Ini adalah salah satu hasil puisi esai tulisan tangan saya yang berjudul "SUARA ASA MARSINAH", tentang kala itu penugasan dari dosen PKn saya yang memberikan tugas untuk membuat puisi esai. Bertemakan sebebas-bebasnya, setelah itu saya coba memikirkan dan hasilnya saya membuat puisi esai yang bertemakan tentang permasalahan buruh dan juga ada foot notenya (catatan kaki). Tema saya, saya ambil dari salah satu tokoh buruh yang waktu itu adalah sebagai tokoh keadilan dari para buruh untuk memperjuangkan hak-haknya. Marsinah adalah salah satu korban atau tragedi buruh tanggal 9 mei 1993. Mayatnya tergeletak bersimbah darah di sebuah gubuk dekat hutan wilangan, dan kasus meninggalnya buruh marsinah ini sampai sekarang belum diketahui penyebabnya serta siapa yang tega membunuhnya, proses hukum dari kasus ini juga belum mempunyai titik temu... sungguh tragis, itulah kata yang bisa saya ucapkan. puisi esai ini khusus saya buat bagi para buruh-buruh yang ada di indonesia, semoga tidak ada lagi kata ketidakadilan,kedholiman,kebohongan dan kenistaan bagi para buruh di indonesia untuk memperjuangkan aspirasinya. Saya rasa puisi ini masih jauh dari kesempurnaan, mohon kritik dan saran yang positif serta membangun dari teman-teman semua. Terimakasih...
Suara
Asa Marsinah
/1/
Sebuah kaki menjulur kaku
Di hamparan gubuk petani itu
Awalnya adalah anak-anak yang coba
merayu
Tak disangka kaki itu merupakan mayat
perempuan
Tergeletak tak bernyawa
Bersimbah darah dan penuh luka
Balutan memar pun mewarnai di sekucur
tubuhnya
Siapa gerangan, penuh dengan tanda tanya
Kedua pergelangan tangannya lecet-lecet
Diduga akibat diikat dan diseret
Tulang panggulnya telah hancur
Di sela-sela pahanya banyak darah
berlumur
Akibat dari hantaman benda tumpul
Hanya selembar potongan wesel ber-resi
Cukup untuk aparat ungkap identitas
mayat ini
Dia…dia adalah Marsinah...
Pekerja buruh pabrik yang terlibat aksi
mogok
Namun, luka dan darah ditubuhnya
Dapatkah menjadikan sebuah periksa
Untuk setiap detail kepastian hukumnya
Entah siapa yang tega melakukan ini
semua
/2/
Marsinah merupakan anak nomor dua dari
tiga bersaudara
Hasil perkawinan antara Sumini dan
Mastin
Sejak umur tiga tahun marsinah ditinggal
mati oleh ibunya
Sungguh… masih banyak perjalanan hidup
yang harus ia tempa
Bayi marsinah dulunya diasuh nenek dan
bibinya
Seiring berjalanya waktu marsinah tumbuh
dewasa
Ia sadar kehidupan keluarganya serba
kekurangan
Tekad gigih pun menghempa dirinya.
Disela-sela waktu luangnya
Dia pergunakan untuk berjualan makanan
kecil, dia berbeda dengan teman sebayanya
Yang hanya di isi dengan kegiatan
bermain dan lainya
Berjualan untuk menambah biaya hidup
keluarganya maupun untuk uang sakunya
Seiring berjalanya waktu dia tumbuh
menjadi anak rajin dan bersahaja
Sepulang dari sekolahnya ada kegiatan
yang sering ia lakukan
Yaitu mengantarkan makanan.. ya..
makanan
Untuk pamanya yang berada disawah
Menuai padi untuk sebuah berkah
Mengisi waktu senggangnya dengan di
lalui kegiatan membaca
Secerca harapan pun mulai berada
dipundaknya
Berjuang untuk dirinya dan ia kelak
berkeinginan membahagiakan keluarga
Juga
berharap dapat menorehkan mimpi-mimpinya
/3/
Ketika menempuh sekolah di SMA, walaupun
berada di sekolah swasta
Dia berusaha untuk hidup mandiri dan
melakukan yang terbaik ununtuk dirinya
Semangat belajarnya begitu besar sekali
Rintangan demi rintangan ia lalui, tanpa
kenal lelah di hati
Untuk mengukir sebuah prestasi…memang
menjadi sebuah keharusan bagi dirinya
Juara kelas pun diraihnya… ini
menjadikan sebuah bukti bahwa ia mempunyai sebuah potensi
Mempunyai sebuah kemauan untuk meneruskan
sekolahnya ke jenjang yang lebih tinggi
Tetapi, apa daya dikata hatinya tak bisa
berbicara
Keterbatasan ekonomi menjadi sebuah dilemma
untuk meneruskan pendidikanya
Asapun kini telah sirna
Harapan-harapan itu mulai pupus di
pundaknya
Kesempatan kerja di desa mulai sempit
untuknya
Menjadi buruh tani pun tak seberapa
upahnya
Perkembangan teknologi menggerus para
buruh untuk melakukan aksinya
Dia pun berfikir untuk hengkang dari
desa tercinta
Akhirnya dia benar hengkang dari desanya
menuju ke kota
Harapan barupun kini mulai ada
Berbagai surat lamaran kerja mulai
dikirimnya
Di Gresik, Mojokerto, maupun Surabaya
Alhasil marsinah diterima di sebuah
pabrik, pabrik pertamanya dia bekerja
Yaa.. Pabrik sepatu BATA namanya,
tepatnya di kota Surabaya
Tapi seiring berjalanya waktu
Dia pindah dari pabrik sepatu itu
Pekerjaanya dijalani secara nomaden
Diantara pabrik satu dan pabrik lainya,
berpindah-pindah sesuai dengan keinginan hatinya
Tetapi kerja keras dan daya juang yang
tinggi itulah karakternya
Marsinah…generasi pertama seorang buruh
di keluarganya
Terbenam harapan untuk meneruskan
sekolahnya di perguruan tinggi
Tak membuat marsinah goyah untuk terus
belajar
Dia yakin, pengetahuan bagaikan lampu
pijar
Yang akan terus terpancar dan berguna di
lingkup sekitar
Pengetahuan mampu merubah nasib
seseorang asalkan ada niat dan ilmu yang didapat
Ya.. ungkapan itu memang benar untuk
dijadikan landasan paju
Lantas ia pun mengikuti kursus-kursus
keterampilan untuk belajar
Dan dari itulah semangatnya kembali
terbakar
Terbiasa menghimpun berbagai informasi
Dan mendengarkan warta berita baik di
radio, Koran, maupun televisi
Membuat marsinah jatuh cinta terhadap
kegiatan membaca
Sampai-sampai dia harus memakai kaca
mata
Pendiam, lugu, ramah, ringan tangan, dan
setia kawan
Itulah kepribadian yang di milikinya
Tak satu atau dua nasehat kerap ia
lontarkan
Kepada kerabat maupun teman kerja yang
membutuhkannya
/4/
Satu lagi dari dia…adalah seorang
pemberani dan tanpa tendensi…
kerap kali dia membantu temannya yang
dimarahi
Ya… dimarahi karena diberlakukan tidak
adil
Oleh atasan yang berbuat bakhil
Pemberani dan setia kawan inilah yang
membekalinya menjadi seorang pelopor perjuangan
Pertengahan april 1993, para buruh PT,
CPS (Catur Putra Surya) tempat kerjanya dibuat resah
Ada kabar tentang kenaikan upah dari
surat edaran Gubernur jawa timur
Tersirat himbauan kepada pengusaha untuk
menaikkan gaji para pekerjanya
Keresahan berujung panjang dan menjadi
sebuah perjuangan
3 Mei 1993 aksi mogok pun akhirnya
tertuang dan semua buruh tidak masuk kerja
Hari itu juga marsinah pergi ke kantor
Depnaker Surabaya mencari data UMRnya
Data itulah yang nantinya sebagai modal
tuntutan para pekerja[i]
4 Mei 1993 pukul tujuh pagi para buruh
PT. CPS (Catur Putra Surya) melakukan aksinya
Melakukan unjuk rasa demi hak dan
tuntutanya
Semua buruh serentak untuk memaksa
Satpam yang berjaga-jaga segera
bertindak secepatnya [ii]
Sebua lahirnya keberanian dari para
pekerja buruh itu
Mereka berjajar dengan penuh rasa
Satpam yang berdiripun menentang dan
mengibas-ibaskan tongkat pemukulnya
Mereka menyerunya dengan sebutan
PKI…PKI…kepada para pengunjuk rasa
/5/
Beginilah… Persaingan yang keras,
menjadi tolak ukur bagi para buruh untuk tinggal di kota
Merekapun terkadang terus di hantui
dengan target produksi yang ditetapkan oleh bosnya…
Marsinah… kini berada di barisan
terdepan dari pengunjuk rasa
Menggugat dan menuntut setiap persoalan
yang berujung menjadi ketidakadilan
Terbukti dengan merebaknya aksi mogok
kerja di berbagai industri
Baik itu di pabrik, gedung DPR, Instansi
pemerintahan yang ada kaitanya dengan permasalahan perburuhan
Jalan-jalan di kotapun dijadikan tempat
untuk mencurahkan sebuah tuntutan
Sungguh… berjuangan para buruh telalu
sangat memperihatinkan
Aparat dari koramil maupun kepolisian
sudah berjaga-jaga di depan perusahaan
Sebelum para buruh itu beraksi menembus
jaringan
“ya sudah, kalau teman-teman tidak di
perbolehkan masuk, keamanan saya serahkan kepada bapak. Kami sekarang hendak
berunding dengan pengusaha..!!!” ujar salah seorang aparat keamanan
Perundingan di mulai,berjalan dengan
hangat dan transparan
Marsinah pun sangat bersemangat dalam
rundingan ini
Untuk menyuarakan tuntutan dari
kawan-kawan
Dialah seorang buruh yang tidak mau
mengurangi tuntutan
Khususnya tunjangan tetap yang harus
dibayarkan dan upah minimum Rp. 2.250,- per hari.
Sesuai dengan Kepmen 50/1992 tentang
Upah Minimum Regional
Perundingan berakhir, dan tercapai suatu
kesepakatan bersama
Apakah ini menjadi sebuah titik akhir
untuk kalangan para buruh itu..., Tidak!!![iii]
/6/
5 Mei, tiga belas buruh mendapat
panggilan
Entah permasalahan apa lagi yang di
tanyakan
Ternyata…!! Tiga belas buruh di panggil
ke kodim sidoarjo
Menurut surat yang dikeluarkan dari sebuah kelurahan [iv]
Tanpa basa-basi, desakan pun terjadi
Tiga belas buruh ini di paksa
menandatangani surat PHK
Lantas pemikiran apa yang ada di benak
mereka
Tekanan fisik maupun psikologis
dibuatnya oleh para tentara
Buruh pun seakan tidak bisa mengelak,
dan dengan terpaksa dan rela untuk menerima itu semua
Setelah itu menyusul delapan bruh lagi,
yang ada kaitanya… ujung-ujungnya pun dipaksa
Dipaksa untuk menandatangani yang bukan
kemauannya
Sungguh pilu hati dan pikiran mereka
menjadikan sebuah dilema besar untuknya
Ketika hukum tengah berada di
tangan-tangan penguasa
Marsinah pun sadar, peristiwa yang
menimpa rekan-rekanya sepabrik menjadikan sebuah problema
Problema yang tidak boleh terus di
biarkan
Dari berbagai surat kabar yang dibacanya
serta keluhan-keluhan dari temannya
menimbulkan amarah dari seorang Marsinah
Ada sebuah ketidak beresan yang melanda
aparatur-aparatur negara kita
/7/
Kemarahannya mulai timbul ketika ia
mengetahui perlakuan-perlakuan tentara pada kawan-kawannya
“saya tidak terima…!!! Saya mau melapor
ke paklik saya yang menjadi jakasa di Surabaya!” teriak marsinah sangat lantang
di hadapan para tentara
Dengan sangat resah dan gundah ia
mengambil surat panggilan dari kodim milik salah seorang kawannya
Kemudian ia pergi denga penuh luka di
hatinya
Kemana marsinah pergi, apakah jadi
melaporkan kasus ini ke pakliknnya yang menjadi seorang jaksa
Ataukah marsinah memiliki jalur hukum
lainya
Tak ada yang mengetahui kemana langkah
kakinya
Menimbulkan sebuah tanda tanya, kemana
pelopor perjuangan buruh itu kini berada
Innalillahiwainnaillaihirojiun…
Tanggal 9 mei 1993 Marsinah telah tiada,
mayatnya di temukan mengenaskan
Berada di sebuah gubuk petani dekat
hutan wilangan
Di beberapa tubuhnya penuh dengan luka,
hantaman keras menimbulkan luka serius di tubuhnya [v]
Siapa yang tega membunuhnya
Dan berdasar kepentingan apa dia
melakukannya…?
Kejam, biadab, tak berperikemanusiaan…
itulah kata yang pantas untuknya..
Kini pemimpin itu telah berpulang..
berpulang kepada sang khaliq…
Marsinah adalah sosok pejuang, pejuang
yang membela ketidakadilan
Nyawapun menjadi taruhannya
Dia telah di hanguskan oleh kebohongan
dan ketidakadilan
Yakinlah jiwanya masih akan terus ada
Sampai ketidakadilan itu terungkap,
terungkap dengan seharusnya dan semestinya
Biarlah hukum yang membungkam itu semua
Ini menjadi sebuah bukti, negara yang
dikenal orang-orangnya harmoni
Berubah menjadi negara yang brutal dan
anarki
Kepada setiap hak-hak warganegara yang harus
dimilikinya
Akankah ini masih berlanjut dimasa-masa
yang akan datang
Dan akankah ada lagi nantinya marsinah
satu, marsinah dua sampai seterusnya …?
Sungguh ini menjadi ironi bersama, sudah
sepatutnya kita menjadi satu bangsa yang ikut memperjuangkan hak-hak saudara
kita yang tertindas maupun terbelenggu…
Dengan berbagai cara, sekuat tenaga dan
pikiran kita agar ini tak terulang kembali
Kita yang memahami dan mengerti kasus
ini menjadi sebuah saksi
Saksi di mana seorang buruh yang
tertindas, terhina, terbohongi, dan terdzolimi
telah mati dengan penuh luka… nyawanya pun menjadi syaratnya
Entah hukum atau karma yang nantinya
akan angkat bicara
Kebenaran harus menang…!!! Ya.. karena
itu sudah sewajibnya.
/8/
Sekarang serikat pekerja buruh Indonesia
harus ikut bergerak
Dengan adanya kasus seperti marsinah ini
menjadikan arahan untuk mereka bertindak
Keadilan harus diperjuangkan keadilan
tidak boleh tersingkirkan
Keaadilan harus menjadi pedoman agar
tidak terjadi kenistaan
Buruh juga harus dihargai martabatnya
Karena mereka adalah tulang punggung
dari setiap keluarga
Sekuat daya dan upaya ia kerahkan untuk
kelangsungan hidupnya
Untuk anak dan isterinya, karena mereka
juga merupakan salah satu penggerak devisa
Hidup di negeri sendiri harus sejahtera
semestinya
Dengan adanya sumber daya alam kita yang
kaya wajib di pergunakan sebesar-besarnya dan sebaik-baiknya
Untuk kepentingan rakyat, untuk
kemakmuran rakyat, dan untuk kesejahteraan rakyat. Semuanya atas nama rakyat
Sehingga kita harus bersyukur Kepada
Tuhan YME, atas berkat dan karunianya.
Semoga di negeri tercinta ini, tidak ada
lagi kata kemiskinan, ketidakadilan , kebohongan, penindasan dan diskriminasi
yang dialami oleh para buruh pekerja
Hidup rukun, tentram, dan damai adalah
kunci utama membangun bangsa ini untuk terus maju dan menorehkan taringnya.
Marsinah… matimu tak sia-sia
Perjuanganmu sungguh bermakna disetiap
kaum buruh pekerja
Engkau adalah pelopor kebangkitan para
buruh untuk memperjuangkan aspirasi-aspirasi
Aspirasi dari segenap pekerja untuk
menyuarakan aksinya di setiap ketidakadilan semata.
Selamat Jalan marsinah semoga amal dan
ibadahmu diterima di sisihNya…
amin yaarobalallamin…
[i][i]
Keresahan tersebut akhirnya berbuah perjuangan. Pada tanggal
3 Mei 1993 seluruh buruh PT. CPS tidak masuk kerja, kecuali staf dan para
Kepala Bagian. Sebagian buruh bergerombol dan mengajak teman-teman mereka untuk
tidak masuk kerja. Hari itu juga, Marsinah pergi ke kantor Depnaker Surabaya
untukmencari data tentang daftar upah pokok minimum regional. Data inilah yang
ingin Marsinah perlihatkan kepada pihak pengusaha sebagai penguat tuntutan
pekerja yang hendak mogok.
[ii] Tanggal 4 Mei 1993 pukul 07.00 para buruh PT. CPS melakukan
unjuk rasa dengan mengajukan 12 tuntutan. Seluruh buruh dari ketiga shift
serentak masuk pagi dan mereka bersama-sama memaksa untuk diperbolehkan masuk
ke dalam pabrik. Satpam yang menjaga pabrik menghalang-halangi para buruh shift
II dan shift III. Tidak ketinggalan, para satpam juga mengibas-ibaskan tongkat
pemukul serta merobek poster dan spanduk para pengunjuk rasa sambil meneriakan
tuduhan PKI kepada para pengunjuk rasa.
[iii] Perundingan berjalan dengan hangat. Dalam perundingan
tersebut, sebagaimana dituturkan kawan-kawannya. Marsinah tampak bersemangat
menyuarakan tuntutan. Dialah satu-satunya perwakilan dari buruh yang tidak mau
mengurangi tuntutan. Khususnya tentang tunjangan tetap yang belum dibayarkan
pengusaha dan upah minimum sebesar Rp. 2.250,- per hari sesuai dengan kepmen
50/1992 tentang Upah Minimum Regional. Setelah perundingan yang melelahkan
tercapailah kesepakatan bersama.
[iv] Berakhirkah pertentangan antara buruh dengan pengusaha?
Ternyata tidak! Tanggal 5 Mei 1993, 13 buruh dipanggil kodim Sidoarjo.
Pemanggilan itu diterangkan dalam surat dari kelurahan Siring. Tanpa babibu,
tentara mendesak agar ke-13 buruh itu menandatangani surat PHK. Para buruh
terpaksa menerima PHK karena tekanan fisik dan psikologis yang bertubi-tubi.
Dua hari kemudian menyusul 8 buruh di-PHK di tempat yang sama. Sungguh! Hukum
menjadi kehilangan gigi ketika senapan tentara ikut bermain.
[v] Marsinah telah mati. Mayatnya ditemukan di gubuk petani
dekat hutang Wilangan, Nganjuk tanggal 9 Mei 1993. Ia yang tidak lagi bernyawa
ditemukan tergeletak dalam posisi melintang. Sekujur tubuhnya penuh luka memar
bekas pukulan benda keras. Kedua pergelangannya lecet-lecet, mungkin karena
diseret dalam keadaan terikat. Tulang panggulnya hancur karena pukulan benda
keras berkali-kali. Di sela-sela pahanya ada bercak-bercak darah, diduga karena
penganiayaan dengan benda tumpul. Pada bagian yang sama menempel kain putih
yang berlumuran darah. Mayatnya ditemukan dalam keadaan lemas, mengenaskan.
