IDEOLOGI PANCASILA
Rabu, 20 November 2013 by Unknown in



BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
Bangsa Indonesia yang berdasarkan Pancasila, tidak lepas dari pengaruh Globalisasi. Pancasila telah di akui oleh bangsa kita memiliki nilai-nilai kehidupan yang luhur. Pancasila digali dari budaya dan peradaban bangsa Indonesia yang mengandung kebenaran dan nilai luhur bangsa. Pancasila sudah ditetapkan sebagai ideology bangsa yang berarti menjadi pandangan hidup bangsa yang menyentuh seluruh segi kehidupan bangsa. Dengan demikian , pancasila menjadi landasan dan penyaring dalam menyerap dan menerapkan pengaruh asing.
Dinamika globalisasi yang berjalan cepat mengakibatkan batas daerah maupun Negara melemah. Akibat dari arus yang deras ini muncul hubungan secara umum antara manusia dan bangsa. Hubungan yang tanpa batas ini mengakibatkan nilai kemanusiaan yang dimiliki seseorang akan terpengaruh oleh paham atau pola fikir orang lain.
Untuk mangatasi dampak-dampak akibat globalisasi, Pancasila sebagai pandangan hidup dan dasar Negara harus tetap menjadi pijakan dalam bersikap. Karena pancasila dijadikan sebagai dasar Negara maka memiliki posisi yang abadi dalam jiwa bangsa Indonesia. Pancasila bertugas menyaring segala pengaruh yang datang dari luar, Bangsa Indonesia harus memilah mana yang baik dan mana yang buruk dari pengaruh globalisasi sesuai dengan nilai-nilai Pancasila.
Sungguh ironi ketika bangsa ini memiliki generasi yang tidak bisa menyaring pengaruh buruk asing yang bisa membuat dirinya terjerumus ke jalan yang menyesatkannya. Kita sebagai Pendidik dan orang tua wajib menanamkan jiwa Pancasila yang ada di tubuh Negara ini sebagai benteng pengaruh buruk tersebut. Dengan nilai-nilai Agama yang sesuai ajaran Al-Qur’an dan Hadits.

B.     Rumusan Masalah
1.    Apakah arti dari ideologi Pancasila?
2.    Apakah arti dari Globalisasi?
3.    Bagaimana kedudukan pancasila di era Globalisasi?
4.    Apa dampak positif dan negatif globalisasi terhadap pancasila?
5.    Bagaimana pengaruh globalisasi terhadap nilai Nasionalisme di kalangan kenerasi muda?
6.    Bagaimanakah sikap selektif yang harus dimiliki masyarakat untuk menanggapi pengaruh dari adanya Globalisasi?
C.    Tujuan
1.    Menjelaskan arti dari ideologi Pancasila.
2.    Menjelaskan arti dari Globalisasi.
3.    Menjelaskan kedudukan pancasila di era Globalisasi
4.    Menjelaskan dampak positif dan negatif dari globalisasi terhadap pancasila.
5.    Menjelaskan pengaruh globalisasi terhadap nilai Nasionalisme dikalangan generasi muda.
6.    Menjelaskan sikap selektif yang harus dimiliki masyarakat untuk menanggapi pengaruh globalisasi.













BAB II

PEMBAHASAN

A.    Arti atau Makna dari Ideologi Pancasila

Menurut Efriza (2009:80),  ideologi mengacu pada sistem gagasan yang dapat digunakan untuk merasionalisasikan, memberi teguran, serta menjelaskan keyakinan. Seperti pada pancasila sebagai ideologi negara, dalam merasionalkan hal yang empirik dengan melihat kausa materialis dari pancasila. Hal yang dimaksud disini adalah melihat nilai-nilai religius, nilai adat-istiadat, nilai-nilai ketimuran (efriza dalam buku ilmu politik), telah tercermin sebelum masyarakat Indonesia membentuk suatu negara (Kaelan, 2010).
Pada pancasila sebagai teguran, hal yang dimaksud disini adalah  memberi teguran berupa dasar teori dari setiap sila yang dipunyai oleh pancasila. Pancasila digunakan untuk menjelaskan keyakinan bahwa, pancasila sudah seharusnya diyakini karena dengan berbagai teori sudah menjelaskan, seperti teori kausa materialis (bahan), kausaformalis (bentuk),  kausa efisien (karya), kausa finalis (karya).
Ideologi tidaklah sama dengan sebuah ide atau suatu konsep pendapat. Melainkan, ideologi lebih bersifat suatu rangkaian ide yang satu sama lainnya secara logis memiliki keterkaitan. Menurut Roy C. Macridis (dalam Buku Ilmu Politik oleh Efriza), ada empat kriteria untuk membedakan antara ide dan ideologi, dan bila tidak termasuk dari empat kriteria ini maka tidak bisa digolongkan sebagai ideologi yaitu:

1. Comprehensiveness
Yaitu suatu kriteria yang memenuhi syarat menyeluruh dan luas. Hal ini sudah sesuai dengan pancasila dengan adanya bukti secara langsung dan tidak langsung. Melalui bukti secara langsung menurut Notonagoro, yang sesuai adalah kausa finalis (asal mula tujuan) pancasila dirumuskan dan dibahas dalam sidang-sidang para pendiri negara, tujuannya adalah untuk dijadikan sebagai dasar negara. Oleh karena itu adalah para anggota BPUPKI dan PPKI merumuskan pancasila sebagai dasar negara. Hal ini juga telah dibuktikan dengan kausa materialis, yaitu sebagai asal dari nilai-nilai pancasila, sehingga pancasila pada hakikatnya digali dari bangsa indonesia yang kemudian dijadikan pandangan hidup oleh seluruh masyarakat Indonesia.

2.  Pervasivenss
Yaitu suatu rangkain ide yang  secara khusus tidak hanya dikenal sebagai suatu ideologi selama ini, akan tetapi juga telah membentuk keyakinan dan sikap politik dari banyak orang. Ideologi ini telah mempengaruhi secara luas anggota masyarakat dan melebar ke berbagai lapisan masyarakat. Untuk membentuk masyarakat yang madani, diperlukan nilai-nilai luhur dari sebuah pancasila. Dengan mengingat sila pertama dari pancasila yaitu Ketuhanan yang Maha Esa, yang mengajarkan nilai-nilai moral, nilai-nilai religius, serta etiket. Diharapkan dengan berpedoman dengan sila pertama kita dapat meresapi bagaimana sikap dari nilai religius dapat diimplikasikan kepada masyarakat.

3.  Extensiveness
Kriteria ini menekankan bahwa suatu ideologi menurut paham politik merupakan suatu rangkaian ide yang diikuti oleh banyak orang, dalam memainkan peranan yang amat menonjol dalam pencaturan politik bangsa. Dalam berpolitik, para dewan majelis seperti DPR, MPR, harus menggunakan pancasila sebagai etik politik. Etik politik yang mengacu pada setiap sila yang terdapat dalam pancasila.

4. Intesiveness
Kriteria ini menekankan bahwa suatu ideologi menurut perspektif politik adalah suatu rangkaian ide yang bisa memberikan suatu komitmen yang kuat bagi pengikut setianya. Dengan mengacu pada pancasila, serta terdapat derivasi dari pancasila yang bisa berupa undang-undang, maka pancasila juga memiliki tujuan agar ide yang dicetuskan dari bangsa Indonesia sendiri menjadi sebuah impian yang dapat membuat sebuah komitmen bagi pelaku politik. Tujuan negara yang dimaksud adalah: Memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi, dan keadilan sosial dijiwai Pancasila itu sendiri.

B.     Arti dari Globalisasi
Globalisasi sebenarnya dapat diartikan sebagai suatu proses atau tindakan yang mendunia (universal).
1.    Hakekat Globlisasi
 Globalisasi adalah suatu proses tatanan masyarakat yang mendunia dan tidak mengenal batas wilayah. Globalisasi merupakan proses penyebaran unsur-unsur baru atau hal-hal baru khususnya yang menyangkut informasai secara mendunia melalui media cetak dan elektronik. Globalisasi terbentuk oleh adanya kemajuan teknologi di bidang komunikasi.
 Globalisasi pada hakikatnya adalah suatu proses dari gagasan yang dimunculkan, kemudian ditawarkan untuk diikuti oleh bangsa lain yang akhirnya sampai pada suatu titik kesepakatan bersama dan menjadi pedoman bersama bagi bangsa - bangsa di seluruh dunia. (Menurut Edison Jamli dkk.Kewarganegaraan.2005)
2.    Ciri-Ciri Globalisasi
a.      Adanya perubahan dalam konsep ruang dan waktu.
b.       Pasar dan produksi ekonomi dan Negara yang berbeda menjadi saling       terkait.
c.       Adanya peningkatan interaksi kultural melalui perkembangan media massa.  
d.      Meningkatnya masalah bersama misal, pada lingkungan hidup, krisis multinasional, dan inflasi     regional dsb.
e.       Adanya perubahan dari sentralisasi ke desentralisasi.
f.       Adanya privatisasi atau swastanisasi atas Negara kesejahteraan.
3.    Dampak Globalisasi       
Kehadiran globalisasi tentunya membawa pengaruh bagi kehidupan suatu negara termasuk Indonesia. Pengaruh tersebut meliputi dua sisi yaitu pengaruh positif dan pengaruh negatif. Pengaruh globalisasi di berbagai bidang kehidupan seperti kehidupan politik, ekonomi, ideologi, sosial budaya dan lain- lain.

C.      Kedudukan Pancasila di Era Globalisasi
Globalisasi bertentangan dengan pancasila. Globalisasi adalah suatu proses tatanan masyarakat yang mendunia dan tidak mengenal batas wilayah, globalisasi memiliki hubungan dengan peningkatan keterkaitan dan ketergantungan antarbangsa dan antarmanusia di seluruh dunia dunia melalui perdagangan, investasi, perjalanan, budaya populer, pertahanan keamanan dan teknologi informasi dan komunikasi adalah faktor pendukung utama dalam globalisasi.
Dewasa ini perkembangan teknologi begitu cepat, sehingga segala informasi dengan berbagai bentuk dan kepentingan dapat tersebar  luas ke seluruh dunia. Oleh karena itu globalisasi tidak dapat kita hindari kehadirannya. Menghadapi era globalisasi, ancaman bahaya komunisme dan fundamentalisme merupakan sebuah tantangan tersendiri bagi bangsa Indonesia.  Disamping itu yang patut diwaspadai adalah pengelompokan suku bangsa di Indonesia yang kini semakin kuat. Dalam kehidupan kebersamaan antar bangsa di dunia, dalam era globalisasi yang harus diperhatikan yaitu pemantapan jati diri bangsa. Jika pancasila bertentangan dengan kolonialisme, imperalisme, dan kapitalisme tidaklah mengherankan kalau ia bertentangan dengan globalisme, yang tidak lain  merupakan ideologi kapitasisme orang barat yang sedang berusaha menguasai dunia dalam aspek ekonomi, sosial, budaya, politik dan informatif.
Saat Pancasila berbenturan dengan arus globalisasi, maka ideologi dirasakan tak cukup lagi dapat mengakomodasi berbagai kepentingan masyarakat Indonesia. Globalisasi menciptakan hubungan interpersonal, kini menjadi lebih individualistik, mementingkan diri sendiri, dan pragmatis. Globalisasi juga menjadikan hubungan interpersonal kini tak dibatasi lagi dengan letak geografis. Masyarakat Indonesia kini cenderung pragmatis sebagai akibat dari persoalan gaya hidup globalisasi yang sudah merasuk dalam kesadaran pola hidup mereka.
Pemahaman Nasionalisme bangsa mulai berkurang, di saat negara membutuhkan soliditas dan persatuan hingga sikap gotong royong, sebagian kecil masyarakat terutama justru yang ada di perkotaan justru lebih mengutamakan kelompoknya, golongannya bahkan negara lain dibandingkan kepentingan negaranya. Untuk itu sebaiknya setiap komponen masyarakat saling berinterospeksi diri untuk dikemudian bersatu membawa bangsa ini dari keterpurukan.
Wuryadi mengatakan globalisme telah melanda peradaban dunia termasuk Indonesia, pertanyaan kritis bangsa Indonesia saat ini adalah apakah pancasila mampu memberikan arahan, pijakan dan pedoman bagi bangsa Indonesia menghadapi terjangan globalisasi dan kapitalisme ini bagi keberlanjutan kehidupan bangsa Indonesia? Liberalisme dan kapitalisme menjadi dominan dalam kehidupan bangsa dan antar bangsa saat ini, bahkan pancasila tertantang dan teruji.
Menurut Noer Efendi, Indonesia merupakan salah satu negara yang ikut terseret sehingga tidak berdaya akibat arus ideologi kapitalisme global. Kekuatan kapitalisme global tanpa disadari telah mengendalikan sebagian besar tatanan sosial dan politik disertai munculnya gaya hidup (kultur) kapitalisme, yakni konsumerisme. Nilai-nilai kapitalisme global yaitu liberal, ada kecenderungan interaksi sosial para elit politik yang tidak lagi didasarkan pada nilai-nilai sosial (moral) tetapi lebih menonjolkan nilai materi (uang). Hasrat memenuhi tuntutan materi telah mengenyampingkan nila-nilai moral. Tanpa disadari pembusukan moral (korupsi, teror, intimidasi, prasangka) merebak dalam berbagai aspek kehidupan baik sosial maupun politik.
Nilai-nilai sosial dan moral dalam kehidupan sosial politik telah melonggar atau rusak karena dorongan hasrat keuntungan keuntungan ekonomi sesaat. Politik uang dan suap-menyuap, korupsi menjadi kenyataan dalam berbagai tingkatan kehidupan politik. Moral dikalangan pemuda, kekerasan, kemiskinan dan kesenjangan sosial, sebagai dampak dari globalisasi dan lemahnya penegakan hukum, konspirasi dan kolusi dikalangan birokrasi, militer dan penegak hukum semakin sulit bagi Indonesia untuk menjadi bangsa yang bisa berdiri sendiri.
Globalisasi hanya memberikan 2 kemungkinan yaitu memberi kemakmuran dan kebebasan sekaligus mendatangkan kemiskinan dan ketergantungan pada negara lain sebagaimana yang dialami Indonesia saat ini. Insting-insting paling mendasar bahwa manusia sebagai makhluk sosial yang berpegang teguh kepada norma-norma dan etika moral dalam kehidupan politik lenyap. Insting-insting manusia sebagai makhluk lebih menonjol.
Rasionalitas sosial yang memungkinkan manusia untuk saling berkerjasama dengan sesama atau orang lain tidak lagi menjadi pegangan. Yang muncul adalah dorongan untuk berkuasa dalam rangka merengkuh keuntungan ekonomi. Akibatnya permusuhan antar sesama karena saling mencurigai dan prasangka-prasangka yang mewarnai kehidupan politik. Semua ini mendorong kepada situasi kekacauan sosial yang kemudian menyebabkan menurunnya sistem kekeluargaan, kebersamaan dan kepercayaan sebagai penguat kohesi sosial. Perasaan kebersamaan meluntur dan semangat saling menjatuhkan serta bermusuhan muncul.

Ancaman disintegrasi sosial tampaknya tidak dapat dihindari. Saling tidak percaya dan curiga senantiasa menyertai kehidupan. Pemimpin tidak mempercayai rakyat dan rakyat tidak mempercayai pemimpin, elit politik tidak percaya kepada rakyat dan rakyat tidak percaya lagi kepada elit politk. Krisis kepercayaan ini tidak hanya melanda tatanan kehidupan politik nasional tetapi juga lokal.
Saat ini sadar atau tidak sadar manusia Indonesia terseret dalam gelombang kapitalisme global. Hal  itu secara perlahan tetapi pasti telah mengikis kesadaran suatu bangsa, kesadaran moral berlandaskan ideologi pancasila yang menjadi pegangan dalam tata pergaulan berbangsa. Dalam situasi seperti ini interaksi sosial dalm kehidupan masyarakat diwarnai dengan tingkah yang mengarah pada demoralisasi dan dehumanisasi.
Jiwa dan raga bangsa ini terasa semakin rapuh, agar tidak terpuruk kedalam jurang kehancuran maka kita perlu menumbuhkan kembali kesadaran kolektif dengan kembali pada nilai-nilai yang terkandung dalam pancasila. Kehadiran globalisasi tentunya membawa pengaruh bagi kehidupan suatu negara termasuk Indonesia. Pengaruh tersebut meliputi dua sisi yaitu pengaruh positif dan pengaruh negatif. Pengaruh globalisasi di berbagai bidang kehidupan seperti kehidupan politik, ekonomi, ideologi, sosial budaya dan lain- lain akan mempengaruhi nilai- nilai nasionalisme terhadap bangsa.
D.  Dampak Positif dan Negatif dari Globalisasi terhadap Pancasila.
1.    Pengaruh positif globalisasi
a.    Dilihat dari globalisasi politik
Pemerintah dijalankan secara terbuka dan demokratis. Karena pemerintahan adalah bagian dari suatu Negara, jika pemerintahan dijalankan secara jujur, bersih dan dinamis tentu akan mendapat tanggapan positif dari rakyat. Tanggapan positif tersebut berupa rasa nasionalisme terhadap negara menjadi meningkat.


b.      Dari aspek globalisai ekonomi
Terbukanya pasar internasional yang meningkatkan kesempatan kerja dan meningkatkan devisa negara. Dengan adanya hal tersebut akan meningkatkan kehidupan ekonomi bangsa yang menunjang kehidupan nasional bangsa.
c.       Dari globalisasi sosial budaya
Kita dapat meniru pola berpikir yang baik seperti etos kerja yang tinggi, disiplin dan iptek dari bangsa lain yang sudah maju untuk meningkatkan kemajuan bangsa yang pada akhirnya memajukan bangsa dan akan mempertebal rasa nasionalisme kita terhadap bangsa.

2.      Pengaruh negatif globalisasi
a.  Globalisasi mampu meyakinkan masyarakat Indonesia bahwa liberalisme dapat membawa kemajuan dan kemakmuran sehingga tidak menutup kemungkinan berubah arah dari ideologi pancasila ke ideologi liberalisme. Jika hal tersebut terjadi akibatnya rasa nasionalisme bangsa akan hilang.
b.  Dari globalisasi aspek ekonomi, hilangnya rasa cinta terhadap produk dalam negri karena banyaknya produk luar negri membanjiri Indonesia. Dengan hilangnya rasa cinta terhadap produk dalam negeri menunjukan gejala berkurangnya rasa nasionalisme masyarakat kita terhadap bangsa Indonesia.
c.       Masyarakat kita khususnya anak muda banyak yang lupa akan identitas diri sebagai bangsa Indonesia karena gaya hidupnya cenderung meniru budaya barat.
d.      Mengakibatkan adanya kesenjangan sosial yang tajam antara yang kaya dan miskin karena adanya persaingan bebas dalam globalisasi ekonomi. Hal tersebut dapat menimbulkan pertentangan antara yang kaya dan miskin yang dapat mengganggu kehidupan nasional bangsa.
e.       Munculnya sikap individualisme yang menimbulkan ketidak pedulian antar perilaku sesama warga. Dengan adanya individualisme maka orang tidak akan peduli dengan kehidupan bangsa.

Pengaruh-pengaruh diatas memang tidak secara langsung berpengaruh terhadap nasionalisme, akan tetapi secara keseluruhan dapat menimbulkan rasa nasionalisme terhadap bangsa menjadi berkurang atau hilang. Sebab globalisasi mampu membuka cakrawala masyarakat secara global. Apa yang di luar negri dianggap baik memberi aspirasi kepada masyarakat kita untuk diterapkan di negara kita. Bila dipenuhi belum tentu sesuai di Indonesia. Bila tidak dipenuhi akan dianggap tidak aspiratif dan bertindak anarkis sehingga mampu mengganggu stabilitas nasional, ketahanan nasional bahkan persatuan dan kesatuan bangsa.
E.  Pengaruh Globalisasi Terhadap Nilai Nasionalisme di Kalangan Generasi Muda.
Arus globalisasi begitu cepat merasuk ke dalam masyarakat terutama di kalangan muda. Pengaruh globalisasi tersebut telah membuat banyak anak muda kita kehilangan kepribadian diri sebagai bangsa Indonesia. Hal ini ditunjukkan dengan gejala-gejala yang muncul dalam kehidupan sehari- hari anak muda sekarang. Banyak anak muda lebih suka jika menjadi orang lain dengan cara menutupi identitasnya. Tidak banyak remaja yang mau melestarikan budaya bangsa dengan mengenakan pakaian yang sopan sesuai dengan kepribadian bangsa.
Teknologi internet merupakan teknologi yang memberikan informasi tanpa batas dan dapat diakses oleh siapa saja. Jika digunakan secara semestinya tentu kita memperoleh manfaat yang berguna tetapi jika tidak, kita akan mendapat kerugian. Dan sekarang ini, banyak pelajar dan mahasiswa yang menggunakan tidak semestinya. Dilihat dari sikap, banyak anak muda yang tingkah lakunya tidak kenal sopan santun dan cenderung tidak ada rasa peduli terhadap lingkungan karena globalisasi menganut kebebasan dan keterbukaan. Moral generasi bangsa menjadi rusak, timbul tindakan anarkis antara golongan muda. Hubungannya dengan nilai nasionalisme akan berkurang karena tidak ada rasa cinta terhadap budaya bangsa sendiri dan rasa peduli terhadap masyarakat padahal generasi muda adalah penerus masa depan bangsa.
Berdasarkan analisa dan uraian di atas pengaruh negatif globalisasi lebih banyak daripada pengaruh positifnya. Oleh karena itu diperlukan langkah untuk mengantisipasi pengaruh negatif globalisasi terhadap nilai nasionalisme. Langkah- langkah untuk mengantisipasi dampak negatif globalisasi terhadap nilai- nilai nasionalisme antara lain yaitu:
1.    Menumbuhkan semangat nasionalisme yang tangguh, misal semangat mencintai produk dalam negeri.
2.    Menanamkan dan mengamalkan nilai- nilai Pancasila dengan sebaik- baiknya.
3.    Menanamkan dan melaksanakan ajaran agama dengan sebaik- baiknya.
4.    Mewujudkan supremasi hukum, menerapkan dan menegakkan hukum dalam arti sebenar- benarnya dan seadil- adilnya.
5.    Selektif terhadap pengaruh globalisasi di bidang politik, ideologi, ekonomi, sosial budaya bangsa.

Dengan adanya langkah-langkah antisipasi tersebut diharapkan mampu menangkis pengaruh globalisasi yang dapat mengubah nilai nasionalisme terhadap bangsa. Sehingga kita tidak akan kehilangan kepribadian bangsa.
F.   Sikap Selektif yang Harus dimiliki Masyarakat untuk Menanggapi Pengaruh dari adanya Globalisasi
Globalisasi yang melanda dunia sekarang ini, berpengaruh pula pada bangsa Indonesia. Kita sebagai bagian dari masyarakat dunia tidak bisa lagi menolak atau menghentikan proses global ini. Bangsa Indonesia telah membuka diri untuk selalu berhubungan dengan dunia lain di dunia. Untuk menghadapi arus tersebut bangsa Indonesia perlu memperhatikan dua hal yaitu bagaimana mengelola globalisasi dan bagaimana memperkuat akar kebangsaan. 
Dalam menghadapi era globalisasi sekarang ini yang di butuhkan adalah memperkuat rasa kebangsaan dan kebanggaan warga Negara terhadap bangsa Indonesia sesuai dengan nilai-nilai Pancasila. Bila ini terwujud, adanya globalisasi tidak akan melunturkan semangat kebangsaan kita. Untuk memperkuat akar kebangsaan Indonesia kita harus mampu menggali potensi dalam negeri di segala bidang. Contohnya, meningkatkan kualitas SDM mobilisasi daya dan dana dalam negeri antara lain melalui program jaminan nasional, lebih menggunakan produk dalam negeri serta membangun rasa solidaritas bangsa secara keseluruhan.


















BAB III
PENUTUP
KESIMPULAN
 Globalisasi merupakan suatu tantangan sekaligus peluang yang harus diraih. Namun, globalisasi tersebut akan menimbulkan dampak–dampak baik secara positif maupun negatif. Untuk menghadapi dampak globalisasi diperlukan nilai–nilai Pancasila yang luhur agar bangsa kita tidak kehilangan kepribadian atau jati diri sebagai bangsa Indonesia. Maka dengan demikian, perlu adanya pemasyarakatan Pancasila pada bangsa Indonesia.
Selain itu, untuk mewujudkan hal tersebut bangsa Indonesia harus memiliki langkah-langkah dalam mengantisipasi arus globalisasi. Hal itu, ditujukan agar globalisasi tidak dapat mengikis dan mengubah nilai nasionalisme bangsa Indonesia.

Komentar:
            Menurut dari diskusi kelompok kami, bahwa pancasila sangat berperan besar terhadap nilai atau tatanan kehidupan bangsa Indonesia di era-globalisasi saat ini. Memang di era globalisasi sekarang ini ada dampak positif maupun negatifnya. Terlebih pengaruh globalisasi di berbagai bidang kehidupan, seperti: Kehidupan politik, ekonomi, ideologi, sosial, budaya, dll.
Oleh karena itu Pancasila sebagai dasar Negara, mempunyai landasan untuk menyaring segala pengaruh yang datang dari luar dan seyogyanya bangsa Indonesia harus pintar memilih mana yang baik dan mana yang buruk dari pengaruh luar dengan menggunakan nilai-nilai Pancasila dari ke lima sila tersebut.















DAFTAR PUSTAKA
http://id.wikipedia.org/wiki/Pancasila Sejarah
http://www.scribd.com/doc/3718238/PERUBAHAN
http://www.tnial.mil.id/Majalah/Cakrawala/ArtikelCakrawala/tabid/125/articleType/ArticleView/articleId/1515/Default.aspx
http://72.14.235.132/search?q=cache:Rws4aEbwKwQJ:digilib.petra.ac.id/jiunkpe/s1/ars4/2004/jiunkpe-ns-s1-2004-22400032-4886-Ip-chapter1.pdf+pemasyarakatan+pancasila&cd=20&hl=id&ct=cink&gl=id




Posting Komentar