Puisi Esai "Suara Asa Marsinah"
Senin, 25 November 2013 by Unknown in

Ini adalah salah satu hasil puisi esai tulisan tangan saya yang berjudul "SUARA ASA MARSINAH", tentang kala itu penugasan dari dosen PKn saya yang memberikan tugas untuk membuat puisi esai. Bertemakan sebebas-bebasnya, setelah itu saya coba memikirkan dan hasilnya saya membuat puisi esai yang bertemakan tentang permasalahan buruh dan juga ada foot notenya (catatan kaki). Tema saya, saya ambil dari salah satu tokoh buruh yang waktu itu adalah sebagai tokoh keadilan dari para buruh untuk memperjuangkan hak-haknya. Marsinah adalah salah satu korban atau tragedi buruh tanggal 9 mei 1993. Mayatnya tergeletak bersimbah darah di sebuah gubuk dekat hutan wilangan, dan kasus meninggalnya buruh marsinah ini sampai sekarang belum diketahui penyebabnya serta siapa yang tega membunuhnya, proses hukum dari kasus ini juga belum mempunyai titik temu... sungguh tragis, itulah kata yang bisa saya ucapkan. puisi esai ini khusus saya buat bagi para buruh-buruh yang ada di indonesia, semoga tidak ada lagi kata ketidakadilan,kedholiman,kebohongan dan kenistaan bagi para buruh di indonesia untuk memperjuangkan aspirasinya. Saya rasa puisi ini masih jauh dari kesempurnaan, mohon kritik dan saran yang positif serta membangun dari teman-teman semua. Terimakasih...





Suara Asa Marsinah
            /1/
Sebuah kaki menjulur kaku
Di hamparan gubuk petani itu
Awalnya adalah anak-anak yang coba merayu
Tak disangka kaki itu merupakan mayat perempuan

Tergeletak tak bernyawa
Bersimbah darah dan penuh luka
Balutan memar pun mewarnai di sekucur tubuhnya
Siapa gerangan, penuh dengan tanda tanya

Kedua pergelangan tangannya lecet-lecet
Diduga akibat diikat dan diseret
Tulang panggulnya telah hancur
Di sela-sela pahanya banyak darah berlumur
Akibat dari hantaman benda tumpul

Hanya selembar potongan wesel ber-resi
Cukup untuk aparat ungkap identitas mayat ini
Dia…dia adalah Marsinah...
Pekerja buruh pabrik yang terlibat aksi mogok

Namun, luka dan darah ditubuhnya
Dapatkah menjadikan sebuah periksa
Untuk setiap detail kepastian hukumnya
Entah siapa yang tega melakukan ini semua

            /2/
Marsinah merupakan anak nomor dua dari tiga bersaudara
Hasil perkawinan antara Sumini dan Mastin
Sejak umur tiga tahun marsinah ditinggal mati oleh ibunya  
Sungguh… masih banyak perjalanan hidup yang harus ia tempa

Bayi marsinah dulunya diasuh nenek dan bibinya
Seiring berjalanya waktu marsinah tumbuh dewasa
Ia sadar kehidupan keluarganya serba kekurangan
Tekad gigih pun menghempa dirinya.

Disela-sela waktu luangnya
Dia pergunakan untuk berjualan makanan kecil, dia berbeda dengan teman sebayanya
Yang hanya di isi dengan kegiatan bermain dan lainya
Berjualan untuk menambah biaya hidup keluarganya maupun untuk uang sakunya
Seiring berjalanya waktu dia tumbuh menjadi anak rajin dan bersahaja

Sepulang dari sekolahnya ada kegiatan yang sering ia lakukan  
Yaitu mengantarkan makanan.. ya.. makanan
Untuk pamanya yang berada disawah
Menuai padi untuk sebuah berkah

Mengisi waktu senggangnya dengan di lalui kegiatan membaca
Secerca harapan pun mulai berada dipundaknya
Berjuang untuk dirinya dan ia kelak berkeinginan membahagiakan keluarga
 Juga berharap dapat menorehkan mimpi-mimpinya


            /3/
Ketika menempuh sekolah di SMA, walaupun berada di sekolah swasta
Dia berusaha untuk hidup mandiri dan melakukan yang terbaik ununtuk dirinya
Semangat belajarnya begitu besar sekali
Rintangan demi rintangan ia lalui, tanpa kenal lelah di hati
Untuk mengukir sebuah prestasi…memang menjadi sebuah keharusan bagi dirinya
Juara kelas pun diraihnya… ini menjadikan sebuah bukti bahwa ia mempunyai sebuah potensi
Mempunyai sebuah kemauan untuk meneruskan sekolahnya ke jenjang yang lebih tinggi

Tetapi, apa daya dikata hatinya tak bisa berbicara
Keterbatasan ekonomi menjadi sebuah dilemma untuk meneruskan pendidikanya
Asapun kini telah sirna
Harapan-harapan itu mulai pupus di pundaknya

Kesempatan kerja di desa mulai sempit untuknya
Menjadi buruh tani pun tak seberapa upahnya
Perkembangan teknologi menggerus para buruh untuk melakukan aksinya
Dia pun berfikir untuk hengkang dari desa tercinta

Akhirnya dia benar hengkang dari desanya menuju ke kota
Harapan barupun kini mulai ada
Berbagai surat lamaran kerja mulai dikirimnya
Di Gresik, Mojokerto, maupun Surabaya


Alhasil marsinah diterima di sebuah pabrik, pabrik pertamanya dia bekerja
Yaa.. Pabrik sepatu BATA namanya, tepatnya di kota Surabaya
Tapi seiring berjalanya waktu
Dia pindah dari pabrik sepatu itu

Pekerjaanya dijalani secara nomaden
Diantara pabrik satu dan pabrik lainya, berpindah-pindah sesuai dengan keinginan hatinya
Tetapi kerja keras dan daya juang yang tinggi itulah karakternya
Marsinah…generasi pertama seorang buruh di keluarganya

Terbenam harapan untuk meneruskan sekolahnya di perguruan tinggi
Tak membuat marsinah goyah untuk terus belajar
Dia yakin, pengetahuan bagaikan lampu pijar
Yang akan terus terpancar dan berguna di lingkup sekitar

Pengetahuan mampu merubah nasib seseorang asalkan ada niat dan ilmu yang didapat
Ya.. ungkapan itu memang benar untuk dijadikan landasan paju
Lantas ia pun mengikuti kursus-kursus keterampilan untuk belajar
Dan dari itulah semangatnya kembali terbakar

Terbiasa menghimpun berbagai informasi
Dan mendengarkan warta berita baik di radio, Koran, maupun televisi
Membuat marsinah jatuh cinta terhadap kegiatan membaca
Sampai-sampai dia harus memakai kaca mata  

Pendiam, lugu, ramah, ringan tangan, dan setia kawan
Itulah kepribadian yang di milikinya
Tak satu atau dua nasehat kerap ia lontarkan
Kepada kerabat maupun teman kerja yang membutuhkannya


            /4/
Satu lagi dari dia…adalah seorang pemberani dan tanpa tendensi…
kerap kali dia membantu temannya yang dimarahi
Ya… dimarahi karena diberlakukan tidak adil
Oleh atasan yang berbuat bakhil

Pemberani dan setia kawan inilah yang membekalinya menjadi seorang pelopor perjuangan
Pertengahan april 1993, para buruh PT, CPS (Catur Putra Surya) tempat kerjanya dibuat resah
Ada kabar tentang kenaikan upah dari surat edaran Gubernur jawa timur
Tersirat himbauan kepada pengusaha untuk menaikkan gaji para pekerjanya

Keresahan berujung panjang dan menjadi sebuah perjuangan
3 Mei 1993 aksi mogok pun akhirnya tertuang dan semua buruh tidak masuk kerja
Hari itu juga marsinah pergi ke kantor Depnaker Surabaya mencari data UMRnya
Data itulah yang nantinya sebagai modal tuntutan para pekerja[i]

4 Mei 1993 pukul tujuh pagi para buruh PT. CPS (Catur Putra Surya) melakukan aksinya
Melakukan unjuk rasa demi hak dan tuntutanya
Semua buruh serentak untuk memaksa
Satpam yang berjaga-jaga segera bertindak secepatnya [ii]

Sebua lahirnya keberanian dari para pekerja buruh itu
Mereka berjajar dengan penuh rasa
Satpam yang berdiripun menentang dan mengibas-ibaskan tongkat pemukulnya
Mereka menyerunya dengan sebutan PKI…PKI…kepada para pengunjuk rasa


            /5/
Beginilah… Persaingan yang keras, menjadi tolak ukur bagi para buruh untuk tinggal di kota
Merekapun terkadang terus di hantui dengan target produksi yang ditetapkan oleh bosnya…
Marsinah… kini berada di barisan terdepan dari pengunjuk rasa
Menggugat dan menuntut setiap persoalan yang berujung menjadi ketidakadilan

Terbukti dengan merebaknya aksi mogok kerja di berbagai industri
Baik itu di pabrik, gedung DPR, Instansi pemerintahan yang ada kaitanya dengan permasalahan perburuhan
Jalan-jalan di kotapun dijadikan tempat untuk mencurahkan sebuah tuntutan
Sungguh… berjuangan para buruh telalu sangat memperihatinkan

Aparat dari koramil maupun kepolisian sudah berjaga-jaga di depan perusahaan
Sebelum para buruh itu beraksi menembus jaringan
“ya sudah, kalau teman-teman tidak di perbolehkan masuk, keamanan saya serahkan kepada bapak. Kami sekarang hendak berunding dengan pengusaha..!!!” ujar salah seorang aparat keamanan
Perundingan di mulai,berjalan dengan hangat dan transparan
Marsinah pun sangat bersemangat dalam rundingan ini
Untuk menyuarakan tuntutan dari kawan-kawan

Dialah seorang buruh yang tidak mau mengurangi tuntutan
Khususnya tunjangan tetap yang harus dibayarkan dan upah minimum Rp. 2.250,- per hari.
Sesuai dengan Kepmen 50/1992 tentang Upah Minimum Regional
Perundingan berakhir, dan tercapai suatu kesepakatan bersama
Apakah ini menjadi sebuah titik akhir untuk kalangan para buruh itu..., Tidak!!![iii]

           
/6/
5 Mei, tiga belas buruh mendapat panggilan
Entah permasalahan apa lagi yang di tanyakan
Ternyata…!! Tiga belas buruh di panggil ke kodim sidoarjo
Menurut surat yang  dikeluarkan dari sebuah kelurahan [iv]

Tanpa basa-basi, desakan pun terjadi
Tiga belas buruh ini di paksa menandatangani surat PHK
Lantas pemikiran apa yang ada di benak mereka
Tekanan fisik maupun psikologis dibuatnya oleh para tentara
Buruh pun seakan tidak bisa mengelak, dan dengan terpaksa dan rela untuk menerima itu semua

Setelah itu menyusul delapan bruh lagi, yang ada kaitanya… ujung-ujungnya pun dipaksa
Dipaksa untuk menandatangani yang bukan kemauannya
Sungguh pilu hati dan pikiran mereka menjadikan sebuah dilema besar untuknya
Ketika hukum tengah berada di tangan-tangan penguasa

Marsinah pun sadar, peristiwa yang menimpa rekan-rekanya sepabrik menjadikan sebuah problema
Problema yang tidak boleh terus di biarkan
Dari berbagai surat kabar yang dibacanya serta keluhan-keluhan dari temannya  menimbulkan amarah dari seorang Marsinah   
Ada sebuah ketidak beresan yang melanda aparatur-aparatur negara kita

           
/7/
Kemarahannya mulai timbul ketika ia mengetahui perlakuan-perlakuan tentara pada kawan-kawannya
“saya tidak terima…!!! Saya mau melapor ke paklik saya yang menjadi jakasa di Surabaya!” teriak marsinah sangat lantang di hadapan para tentara
Dengan sangat resah dan gundah ia mengambil surat panggilan dari kodim milik salah seorang kawannya
Kemudian ia pergi denga penuh luka di hatinya

Kemana marsinah pergi, apakah jadi melaporkan kasus ini ke pakliknnya yang menjadi seorang jaksa
Ataukah marsinah memiliki jalur hukum lainya
Tak ada yang mengetahui kemana langkah kakinya
Menimbulkan sebuah tanda tanya, kemana pelopor perjuangan buruh itu kini berada

Innalillahiwainnaillaihirojiun…
Tanggal 9 mei 1993 Marsinah telah tiada, mayatnya di temukan mengenaskan
Berada di sebuah gubuk petani dekat hutan wilangan
Di beberapa tubuhnya penuh dengan luka, hantaman keras menimbulkan luka serius di tubuhnya [v]

Siapa yang tega membunuhnya
Dan berdasar kepentingan apa dia melakukannya…?
Kejam, biadab, tak berperikemanusiaan… itulah kata yang pantas untuknya..
Kini pemimpin itu telah berpulang.. berpulang kepada sang khaliq…

Marsinah adalah sosok pejuang, pejuang yang membela ketidakadilan
Nyawapun menjadi taruhannya
Dia telah di hanguskan oleh kebohongan dan ketidakadilan
Yakinlah jiwanya masih akan terus ada
Sampai ketidakadilan itu terungkap, terungkap dengan seharusnya dan semestinya
Biarlah hukum yang membungkam itu semua

Ini menjadi sebuah bukti, negara yang dikenal orang-orangnya harmoni
Berubah menjadi negara yang brutal dan anarki
Kepada setiap hak-hak warganegara yang harus dimilikinya
Akankah ini masih berlanjut dimasa-masa yang akan datang
Dan akankah ada lagi nantinya marsinah satu, marsinah dua sampai seterusnya …?
Sungguh ini menjadi ironi bersama, sudah sepatutnya kita menjadi satu bangsa yang ikut memperjuangkan hak-hak saudara kita yang tertindas maupun terbelenggu…
Dengan berbagai cara, sekuat tenaga dan pikiran kita agar ini tak terulang kembali

Kita yang memahami dan mengerti kasus ini menjadi sebuah saksi
Saksi di mana seorang buruh yang tertindas, terhina, terbohongi, dan terdzolimi  telah mati dengan penuh luka… nyawanya pun menjadi syaratnya
Entah hukum atau karma yang nantinya akan angkat bicara
Kebenaran harus menang…!!! Ya.. karena itu sudah sewajibnya.

            /8/
Sekarang serikat pekerja buruh Indonesia harus ikut bergerak
Dengan adanya kasus seperti marsinah ini menjadikan arahan untuk mereka bertindak
Keadilan harus diperjuangkan keadilan tidak boleh tersingkirkan
Keaadilan harus menjadi pedoman agar tidak terjadi kenistaan

Buruh juga harus dihargai martabatnya
Karena mereka adalah tulang punggung dari setiap keluarga
Sekuat daya dan upaya ia kerahkan untuk kelangsungan hidupnya
Untuk anak dan isterinya, karena mereka juga merupakan salah satu penggerak devisa

Hidup di negeri sendiri harus sejahtera semestinya
Dengan adanya sumber daya alam kita yang kaya wajib di pergunakan sebesar-besarnya dan sebaik-baiknya
Untuk kepentingan rakyat, untuk kemakmuran rakyat, dan untuk kesejahteraan rakyat. Semuanya atas nama rakyat
Sehingga kita harus bersyukur Kepada Tuhan YME, atas berkat dan karunianya.
Semoga di negeri tercinta ini, tidak ada lagi kata kemiskinan, ketidakadilan , kebohongan, penindasan dan diskriminasi yang dialami oleh para buruh pekerja
Hidup rukun, tentram, dan damai adalah kunci utama membangun bangsa ini untuk terus maju dan menorehkan taringnya.

Marsinah… matimu tak sia-sia
Perjuanganmu sungguh bermakna disetiap kaum buruh pekerja
Engkau adalah pelopor kebangkitan para buruh untuk memperjuangkan aspirasi-aspirasi
Aspirasi dari segenap pekerja untuk menyuarakan aksinya di setiap ketidakadilan semata.

Selamat Jalan marsinah semoga amal dan ibadahmu diterima di sisihNya…
amin yaarobalallamin…



[i][i] Keresahan tersebut akhirnya berbuah perjuangan. Pada tanggal 3 Mei 1993 seluruh buruh PT. CPS tidak masuk kerja, kecuali staf dan para Kepala Bagian. Sebagian buruh bergerombol dan mengajak teman-teman mereka untuk tidak masuk kerja. Hari itu juga, Marsinah pergi ke kantor Depnaker Surabaya untukmencari data tentang daftar upah pokok minimum regional. Data inilah yang ingin Marsinah perlihatkan kepada pihak pengusaha sebagai penguat tuntutan pekerja yang hendak mogok.

[ii] Tanggal 4 Mei 1993 pukul 07.00 para buruh PT. CPS melakukan unjuk rasa dengan mengajukan 12 tuntutan. Seluruh buruh dari ketiga shift serentak masuk pagi dan mereka bersama-sama memaksa untuk diperbolehkan masuk ke dalam pabrik. Satpam yang menjaga pabrik menghalang-halangi para buruh shift II dan shift III. Tidak ketinggalan, para satpam juga mengibas-ibaskan tongkat pemukul serta merobek poster dan spanduk para pengunjuk rasa sambil meneriakan tuduhan PKI kepada para pengunjuk rasa.

[iii] Perundingan berjalan dengan hangat. Dalam perundingan tersebut, sebagaimana dituturkan kawan-kawannya. Marsinah tampak bersemangat menyuarakan tuntutan. Dialah satu-satunya perwakilan dari buruh yang tidak mau mengurangi tuntutan. Khususnya tentang tunjangan tetap yang belum dibayarkan pengusaha dan upah minimum sebesar Rp. 2.250,- per hari sesuai dengan kepmen 50/1992 tentang Upah Minimum Regional. Setelah perundingan yang melelahkan tercapailah kesepakatan bersama.

[iv] Berakhirkah pertentangan antara buruh dengan pengusaha? Ternyata tidak! Tanggal 5 Mei 1993, 13 buruh dipanggil kodim Sidoarjo. Pemanggilan itu diterangkan dalam surat dari kelurahan Siring. Tanpa babibu, tentara mendesak agar ke-13 buruh itu menandatangani surat PHK. Para buruh terpaksa menerima PHK karena tekanan fisik dan psikologis yang bertubi-tubi. Dua hari kemudian menyusul 8 buruh di-PHK di tempat yang sama. Sungguh! Hukum menjadi kehilangan gigi ketika senapan tentara ikut bermain.

[v] Marsinah telah mati. Mayatnya ditemukan di gubuk petani dekat hutang Wilangan, Nganjuk tanggal 9 Mei 1993. Ia yang tidak lagi bernyawa ditemukan tergeletak dalam posisi melintang. Sekujur tubuhnya penuh luka memar bekas pukulan benda keras. Kedua pergelangannya lecet-lecet, mungkin karena diseret dalam keadaan terikat. Tulang panggulnya hancur karena pukulan benda keras berkali-kali. Di sela-sela pahanya ada bercak-bercak darah, diduga karena penganiayaan dengan benda tumpul. Pada bagian yang sama menempel kain putih yang berlumuran darah. Mayatnya ditemukan dalam keadaan lemas, mengenaskan.











Posting Komentar