaksi terhadap pelanggaran
b.      Pertahanan terhadap godaan
Dalam hal ini ternyata bahwa cara orang tua mengasuh anak merupakan hal yang pokok. Mempunyai orang tua yang penuh dengan perhatian dan menerima anak dalam keadaan apapun merupakan syarat yang paling utama untuk perkembangan hati-hati yang baik.
Sebagai kesimpulan dapat dikatakan bahwa proses-proses belajar dalam tingkah laku moral memegang peranan yang penting; tetapi juga proses-prose perkembangan kognitif memberikan pengaruh yang besar akan sikap perkembangan tingkah laku moral.
D.   Perkembangan Kognitif
Dalam prinsipnya hal ini berhubungan dengan alat-alat pengenalan dan bentuk bentuk pengenalan. Kognisi adalah pengertian yang luas mengenai berpikir dan mengamati, jadi tingkah laku-tingkah laku yang mengakibatkan orang memperoleh pengetahuan atau yang dibutuhkan untuk menggunakan pengetahuan.Psikolog Swis yang sering disebut dalam buku ini yaitu Piaget telah banyak mempengaruhi psikologi perkembangan dalam hal perkembangan kognisi.
1.      Pengertian-Pengertian Pokok dalam Teori Perkembangan Piaget
Teori Piaget banyak dipengaruhi oleh biologi dan epistemologi (ajaran mengenal pengenalan).Biologi: banyak menggunakan pengertian-pengertian yang langsung diambil dari biologi. Epistemologi: perhatian terhadap cabang ilmu pengetahuan ini antara lain nampak dalam penelitian empirik terhadap timbulnya pengertian-pengertian atau konsep-konsep waktu, ruang, kausalitas, dan kesadaran akan aturan.
Piaget beranggapan bahwa setiap organisme hidup dilahirkan dengan dua kecenderungan fundamental, yaitu kecenderungan untuk adaptasi dan tendensi untuk organisasi.
a.      Adaptasi
adaptasi dapat dilukiskan sebagai kecenderungan bawaan setiap organisme untuk menyesuaikan diri dengan lingkungannya. Kecenderungan ini mempunyai dua komponen atau dua proses yang komplementer yaitu,
1)      Asimilasi, yaitu kecenderungan organisme untuk mengubah lingkungannya guna menyesuaikannya dengan dirinya sendiri. Suatu contoh yang sederhana dalam lapangan biologik adalah makan.
2)      Akomodasi, yaitu kecenderungan organisme untuk merubah dirinya sendiri guna menyesuaikan diri dengan kelilingnya.Suatu contoh dalam lapangan biologi dapat dikemukakan lagi mengenai makanan.
b.      Kecenderungan organisasi
Hal ini dapat dilukiskan sebagai kecenderungan bawaan setiap organisme untuk mengintegrasi proses-prosesnya sendiri menjadi sistem-sistem yang koheren.
Pengertian “ekuilibrium” atau “keseimbangan” juga menduduki tempat yang penting dalam teori Piaget. Prinsip ekuilibrium yang bersifat biologik ini menjaga agar perkembangan tidak merupakan hal yang tidak karuan, melainkan suatu proses yang teratur, proses-proses asimilasi dan akomodasi yang komplementer menyebabkan seseorang selalu berusaha mencapai keadaan yang seimbang lagi.
Pengertian “keseimbangan” menunjuk pada relasi antara individu dan kelilingnya dan terutama sekali pada relasi antara struktur kognitif individu dan struktur kelilingnya. Di sini ada keadaan seimbang bila individu tidak lagi perlu mengubah hal-hal dalam kelilingnya untuk mengadakan asimilasi dan juga tidak lagi harus mengubah dirinya sendiri untuk mengadakan akomodasi dengan hal-hal yang baru.Piaget memang hanya ingin menunjukkan bahwa menurut pendapatnya dalam perkembangan berfikir manusia ada suatu arah menuju ke harmoni dan keteraturan.
Piaget mencoba untuk menemukan suatu analogi dalam nivo tingkah laku. Analogi ini ditunjukkannya dengan pengertian “struktur psikologis” atau “skema”. Ia membedakan antara skema-skema sensori motorik atau juga skema-skema tingkah laku dan skema-skema operasional atau juga skema-skema kognitif.
Skema adalah suatu abstraksi dari aktivitas manusia, bukan sesuatu yang dapat ditunjukkan secara konkrit dengan salah satu cara pada salah satu tempat tertentu. Menurut Piaget skema-skema ini pada mulanya bersifat senson motoris dan merupakan struktur psikologik anak umur sampai ± 2 tahun belum nampak adanya mediasi dalam arti “aktivitas pikir yang intern”. Mulai umur ± 2 tahun di samping skema-skema sensori motorik anak juga memiliki skema-skema kognitif atau operasional.
Suatu skema memungkinkan anak untuk mempelajari respons-respons baru. Hal ini disebabkan oleh proses akomodasi.
Skema-skema tertentu yang ada serta bergaul dengan lingkungan memberikan sumbangan yang besar dalam menambah luasnya pengertian anak. Di sini menjadi jelaslah bahwa anak lebih banyak mengerti daripada yang dapat dinyatakan dan dikatakan. Di sini juga letaknya salah satu titik tolak Furth yang pokok, yaitu bahwa jelas sampai usia 7 atau 8 tahun berpikir anak harus dipandang lepas dari bahasanya (Furth, 1996).
2.      Representasi  Dunia dan Stadium-Stadium dalam Perkembangan Kognitif
Dunia orang dewasa adalah teratur. Hal-hal yang ada dalam diri manusia seperti perasaan, pikiran, impian, keinginan, dan hal-hal yang ada di luar diri manusia seperti rumah, pohon, obyek-obyek tertentu, sertadunia sosial manusia dapat diatur. Hal-hal itu dapat diperlakukan oleh orang dewasa secara obyektif karena mereka dapat dipandang sebagai semestinya dan tidak merupakan hal wajar bagi anak. Anak belum mengalami distansi yang jelas dengan dunia luar. Permanensi obyek atauformasi obyek merupakan suatu langkah yang penting dalam penyusunan gambaran dunia. Hal ini juga menjadi persyaratan yang mutlak untuk dapat memperlakukan obyek-obyek dari keliling secara simbolis.
Schenk – Danziger (1972) dalam hubungan ini mengemukakan bahwa pengertian akan simbol-simbol serta memiliki tanggapan-tanggapan terjadi bersama-sama dengan perkembangan bahasa serta permainan peranan. Ia juga mengemukakan bahwa permainan peranan mempunyai cirri-ciri yang juga merupakan persyaratan bagi pemakaian bahasan dan bekerja dengan simbol-simbol, yaitu:
·         Sikap memperlakukan hal-hal dengan pura-pura
·         Adanya formasi simbol atau pembentukan pengertian semaunya (metamorfosabenda-benda)
·         Mengenakan sifat-sifat manusia pada benda atau hewan (antropomorfisme)
·         Merubah peranan manusia secara fiktif
·         Imitasi tingkah laku atau rangkaian tingkah laku
Representasi dunia luar ke dalam diri sendiri dan dengan begitu cara berpikir mengenai dunia luar berjalan sebagai berikut:
1.      Bayangan (image), merupakan representasi pertama suatu kejadian dan tidak merupakan pencerminan fotografis yang eksak. Misalnya setiap orang mempunya ingatan akan pengalaman tertentu waktu masih kecil.
2.      Simbol, merupakan suatu bentuk representasi lain. Simbol justru melebihi kejadian yang khas danmenunjuk pada sesuatu yang lain daripada hal yang sesungguhnya.
3.      Konsep (pengertian), mulai umur anak pra-sekolah timbullah pada anak kebutuhan untuk mengatur kesan-kesan dan kejadian-kejadian, menemukan hubungan-hubungan dan relasi-relasi kausal.
4.      Aturan, merupakan suatu hubngan antara dimensi  dua pengertian atau lebih.

a.      Stadium Sensori-Motorik (0-18 atau 24 bulan)
Intelegensi anak baru akan nampak dalam bentuk aktivitas motorik sebagai reaksi stimulasi sensorik. Dalam stadium ini yang penting adalah tindakan-tindakan konkrit dan bukan tindakan-tindakan yang imaginer atau hanya dibayangkan saja.
Table gambaran mengenai enam sub stadium sensorimotorik dalam hubungan dengan perkembangan permanensi obyek dan unsure-unsur penting dalam stadium yang berlainan.
Perkembangan kognitif
Permanensi obyek
Stadium 1 (0-1 bulan)
Skema-skema refleks bawaan
Stadium 2 (1-4 bulan)
Skema-skema karena pengaruh pengalaman mengakibatkan koordinasi, antara lain koordinasi mata-tangan. Tertuju pada badan sendiri. Missal mulai 3 bulan monolog meraban, bermain-main dengan jari kakinya sendiri.
Stadium 1 dan 2 (0-4 bulan)
Bayi mengikuti obyek yang bergerak dengan matanya sampai obyek menghilang, perhatiannya segera hilang dan memandang sebentar ke tempat obyek menghilang tadi.
Stadium 3 (4-8 bulan)
Perkembangan skema-skema yang menyebabkan akibat-akibat yang menarik dalam orientasi ekstern. Misalnya membuka pintu atau tas.
Stadium 3 (4-8 bulan)
Mengikuti obyek dengan matanya atau secara visual sampai melampaui tempat menghilangnya obyek, misal membungkuk dari kursi untuk melihat obyek yang jatuh. Dapat mengenal obyek hanya Nampak sebagian.
Stadium 4 (8-12 bulan)
Koordinasi respon-respon stadium 3 mengakibatkan tingkah laku intensional, Nampak seperti inteligen.
Stadium 4 (8-12 bulan)
Mencoba memegang dengan obyek yang menghilang dari pandangan mata. Mencari terusdi tempat menemukan sebelumnya meskipun telah dipindahkan.
Stadium 5 (12-18 bulan)
Trial and error yang aktif, dorongan untuk eksplorasi dan manipulasi dengan obyek-obyek baru.
Stadium 5 (12-18 bulan)
Mencari obyek untuk terakhir kali dilihat yang menghilang
Stadium 6 (18-24 bulan)
Perpindahan dari fungsi sensorok motorik ke fungsi simbolik kognitif (permulaan, berpikir).
Stadium 6 (18-24 bulan)
Anak menggunakan kecakapan simbolik yang baru berkembang untuk membayangkan kemungkinan perpindahan-perpindahan yang tidak Nampak  dari obyek tersembunyi.

b.      Stedium Pra-Operasional (18 bulan- 7 tahun)
Stadium pra-operasional dimilai dengan penguasaan bahasa yang sistematis, permainan simbolis, imitasi serta bayangan dalam mental. Anak mampu berbuat pura-pura, artinya dapat menimbulkan situasi-situasi yang tidak langsung ada. Berpikir pra-operasinal masih sangat egosentrik. Anak belum mampu mengambil perspektif orang lain.
Cara berpikir pra-operasional sangat memusat. Berpikir pra-operasional adalah tidak dapat dibalik (irreversible). Berpikir pra-operasional adalah terarah stasis.
c.       Stadium Operasional Konkrit (7-11 tahun)
Cara berpikir anak yang operasional konkrit kurang ogosentrik. Ditandai dengan desentrasi yang besar, artinya anak sekarang misalnya sudah mampu memperhatikan lebih dari satu dimensi sekaligus dan juga untuk menghubungkan dimensi-dimensi ini satu sama lain. Anak sekarang juga memperhatikan aspek dinamisnya dalam perubahan situasi. Akhirnya ia juga sudah mampu untuk mengerti operasi logisnya reversibilitas.
Kekurangan dalam cara berpikir operasional konkrit yaitu bila anak dihadapkan dengan suatu masalah secara verbal tanpa adanya bahan yang konkrit, maka ia belum mampu menyelesaikan masalah ini dengan baik.
d.      Stadium Operasional Formal (mulai 11 tahun)
Berpikir operasional formal mempunyai dua sifat penting:
1.      Sifat deduktif-hipotesis, bila anak yang berpikir operasional konkrit harus menyelesaikan masalah maka ia langsung memasuki masalahnya.
2.      Barpikir operasional formal juga berpikir kombinatoris, anak yang berpikir operasional konkrit mencoba unruk mencari kemungkinan kombinasi secara tidak sistematik, secara trial and error sampai secara kebetulan ia menemukan kombinasinya.
Dari contoh ini Nampak bahwa berpikir operasional formal memungkinkan orang untuk mempunyai tingkah laku “problem solving” yang betul-betul ilmiah, serta memungkinkan untuk mengadakan pengujian hipotesa dengan varisbel tergantung.
e.       Perpindahan dari Berpikir Pra-Operasional ke Operasional Konkrit
Beberapa tugas kriterium:
1)      Mengatur secara serial, bila anak dalam stadium pra-operasional diberi tugas untuk mengatur beberapa tongkat-tongkat kecil yng berlainan panjangnya, maka ia tidak mampu untuk mengaturnya menurut panjang pendeknya tongkat-tongkat tadi.
2)      Klasifikasi, operasi mengenai inklusi-kelas terletak padapengertian yang benar mengenai hubungan antara bagian-bagian daripada keseluruhan, antara keseluruhan dan bagian-bagian, dan antara bagian dan bagian.
3)      Konservasi, hal ini berhubungandengan pernyataan bagaimana anak memperoleh pengertian bahwa sifat-sifat tertentu sesuatu obyek akan tetap sama meskipun ada transformasi-transformasi pada obyek tadi,
Penelitian Piaget dan orang-orang lain lagi menjelaskan bahwa anak mula-mula (4 tahun) tidak mampu menyelesaikan masalah konservasi. Usia 5 tahun harus dianggap sebaga situasi peralihan, artinya anak kadang-kadang bissa dan kadang-kadang idak bisa menyelesaikan masalahnya. Mulai 3 tahun pertanaan konservasi tidak merupakan masalah lagi bagi anak.
3.       Kekuatan (motor) Perkembangan
Menurut Piaget pertumbuhan mental mengandung 2 macam proses: perkembangan dan belajar. Perkembangan adalah perubahan struktural dan belajar adalah perubahan isi.
Proses perkembangan dipengaruhi oleh 4 macam factor:
a.       Pemasakan
Tumbuhnya struktur-struktur fisik secara berangsur-angsur  mempunyai akibat pada perkembangan kognitif anak.
b.      Pengalaman atau Kontak dengan Lingkungan
Menurut Piaget kontak dengan lingkungan mengakibatkan 2 macam tipe pengalaman mental.
1)      Pengalaman fisik: Yaitu aktifitas – aktifitas yang dapat mengabstraksi sifat – sifat fisik obyek tertentu.Pengalaman fisik ini memberikan pengertian mengenal sifat-sifat yang langsung berhubungan dengan obyeknya sendiri.
2)      Pengalaman logiko-matematik: pengalaman yang tidak datang dari pengalaman fisik, melainkan dari koordinasi internal perbuatan –perbuatan individu.
c.       Penyerahan social
Anak hidup dalam dunia social , dan melalui sekolah , media massa dan lain-lain yang semacam anak memperoleh informasi yang berpengaruh terhadap perkembangan kognitifnya.
d.      Ekwilibrasi
menunjuk pada proses yang mengatur dirinya sendiri dalam diri anak.
Piaget  beranggapan bahwa semua orang dalam konteks kebudayaan apapun akan menjalani keempat macam stadium tadi dengan urutan seperti yang dikemukakannya, hanya kecepatannya dapat berbeda-beda. Seperti seorang anak yang dapat mendengar normal lebih cepat mencapainya dari pada anak yang setengah tuli.
4.      Kritik-Kritik terhadap Teori Piaget
Banyak Kritik-Kritik Terhadap  toeri Piaget, ditujukan pada pendapatnya yang organismik. Menurut pendapat ini maka perkembangan kognitif berjalan melalui stadium- stadium yang mempunyai sifat universal. Perkembangan berjalan spontan dan lingkungan hanya mempunyai pengaruh menghambat atau mempengaruhi sedikit.
Pendapat semacam itu mempunyai konsekuensi yang sungguh-sungguh dalam pendidikan di sekolah. Misalnya cara mengajar klasikal verbal yang konvensional menurut pendapat ini akan mempunyai sedikit pengaruh terhadap perkembangan kognitif anak. Tugas seorang guru di sini adalah menciptakan situasi tertentu supaya apa yang sebetulnya akan di berikan secara verbal pada anak dapat dilakukan sendiri oleh anak dengan berbuat aktif debgan benda-benda.
Tidak mengherankan bahwa teori Piaget ini banyak dipandang sebagai teori yang berdasarkan pessimisme pedagogis. Dari sini sebabnya bahwa orang mengusulkan untuk mengganti system pelajaran yang bersifat anak mendengarkan menjadi system pelajaran yang bersifat anak berbuat aktif.
Tanpa meninjau data yang lebih terperinci, dapat dikemukakan di sini bahwa tidak perlu untuk berpegang teguh pada keterangan-keterangan Piaget; juga dapat disimpulkan bahwa anak mampu untuk melakukan tugas-tugas pada tingkat operasional konkrit pada usia yang lebih muda dari pada yang dikemukakan oleh Piaget.  

E.   Intelligensi Serta Keberhasilan di Sekolah
Sejak beberapa lama “undeachiver” lazim dibicarakan dalam bidang psikologi. Underachiver menunjuk pada seseorang yang memperoleh prestasi-prestasi dibawah kemampuan intelektual yang dimiliki. Di Negeri Belanda kurang lebih 30% dari anak sekolah dasar maupun menengah adalah underachiever. Penyebabnya masalah sosial dan emosional.
      Menurut Hermans (1971), bahwa ketakutan akan gagal murid zaman sekarang mungkin berhubungan dengan situasi pengajaran, tetapi juga dengan situasi hidup keseluruhan. Hal ini disebabkan karena murid semakin dihadapakan dengan kemungkinan pilihan yang lebih banyak di dalam maupun diluar situasi pengajaran. Ketakutan untuk gagal disebabkan oleh keraguan total, yang menyebabkan kapasitas intelektual tidak sepenuhnya dapat bekerja.
      Menurut observasi Haditono masalah underachiever di Indonesia disebabkan suatu kombinasi dari berbagai faktor, diantaranya yaitu:
·         Faktor pertama: kurangnya fasilitas belajar dalam arti luas di sekolah,di pelosok-pelosok, maupun dirumah.
·         Faktor kedua: kurangnya stimulus mental oleh orang tua dirumah. Terutama bagi para orang tua yang tidak berpendidikan.
·         Faktor ketiga: keadaan gizi yang bilamana dapat dicapai tingkat yang lebih tinggi maka secara fisik anak lebih mampu untuk menggunakan kapasitas otaknya lebih banyak.
Kombinasi faktor-faktor ini ditambah dengan keadaan yang kurang menguntungkan seperti: perubahan sistem pelajaran yang berkali-kali dalam menemukan sistem mana yang paling baik. Hingga para pengajar tersebut belum merasa mantap dalam menerapkan sistem yang baru tersebut. Semuanya ini memberikan dampaknya pada prestasi murid dan ikut menyebabkan terjadinya underachiver / prestasi dibawah normal. Intelligensi dianggap sebagai suatu norma yang ditentukan secara statistik. Dalam kenyataanya suatu best intelligensi mengukur status (ukuran) orang dalam kelompok dibanding dengan teman sebayanya.
Semua best intelligensi mendasarkan diri pada suatu teori WISC (Wechlser intelligence Scale for Children) atau dalam versi jerman adalah HAWK (Hamburg Wechsler Intelligenztest fur Kinder) mendasarkan diri pada teori dua faktor Spearman. Menurut Wechsler intelligensi keseluruhan orang tidak dapat diukur. IQ  adalah suatu nilai yang hanya dapat ditentukan secara kira-kira karena selalu dapat terjadi perubahan. Perubahan berdasarkan faktor-faktor individual dan situasional.
     Wechsler memberikan definisi intelligensi sebagai berikut: “intelegensi adalah suatu kecakapan global atau rangkuman kecakapan seseorang untuk dapat bertindak secara terarah, berfikir secara baik,dan bergaul dengan lingkungan secara efisien”(1965, hal.13).
     Wechsler mengartikan global sebagai gambaran tingkah laku individu sebagai keseluruhan, sedangkan rangkuman mengandung arti adanya faktor-faktor spesifik yang berbeda satu sama lain.
     Dari hasil penelitian yang bermacam, bahwa intelligensi itu sama sekali tidak sekonstan yang diduga. Menurut penelitian longitudinal selama 40 tahun, dan  dalam Institut Fels yang mengungkapkan pendapat dari Mc call dkk (1973). Menunjukkan adanya pertambahan rata-rata IQ sebanyak 28 sekor antara usia 5 dan 17  tahun yang berarti sama dengan usia pendidikan disekolah atau pekerjaan.
     Intelligensi dan kreativitas tidak saling berhubungan. Kreativitas didefinisikan sebagai berfikir divergen, sedangkan intelligensi dianggap sebagai konvergen. Divergen berarti orang tersebut memberikan jawaban yang asli/original, tidak seperti apa yang dijawabkkan oleh semua orang. Dan konvergen yaitu cara berfikir normal yang dipakai kebanyakan orang. Menurut (wolters 1986) kreatifitas dan intellegensi tidak harus bersama-sama.
     Disinilah letak salah satu dilema yang besar disekolah. Pada umumnya disekolah diminta intelligensi konvergen, sedangkan kreatifitas justru bukan cara berfikir dan berkata yang sesuai bila sistem pengajaran memperhatikan masing-masing individual, maka individu tersebut akan mendapatkan kesempatan mengembangkan emansipasi dirinya.
F.    Permasalahan Stimulasi Perkembangan Kompensatoris

Sejak 1964 ada aktivitas yang tinggi dan berbagai macam diskusi mengenai stimulasi perkembangan pada masa sebelum umur ± 6 tahun (masa sebelum masuk sekolah dasar).
John Kennedy membuat program penanggulangan kemiskinan, miskin dalam arti materil maupun mental. Pada tahun 1965 diumumkan program ‘’Head Start’’, karena dua alasan yaitu :

1.      Ternyata anak kulit hitam dan anak minoritas lain seperti anak-anak Puerturiko tidak dapat mengunjungi Sekolah Taman Kanak-kanak karena alasan keuangan.Sekolah Taman Kanak-kanak di Amerika sangat mahal karena diselenggarakan swasta.

2.      Dalam waktu yang bersamaan juga terbukti bahwa inteligensi tidak dalam semua aspek ditentukan oleh keturunan, lingkungan dapat mengadakan banyak stimulasi dalam hal prestasi inteligensi.

Menurut Betty Caldwell ( direktris Centre for Early Education and Development di Arkansas) Nampak 4 fase permulaan tahun 1970, yaitu :

1.      Optimisme dan kegairahan pada saat permulaan, ada pengharapan akan perubahan-perubahan esensial.
2.      Tahun 1966 orang menjadi skeptic : data pertama jelas menunjukkan kemajuan ,tetapi efeknya segera hilang (tidak bertahan lama) menyebabkan adanya perubahan programnya.

3.      Tahun 1969 menimbulkan suatu desilusi yang berat.dari 900 proyek,hanya 50 yang berhasil. Tahun itu juga dating tulisan Jensen yang cukup membuat keonaran, timbullah diskusi penuh emosi.

4.      Konsolidasi permulaan 70-an orang menemukan suatu dasar teori dan empiri yang baru, orang mencapai penanganan masalah yang lebih baik dalam hubungan stimulasi perkembangan kompensatorik.

Tulisan Jensen yang cukup membuat keonaran, timbullah diskusi hebat, Jesnsen dalam tulisannya yang tebal mengatakan bahwa apa yang disebut pendidikan kompensatorik sampai sekarang belum membuktikan adanya kemungkinan perbaikan intelegensi dan prestasi sekolah tetap. Dia ingin menunjukkan bahwa faktor keturunan memegang peran lebih besar daripada yang di terima sekarang. Kemudian Jensen berusaha membuktikan bahwa betul-betul ada factor-faktor keturunan yang mempengaruhi timbulnya tingkah laku tertentu.
Contoh :
Ada sejumlah orang mempunyai apa yang disebut sindrom Turner, hal ini merupakan suatu penyimpangan chromoson. Orang normal mempunyai 46 chromoson sedang orang dengan sindrom turner hanya mempunyai 45 chromoson. Mereka tidak punya chromosom kelamin. Orang tersebut mempunyai IQ normal selama testnya berkisar pada test verbal. Menurut Jensen suatu kelainan genetis mempunyai akibat nyata pada proses-proses kognitif.

Penelitian Geber dan Dean  (1964) tentang dua kelompok bayi berkulit hitam, salah stu kelompoknya diasuh dengan cara barat. Akan tetapi kedua kelompok mencapai sekor-sekor yang tinggi pada test Gesell dibandinka dengan norma-norma Eropa. Hasil yang mencolok adalah perkembangan motorik merupakan hal yang umum pada mereka yaitu :

a.       Lima jam sesudah dilahirkan anak sudah melihat sekeliling
b.      Sesudah 22 jam dapat duduk dengan tegak
c.       Umur 7 minggu dapat mengangkat berat badannya sendiri dan melihat sekeliling dengan penuh perhatian
d.      Umur 9 bulan sudah dapat berdiri tegak dan berjalan

Menurut Jensen dikemukakan bahwa IQ orang berkulit putih lebih uggul daripada orang kulit hitam disebabkan oleh cara berfikir. Dia membedakan antar berfikir atau belajar asosiatif (nivo I) dan berfikir atau belajar secara pengertian (nivo II) .

1.      Nivo I ditandai pencatatan atau registrasi secara netral mengenai stimulus-stimulus yang diamati, ditandai pembentukan asosiasi-asosiasi. Dan diukur dengan deret-deret angka, gambar, dan simbol. Nivo I berkembang cepat di tahun-tahun pertama.

2.      Nivo II ditandai transformasi bahan yang telah dipelajari dan bukan merupakan ulangan-ulangan mentah belaka.menyelesaikan suatu masalah, memperlakukan denggan aktif, menambah aspek baru pada hal yang sudah dipelajari ini merupakan cirri nivo II. Dan diukur oleh berbagai test inteligensi yang ada. Nivo II ini berkembang lambat, mencapai puncaknya antara umur 4 dan 6 tahun, kemudian dengan bertambahnya umur menunjukkan kelas-kelas social.

Bagaimanapun luas argumentasi Jensen, namun dia tidak dapat menjelaskan seluruhnya bahwa belajar tidak memberikan pengaruh terhadap perkembangan inteligensi.

Dapat disimpulkan bahwa stimulasi perkembangan kompensatoris tidak akan berhasil bila hanya khusus ditunjukan pada aspek-aspek tingkah laku yang terpisah saja, misal pada bahasa saja. Selanjutnya dapat dikatakan bahwa keturunan tidak sepenuhnya menentukan tingkah laku seseorang, melainkan masih ada kemungkinan untuk dipengaruhi. Hanya satu pengananan yang menyeluruh yaitu terhadap anak, keluarga, lingkungan (mayarakat) dapat memberikan hasil-hasil tetap. Sebelum mengadakan program-program untuk perkembangan anak, harus jelas apakah dapat dipertanggungjawabkan secara etik, dan dari sudut tujuan pendidikan apa usaha tadi akan dilakukan.

G.  Anak-Anak dengan Kecerdasan Tinggi
Psikologi perkembangan memiliki tujuan untuk memberikan kesempatan berkembang yang optimal pada semua anak. Anak-anak yang memiliki kecerdasan sangat tinggi kurang mendapat perhatian, sebaliknya anak-anak yang kurang pandai mendapat banyak perhatian. Nilai IQ yang tinggi tidak bisa menjadi tolak ukur keberhasilan dalam sekolah dan pekerjaan seseorang. Kecerdasan tidak hanya diukur oleh dari intelegensinya saja tetapi juga dilihat dari interaksi sosialnya.
1.      Berbagai Pandangan Mengenai Kecerdasan yang Tinggi
Pandangan terhadap kecerdasan yang tinggi dibedakan kedalam empat kelompok yaitu :
·         Determinan sosio-kultural :  Aselerasi fisik (percepatan pertumbuhan) yang positif disebabkan karena berjalan bersama-sama dengan peningkatan intelegensi. Aselerasi sebagai penunjang meningkatnya syarat-syarat hidup sekaligus menghambat faktor perkembangan. Namun hal yang sebaliknya bisa terjadi bila kemajuan sosial dan masyarakat mengakibatkan kemunduran, misalnya sistem pendidikan kurang baik, kurang memacu sikap mandiri dan kurang memberikan kesempatan untuk mengembangkan daya pikir anak.

·         Peertimbangan dari segi teori keturunan : akan terjadi proses habis mati pada orang-orang dengan kecerdasan tinggi karena terlihat dari semakin menurunnya angka kelahiran dalam keluarga dengan kecerdasan tinggi.

·         Pandangan klinis atau hipotesa mengenai disharmoni : menurut ahli psikiatri Lange-Eichbaum (1875-1950) maka semua genius ada dalam kategori gila. Dalam tinjauan klinis hubungan antara kecerdasan yang tinggi dengan beberapa sifat tertentu, misalnya pengertian yang cepat, ekstrim peka dalam lapangan emosional dan sosial,mereka selalu dapat melihat aspek-aspek baru disekeliling mereka,dsb, hal inilah yang membuat mereka menjadi terasing dan menjadi “aneh”.

·         Menurut hipotesa mengenal hormon : anak-anak dengan kecerdasan tinggi juga memiliki fisik dan psikis yang sehat.

2.      Penelitian Mengenal Anak-Anak dengan Kecerdasan Tinggi
Penelitian yang dilakukan oleh Terman di California (1922/1923) kesimpulannya ada hubungan antara kelas sosial yang tinggi dengan IQ yang tinggi. Melanjutkan penelitian Terman seorang peneliti lain, Oden (1968) berpendapat yang intinya adalah lingkungan yang baik dan penuh stimulasi, terutama jauga sikap ingin berprestasi baik dan menyelesaikan sesuatu, merupakan persyaratan untuk mencapai prestasi-prestasi yang tinggi. peneliti lain juga menyatakan bahwa lingkungan sosial sangat penting, dalam arti positif dan negatif bagi perkembangan anak-anak dengan kecerdasan tinggi. ada program-program intervensi yang dapat diterapkan pada anak berkecerdasan tinggi ini, yaitu dikimpulkan untuk diberikan kursus-kursus tambahan, pengenalan keadaannya seawal mungkin,dll. Hal ini penting untuk memberikan bimbingan sebaik-baiknya pada anak dengan kecerdasan tinggi.

           
                           


           
                           














BAB III
PENUTUP
Kesimpulan
·         Pada akhir periode ini diketemukan lebih banyak perbedaan individual di antara anak-anak, sekarang nampak lebih banyak perbedaan-perbedaan fisik yang khas daripada dulu. 
·         Emansipasi sebagai penemuan identitas membutuhkan sistem pelajaran yang memperhatikan anak-anak secara individual, yang berusaha untuk tidak merugikan perkembangan anak masing-masing.
·         Proses-proses belajar dalam tingkah laku moral memegang peranan yang penting; tetapi juga proses-prose perkembangan kognitif memberikan pengaruh yang besar akan sikap perkembangan tingkah laku moral.
·         Piaget beranggapan bahwa setiap organisme hidup dilahirkan dengan dua kecenderungan fundamental, yaitu kecenderungan untuk (a) adaptasi dan tendensi (b) organisasi.
·         Intelligensi dan kreativitas tidak saling berhubungan. Kreativitas didefinisikan sebagai berfikir divergen, sedangkan intelligensi dianggap sebagai konvergen. Divergen berarti orang tersebut memberikan jawaban yang asli/original, tidak seperti apa yang dijawabkkan oleh semua orang. Dan konvergen yaitu cara berfikir normal yang dipakai kebanyakan orang.
·         Stimulasi perkembangan kompensatoris tidak akan berhasil bila hanya khusus ditunjukan pada aspek-aspek tingkah laku yang terpisah saja, misal pada bahasa saja. Selanjutnya dapat dikatakan bahwa keturunan tidak sepenuhnya menentukan tingkah laku seseorang, melainkan masih ada kemungkinan untuk dipengaruhi. Hanya satu pengananan yang menyeluruh yaitu terhadap anak, keluarga, lingkungan (mayarakat) dapat memberikan hasil-hasil tetap.
·         Anak dengan kecerdasan tinggi diperoleh dari factor keturunan dan factor pendidikan.





























DAFTAR PUSTAKA
http://bknpsikologi.blogspot.com/2010/11/pengertian-intelegensi.html