Tipologi
yang Berdasarkan Kebudayaan
(Eduard
Spranger)
PEMBAHASAN
A.
Biografi Eduard Spranger
Eduard
spranger adalah seorang filsuf dari Jerman dan juga guru besar Ilmu Filsafat
dan Ilmu Pendidikan di Universitas-Universitas seperti: Leipzig, Berlin,
Tubingen. Spranger lahir di Berlin pada tanggal 27 Juni 1882 dan meninggal di
Tubingen pada tanggal 17 September 1963. Karya utamanya yang mempersoalkan
kepribadian manusia ini ialah: Lebensformen Psychologie und Ethik der
Personlichkeit.
B. Pokok-pokok Teori
Spranger
Pokok
pokok pikiran Spranger mengenai kepribadian manusia singkatnya adalah sebagai
yang dikemukakan berikut ini.
1.
Dua Macam Roh (Gest)
Pertama-tama
Spranger membedakan adanya dua macam roh (Geist), yaitu:
a.
Roh subyektif atau roh individual (subjective Geist, individuelle Geist), yaitu
roh yng terdapat pada manusia masing-masing (individual).
Roh
individual ini merupakan struktur yang bertujuan:
1)Roh
individual itu merupakan darakan struktur, karena roh individual itu
harus dapat dipahami kalau ditinjau sebagai anggota daripada struktur yang
lebih tinggi, yaitu kebudayaan.
2)Roh
individual itu bertujuan. Adapun tujuannya yaitu mencapai atau menjelmakan
nilai-nilai tertentu, dan karena itu juga hanya dapat dipahami dengan jalan
memahami sistem nilai-nilai itu. Struktur yang lebih tinggi atau sistem
nilai-nilai itu ialah roh obyektif.
b.
Roh obyektif atau roh supra-individual, atau kebudayaan (Objektive Geist, Uber
individuelle Geist, Kultur), yaitu roh seluruh umat manusia, yang dalam
konkretnya merupakan kebudayaan yang telah terjelma dan berkembang selama
berabad-abad bersama manusia-manusia individual.
2.
Hubungan antara Roh Subyektif dan Roh Obyektif
Roh
subyektif dan roh obyektif itu berhubungan secara timbal balik. Roh subyektif
atau roh individual, yang mengandung nilai-nilai yang terdapat pada
masing-masing individu, dibentuk dan dipupuk dengan acuan roh obyektif artinya
roh individual itu terbentuk dan berkembang dengan memakai roh obyektif
sebagaimana norma.
Roh
obyektif atau kebudayaan itu mengandung unsur-unsur yang telah mendapat
pengakuan umum sebagai hal-hal yang menilai, karena itu diberi kedudukan yang
tinggi dan ditaruh di atas roh individual.
Individu
tak dapat mengelak atau melepaskan diri dari pengaruh roh obyektif, tiap
individu mesti menerima pengaruh dari susunan dan keadaan-keadaan lingkungan
sosial dimana dia hidup. Roh obyektif juga tidak dapat dipisahkan dari roh
subyektif atau roh individual, walaupun roh obyektif itu dalam batas tertentu
dapat dinyatakan di luar jiwa perseorangan, namun tidak dapat dibayangkan lepas
dari (tanpa) roh subyektif. Sebab individu-individulah yang dari abad ke abad
menciptakan nilai-nilai kebudayaan itu. Nilai-nilai kebudayaan akan lenyap jika
sekiranya manusia-manusia sebagai individu tidak mendukungnya serta
menghayatinya. Karena itu bagaimanapun juga roh subyektif dan roh obyektif
saling berhubungan, roh subyektif tetap primer, dan roh obyektif mempunyai
kedudukan sekunder sebab sekalipun manusia sangat tergantung kepada unsur-unsur
kebudayaan yang ada, akan tetapi dia tidak hanya pasif menerima saja, melainkan
dia juga aktif dan kreatif. Manusia menerima kebudayaan yang telah ada dan mengembangkan
kebudayaan itu dengan penciptaan-penciptaan baru. Jadi manusia sebagai
pendukung roh subyektif dalam hubungannya dengan kebudayaan tempat dia ada
seperti juga pepatah jawa: “Ngangsu apikulan warih” (mengambil air dengan
mempergunakan air sebagai pikulan).
3.
Lapangan-lapangan Hidup
Kebudayaan
(kultur) oleh Spranger dipandang sebagai sistem nilai-nilai, karena kebudayaan
itu tidak lain adalah kumpulan nilai-nilai kebudayaan yang tersusun atau diatur
menurut struktur tertentu. Kebudayaan sebagai system atau struktur nilai-nilai
ini oleh Spranger digolong-golongkan menjadi enam lapangan nilai
(Wertegebieten).
Keenam
lapangan ini atau lapangan hidup itu masih dikelompok-kelompokkan lagi menjadi
dua kelompok, yaitu:
a.
Lapangan-lapangan nilai yang bersangkutan dengan manusia sebagai individu, yang
meliputi empat lapangan nilai, yaitu:
1)
Lapangan pengetahuan (ilmu teori)
2)
Lapangan ekonomi
3)
Lapangan kesenian
4)
Lapangan keagamaan
b.
Lapangan-lapangan nilai yang bersangkutan dengan manusia sebagai anggota
masyarakat. Lapangan-lapangan ini menyangkut manusia dengan kekuatan cinta
(Macht der Liebe) dan cinta akan kekuasaan (Liebe zur Macht). Kelompok ini
mencakup dua nilai, yaitu:
1)
Lapangan kemasyarakatan
2)
Lapangan politik
Jadi
menurut Spranger dalam kebudayaan itu terdapat adanya enam macam lapangan
nilai, atau yang disebut juga bentuk-bentuk kehidupan (Lebensformen).
C.
Tipologi Spranger
1.
Enam Tipe Manusia
Roh
subyektif, sebagai struktur atau system nilai-nilai dalam masing-masing
individu yang terbentuk dan berkembang oleh pengaruh-pengaruh dasar, pendidikan
dan lingkungan dengan berpedoman kepada roh obyektif sebagai cita-cita yang
harus dicapai atau dijelmakan juga mengandung nilai-nilai kebudayaan seperti
yang telah dikemukakan di atas itu. Walaupun roh subyektif itu mengandung
keenam nilai kebudayaan itu, namun dalam kenyataannya kerap kali hanya salah
satu nilai sajalah yang dominan. Dan nilai yang dominan inilah yang memberi
corak atau bentuk kepada kepribadiannya.
Dengan
berdasarkan kepada dasar bahwa ada enam nilai kebudayaan yang ada pada tiap
individu, dan kenyataan bahwa biasanya hanya salah satu saja yang dominan itu,
maka sampailah Spranger kepada pengolong-golongan manusia menjadi enam golongan
atau enam tipe. Dalam hal ini haruslah diingat, bahwa tipe-tipe yang
dikemukakan oleh Spranger itu hanyalah merupakan tipe-tipe pokok atau tipe-tipe
ideal (Grundtypen atau Idealtypen), artinya tipe-tipe yang hanya ada dalam teori,
dan tak akan dijumpai dalam kenyataan kehidupan. Akan tetapi menurut Spranger,
dengan tipe-tipe ideal itu orang dapat cepat menempatkan individu-individu yang
dihadapinya paling dekat ke golongan atau tipe yang mana. Tipe-tipe manusia
menurut Spranger itu secara singkat dapat diikhtisarkan sebagai table berikut
ini (lihat tabel 16)
Tabel
16. Ikhtisar TIpe-tipe Manusia Menurut Spranger
|
No
|
Nilai
kebudayaan yang dominan
|
Tipe
|
Tingkah
laku dasar
|
|
1.
2.
3.
4.
5.
6.
|
Ilmu
pengetahuan
Ekonomi
Kesenian
Keagamaan
Kemasyarakatan
Politik/Kenegaraan
|
Manusia
teori
Manusia
ekonomi
Manusia
estetis
Manusia
agama
Manusia
social
Manusia
kuasa
|
Berpikir
Bekerja
Menikmati
keindahan
Memuja
Berbakti/berkorban
(ingin)
berkuasa/memerintah
|
2.
Pencandraan Tipe-tipe
Dalam
bukunya Lebensformen Spranger memberikan pencandraan (deskripsi)
masing-masing tipe itu secara luas. Akan tetapi kiranya akan terlalu jauhlah
kalau di sini disajikan uraian Spranger tersebut sampai mengunsur.
Secara
garis besar dapatlah dikemukakan hal yang berikut ini. Seseorang itu corak
sikap hidupnya ditentukan oleh nilai kebudayaan mana yang dominan, yaitu nilai
kebudayaan mana yang olehnya dipandang sebagai nilai yang tertinggi (nilai yang
paling bernilai). Ia akan memandang segala sesuatu, jadi juga nilai-nilai
kebudayaan yang lain, dengan kacamata nilai yang dihargainya paling tinggi itu,
yaitu dari kacamata nilai-nilai dominan itu, sehingga nilai-nilai kebudayaan
yang lain itu akan diwarnai juga oleh nilai yang dominan. Di bawah ini
diberikan secara singkat pencandraan tipe-tipe tersebut.
a.Manusia
Teori
Seorang
manusia teori adalah seorang intelektualis sejati, manusia ilmu. Cita-cita
utamanya ialah mencapai kebenarannya dan hakikat daripada benda-benda. Banyak
kali motifnya mengusahakan ilmu pengetahuan itu hanya semata-mata ilmu
pengetahuan tersebut tanpa mempersoalkan faedah atau hasilnya; bagi orang-orang
golongan tipe ini berlakulah semboyan : La Science pour la science.
Tujuan
yang dikejar oleh manusia teori adalah pengetahuan yang obyektif, sedangkan
segi lain seperti misalnya soal-soal moral, keindahan, dan sebagainya terdesak
ke belakang. Ia adalah ahli pikir yang logis, dan memiliki
pengertian-pengertian yang jelas serta membenci segala bentuk kekaburan. Dalam
kehidupan sehari-hari ia adalah seorang pecinta kebenaran, konsekuen, dan nuchter.
Jika sekiranya seorang guru besar termasuk tipe ini, maka dia akan memandang
bahwa pekerjaan memberi kuliah itu akan menghambat kemajuannya dalam studi dan
research. Jika sekiranya seorang ayah termasuk golongan tipe ini, maka ia akan
menganggap bahwa bersenda gurau dengan anak-anaknya adalah suatu perbuatan yang
membuang-buang waktu dan menghambat studinya.
Sikap
terhadap nilai-nilai yang lain pun terpengaruh oleh nilai-nilai teori itu:
-
Ia asing terhadap utilisme yang menjadi pedoman dalam lapangan ekonomi, kurang
mengindahkan kesenangan hidup dan kurang menghargai kekayaan, memang dia
mengejar kekayaan, akan tetapi bukan kekayaan akan harta benda, melainkan
kekayaan akan pengetahuan yang benar.
-
Manusia teori tidak menaruh perhatian kepada masalah keindahan; sebagai manusia
teori dia menghendaki hal-hal yang berlaku umum dan obyektif, sedangkan
seniman-seniman justru menghendaki hal-hal yang individual, mungkin juga dia
mengembangkan rasa keindahannya, akan tetapi dalam bentuk misalnya ilmu ukur
atau keseragaman daripada alam.
-
Jika sekiranya manusia teori itu tidak sering terhadap keagamaan, maka besar
kemungkinannya dia akan meninjau masalah keagamaan itu secara rasionalistik,
disini akan kita temui apa yang disebut “amor dei intelectualis”.
-
Juga perhatiannya terhadap masyarakat tidak besar. Seringkali bersikap masa
bodoh terhadap lingkungan sosialnya, kalau dia bergaul maka akan dipilihnya
orang-orang yang sepaham, atau setidak-tidaknya orang-orang dari golongan
cendekiawan, sehingga pergaulannya itu dipandangnya berguna juga bagi kemajuan
studinya.
-
Sikapnya terhadap politik pun tidak berbeda dengan sikapnya terhadap nilai-nilai
yang lain, dia tidak ingin berkuasa, tidak giat. Kalau berbuat paling-paling
dia mengeritik atau melakukan polemic secara teoritis.
b.
Manusia Ekonomi
Orang-orang
yang termasuk golongan manusia ekonomi ini selalu kaya akan gagasan-gagasan
yang praktis, kurang memperhatikan bentuk tindakan yang dilakukannya, sebab
perhatiannya terutama tertuju kepada hasil dari pada tindakannya itu, hasilnya
bagi dirinya sendiri. Manusia golongan ini akan menilai segala sesuatu hanya
dari segi kegunaannya dan nilai ekonominya, dia bersikap egosentris, hidupnya
dan kepentingannya sendirilah yang penting, dan orang-orang lain hanya menarik
perhatiannya selama mereka masih berguna baginya, penilaian yang dikemukakannya
terhadap orang lain, yang dikenakannya terhadap sesama manusia, terutama
didasarkan kepada kemampuan kerja dan prestasinya.
Sikap
jiwanya yang praktis itu memungkinkan dia dapat mencapai banyak hal di dalam
hidupnya, dia mengajar kekayaan, dan dengan kekayaannya itu dia akan mencapai
yang diinginkannya.
c.
Manusia Estetis
Manusia
estetis menghayati kehidupan seakan-akan tidak sebagai pemain, tetap sebagai
penonton, dia selalu seorang impresionis, yang menghayati kehidupan secara
pasif, disamping itu dapat juga dia seorang ekspresionis, yang mewarnai
segala kesan yang diterimanya dengan pandangan jiwa subjektifnya.
Manusia
estetis juga berkecenderungan kearah individualism, hubungan dengan orang-orang
lain kurang kekal. Apabila dia tidak asing dari keagamaannya itu mungkin akan
memuncak pada pendewasaan terhadap keselarasan dalam alam. Baginya yang nomor
satu adalah keindahan.
d.
Manusia Agama
Menurut
Spranger inti dari pada hal keagamaan itu terletak dalam pencarian terhadap
nilai tertinggi dari pada kebenaran ini, siapa yang belum mantap akan hal ini
belumlah mencapai apa yang seharusnya dikejarnya, dia belum mempunyai dasar
yang kuat bagi hidupnya. Sebaliknya siapa yang sudah mencapai titik tertinggi
itu akan merasa bebas, tentram dalam hidupnya.
Bagi
seorang yang termasuk golongan tipe ini segala sesuatu itu diukur dari segi
artinya bagi kehidupan rohaniah kepribadian, yang ingin mencapai keselarasan
antara pengalaman batin dengan arti dari pada hidup ini.
e.
Manusia Sosial
Sifat
utama daripada manusia golongan tipe ini adalah besar kebutuhannya akan adanya
resonansi dari sesama manusia, butuh hidup di antara manusia-manusia lain dan
ingin mngabdi kepada kepentingan umum. Nilai yang dipandangnya sebagai
nilai yang paling tinggi adalah “cinta terhadap sesama manusia”, baik tertuju
kepada individu tertentu maupun yang tertuju kepada kelompok manusia.
f.
Manusia Kuasa
Manusia
kuasa bertujuan untuk mengejar kesenangan dan kesadaran akan kekuasaannya
sendiri, dorongan pokoknya adalah ingin berkuasa, semua nilai-nilai yang lain
diabadikan kepada nilai yang satu itu. Kalau manusia ekonomi mengejar
penguasaan akan benda-benda, maka manusia kuasa mengejar penguasaan atas
manusia.
3.
Diferensiasi Tipe-tipe
Keenam tipe yang baru saja dikemukakan pencandraannya itu adalah tipe-tipe
pokok (Grundtypen). Spranger tidak berhenti dengan mengemukakan tipe-tipe pokok
itu saja, tapi dia masih mengemukakan diferensiasi tipe-tipe dan kombinasi
tipe-tipe itu.
a.
Diferensiasi tipe-tipe
Pada
masing-masing tipe masih dapat ditemukan adanya variasi lagi, yaitu berdasarkan
kepada komponen-komponen yang paling menentukan dalam tipe tersebut. Misalnya
saja, manusia teori masih lagi dapat dibedakan adanya tiga variasi,
yaitu:
1)
Manusia teori empiris,
Faham
Empirisisme adalah pencarian kebenaran melalui pembuktian-pembukitan indrawi.
Kebenaran belum dapat dikatakan kebenaran apabila tidak bisa dibuktikan secara
indrawi, yaitu dilihat, didengar dan dirasa. Francis Bacon (1561-1624) seorang
filsuf Empirisme pada awal abad Pencerahan menulis dalam salah satu karyanya
Novum Organum: Segala kebenaran hanya diperoleh secara induktif, yaitu melalui
pengalaman dan pikiran yang didasarkan atas empiris, dan melalui kesimpulan
dari hal yang khusus kepada hal yang umum. Empirisisme muncul sebagai akibat
ketidakpuasan terhadap superioritas akal. Paham ini bertolak belakang dengan
Rasionalisme yang mengutamakan akal. Tokoh-tokohnya adalah John Locke
(1632-1704); George Berkeley (1685-1753); David Hume (1711-1776). Kebenaran
dalam Empirisme harus dibuktikan dengan pengalaman. Peranan pengalaman menjadi
tumpuan untuk memverifikasi sesuatu yang dianggap benar. Kebenaran jenis ini
juga telah mempengaruhi manusia sampai sekarang ini, khususnya dalam bidang
Hukum dan HAM.
2)
Manusia teori sebagai rasionalis
Faham
Rasionalisme adalah paham yang menyatakan kebenaran haruslah ditentukan melalui
pembuktian, logika, dan dan analisis yang berdasarkan fakta. Paham ini menjadi
salah satu bagian dari renaissance atau pencerahan dimana timbul perlawanan
terhadap gereja yang menyebar ajaran dengan dogma-dogma yang tidak bisa
diterima oleh logika. Filsafat Rasionalisme sangat menjunjung tinggi akal
sebagai sumber dari segala pembenaran. Segala sesuatu harus diukur dan dinilai
berdasarkan logika yang jelas. Titik tolak pandangan ini didasarkan kepada
logika matematika. Pandangan ini sangat popular pada abad 17. Tokoh-tokohnya
adalah Rene Descartes (1596-1650), Benedictus de Spinoza – biasa dikenal:
Barukh Spinoza (1632-1677), G.W. Leibniz (1646-1716), Blaise Pascal
(1623-1662).
3)
Manusia teori sebagai kritisme
Kritisisme adalah
filsafat yang memulai perjalanannya dengan terlebih dulu menyelidiki kemampuan
rasio dan batas-batasnya. Filsafat kritisisme adalah faham yang mengkritik
terhadap faham Rasionalisme dan faham Empirisme
b.
Kombinasi tipe-tipe
Seperti
telah dikemukakan, keenam tipe yang telah dibicarakan itu adanya hanya di dalam
teori dan tidak kita jumpai dalam kehidupan praktis. Dalam kenyataannya, jadi
dalam kehidupan praktis, yang bisa kita jumpai justru kombinasi dari tipe-tipe
teori dan tipe keagamaan, tipe teori dan tipe ekonomi, dan sebagainya, ataupun
kombinasi lebih dari dua tipe.
D.
Arti Teori Spranger
1.
Teori Spranger walupun banyak mengandung kelemahan, namun dalam kenyataannya
besar pengaruhnya, banyak ahli-ahli yang lebih kemudian mengambil konsep
Spranger sebagai bahan penyusunan konsepsinya. Pengaruh itu tidak terbatas pada
lapangan psikologi kepribadian saja, tetapi meluas ke lapangan psikologi yang
lain-lain, seperti misalnya pada lapangan psikologi pemuda dan lebih dari itu
saja meluas ke lapangan pendidikan
2.Diskusi
segi positifnya itu teori Spranger juga tidak luput dari kelemahan-kelemahan.
a.
Tipologi Spranger itu disusun secara dedukatif. Hasil dari pemikiran dedukatif
itu adalah baik sekali, akan tetapi sebaiknya deduksi tersebut diverifikasikan
secara induktif dengan data empiris, dan hal ini tidak dilakukan oleh Spranger
b.
Deduksi Spranger mengenai Lebensformen itu didasarkan pada kegiatan rohani
(Geistakt), akan tetapi hasil konsepsinya, yakni Lebensformen, ternyata
bertinjauan statis. Dengan demikian Lebensformen itu sukar dikenakan kepada
kepribadian-kepribdian manusia dalam kehidupan praktis, yang mempunyai dasar
dinamis. Lebensformen itu lebih mengatakan tentang “bagaimana individu itu
adanya” daripada mengatakan tentang “apa yang dikerjakan atau apa yang dapat
dikerjakan oleh individu itu”.
KESIMPULAN
DAN SARAN
A.
Kesimpulan
Berdasarkan
kajian pustaka yang telah penyusun temukan mengenai motivasi maka dapat
disimpulkan sebagai berikut :
- Eduard Spranger adalah seorang filsuf dan psikolog, sekaligus tokoh utama aliran psikologi yang berdasarkan pada ilmu pengetahuan kerohanian.
- Pokok–pokok pikiran Spranger mengenai kepribadian manusia adalah seperti berikut: dua macam roh (gest), hubungan antara roh subjektif dan roh objektif, lapangan – lapangan hidup, dan tipologi spranger .
- Spranger membedakan adanya dua macam roh yaitu roh subjektif atau roh individual yang memiliki struktur yang bertujuan dan roh objektif atau kebudayaan.
- Roh subjektif dan roh objektif memiliki hubungan timbal balik karena roh subjektif dibentuk dan dipupuk dengan acuan roh objektif
- Tipologi Spranger mengelompokkan manusia menjadi enam tipe berdasarkan nilai yang paling dominan, yaitu manusia teori, manusia ekonomi, manusia estetis, manusia agama, manusia sosial, dan manusia kuasa.
- Tipologi Spranger memiliki kelemahan–kelemahan, diantaranya tipologi Spranger disusun secara dedukatif dan Lebensformen itu didasarkan pada kegiatan rohani. Akan tetapi walaupun memiliki kelemahan, banyak ahli yang kemudian memakai konsep Spranger untuk bahan konsepsinya
B.
Saran
Setelah
penyusun menyusun makalah ini penyusun menjadi mengetahui tentang tipologi
Spranger yang membagi manusia menjadi enam tipe. Tetapi keenam tipe tersebut
jarang dapat kita temui dalam kehidupan nyata, karena biasanya yang kita jumpai
adalah kombinasi dari tipe–tipe tersebut. Karena setiap tipe memiliki kelemahan
dan kelebihan, maka kita dapat mengambil segi
DAFTAR
PUSTAKA
Suryabrata,
Sumadi. 2008. Psikologi Kepribadiaan. Jakarta: Raja Grafindo Persada
andan
zoe kamis 7 maret 2013
www.google.com
keyword “tipologi spranger”
www.ahamadbudi.2991.blogspot.com
www.ahamadbudi.2991.blogspot.com
Posted
by awanadec99
